LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Bab 18 (Season 3)


__ADS_3

SMA Pelita Harapan dikejutkan dengan kedatangan Alya dan Calky yang saling bergandengan. Bella yang baru selesai dari masa izinnya karena 'sakit' dibuat kaget akan hal tersebut. Ia tidak akan pernah senang jika mereka berdua baikan.


"Seharusnya kita seperti ini saat pertama kali bertemu," ujar Cally sambil menyengir.


"Kamu menjaga jarak dariku!" dengkus Alya kesal


"Gie kesal lo mengabaikan kehadiran gue saat di bandara."


"Hey, kamu tau nggak, aku saudara paling exitecd saat tahu kamu bakalan kembali ke Indonesia."


Cally tersenyum. "Maaf karena sudah salah paham padamu," ucap Cally dengan tulus.


"Aku juga minta maaf, tidak seharusnya aku secuek itu."


Mereka berdua tertawa saat mengingat masa yang baru saja berlalu. Konyol memang, saling membenci di saat ada kepeduliaan satu sama lain. Namun, tertutup oleh gengsi semata.


Mereka berdua masuk ke kelas sambil tertawa bersama, seluruh penghuni kelas dibuat melongo oleh keduanya. Kemarin mereka tidak seakrab hari ini.


"Selamat pagi semuanya, ada apa dengan wajah kalian?" sapa Cally.


"Oh iya, pagi ini kami memutuskan akan satu meja berdua, so Jely lo bisa duduk di sebelah Reva ya." gadis dengan bingkai kaca mata tebal menganguk patuh.


"Sejak kapan kalian seakrab itu?" Riski bertanya untuk mengurangi kadar penasarannya.


"Sejak kapan ya?" Cally tertawa saat menjeda kalimatnya.


Bunyi bel pelajaran pertama bergema, mereka segera duduk di kursi masing-masing sambil menunggu guru masuk.


"Selamat pagi, anak-anak," ucap Bu Tatik dengan ramah.


"Pagi, Bu!" Sambut mereka dengan serentak.


"Kumpulkan PR kalian dan saya tidak menerima alasan apapun."

__ADS_1


Wajah Cally dan beberapa murid yang tidak mengerjakan tugas terlihat pucat. Apalagi Bu Tatik dikenal ramah dan garang secara bersamaan.


"****** gue!" rutuk Cally dengan gelisah.


"Makanya tugas tuh dijerjain bukan diliatin." ceramah Alya singkat.


"Lo kan tahu sendiri, meskipun gue bersemedi sepuluh tahun, tetep aja nggak bakalan bisa ngerjsin PR nya, Susah!"


"Kalau bersemedi ya mana bisa kamu siapin, nih!" Cally menyerahkan buku latihan milik Cally yang sudah ia kerjakan.


"Terima kasih kembaran, lo terbaik di hidup gue."


Alya tersenyum, ia kembali melanjutkan kegiatannya. Dari sisi kiri Dirga memperhatikan keduanya dengan saksama. Ia tersenyum mengetahui keduanya sudah baikan.


"Lo kenape senyam-senyum, kesambet setan lo!" Bisik temannya bernama Rangga. Dirga menatapnya sambil menyengir kuda.


"Gue bahagia, akhirnya Alya sama Cally baikan."


"Entahlah, hati gue menginginkan Alya tapi sudut hati yang lain nama Cally sudah terkunci di sana."


Rangga mengernyit bingung lalu tersenyum sinis. "Dasar pria brengsek lo!"


"Terserah lo mau bilang gue ini apaan, lo tau? Terkadang hati nggak bisa memilih antara satu sama yang lain."


"Itu mah elo bukan orang lain." decak Rangga tak habis pikir.


"Kalian berdua! Maju ke depan dan jelaskan apa yang baru saja saya ajarkan." Bu Tatik sudah mendengar bisik-bisikan mereka sedari tadi. Namun, lebih memilih diam sampai ia selesai.


"Sekarang Bu?" tanya Rangga.


"Besok lusa," ucap Bu Tatik sambil tersenyum.


"Wah Ibu selain cantik, baik rajin beramal jugโ€”"

__ADS_1


"SEKARANG!" Perintah Bu Tatik dengan garang. Keduanya sampai terlonjak kaget dari kursi mereka.


"Be ... be ... baik, Bu."


Mereka berdua berjalan ke depan kelas dengan perasaan campur sari.


"Sekarang kerjakan soal yang saya tunjukkan. Bu Tatik menyuruh keduanya mendekat ke mejanya lalu menyerahkan satu soal pada keduanya.


Dirga hampir mimisan sedangkan Rangga sesak napas melihat susunan kalimat yang bahkan tidak ia mengerti sama sekali.


Mereka berdua melihat wajah Bu Tatik secara bergantian dengan kertas yang mereka pegang.


"Apa di wajah saya ada jawabannya?" tanya Bu Tatik dengan garang.


Keduanya menganguk lalu menggeleng saat raut wajah guru tersebut berubah seram.


"Lo yakin, kita masih hidup saat selesai mengerjakan tugas ini!" bisik Rangga dengan sangat pelan.


"Kita lihat aja nanti, kalau pun kita mati, statusnya syahid." Dirga dan Rangga segera menuju papan tulis.


Bel pergantian pelajaran pun berbunyi, keduanya sudah tersenyum senang. Namun, segera lenyap saat mendengar mantra beracun dari Bu Tatik.


"Selesaikan PR nya dan lihat, dibalik kertas masih ada lima tugas yang harus kalian selesaikan.


Bu Tatik segera keluar dari sana dengan senyum puas mengembang.


Sedangkan keduanya terduduk pasrah di depan papan tulis.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


***Halo semuanya... Jadi begini kenapa aku jarang update. Pertama karena sedang menulis novel lain. Kedua aku kurang semangat menulis karena sedang dilanda down. Tapi aku akan berusaha untuk lebih sering up ke depannya. Aku nggak berharap vote kalian karena setiap cerita punya rezeki masing-masing. Aku cuma butuh dukungan kalian dan terima kasih sudah mendukungku meskipun aku jauh dari kategori author yang baik dan rajin menabung up.


Sekali lagi terima kasih buat kalian semuanya*. ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜**

__ADS_1


__ADS_2