
"Kau tau itu baru permulaan Ren, ia akan merasakan yang lebih sakit lagi dari pagi ini." ucapnya sambil menerawang jauh.
"Ok ok rileks dude. Untuk sekarang kuta lupakan dulu istrimu karena sebentar lagi kita akan meeting dengan klien yang dari Singapura."
Altaf pun menganguk mengerti dan kembali fokus. Di tempat lain Merisa sedang uring-uringan karena sudah lama tidak bertemu dengan menantunya.
"Sayang aku kangen sama Elena, nanti kamu suruh tu Altaf makan malam di rumah" ucap Merisa pada suaminya.
"Malam ini Altaf tidak bisa sayang. Ia sibuk untuk beberapa hari ke depan." ucap suaminya memberi penjelasan.
Merisa pun merajuk pada suaminya. Charli yang melihat itupun tak tega. Ia tahu bahwa istrinya sangat menyayangi Elena karena sejujurnya ia juga sangat menyukai menantunya itu.
"Begini saja, kita yang akan mendatangi rumah mereka minggu depan. Bagaimana?" tanya suaminya dan mendapat anggukan antusias ala istri tercintanya.
Di rumah lainnya Elena sedang menahan kesakitan pada kepala nya. Sudah beberapa hari ini ia mengalami sakit kepala yang luar biasa sakitnya.
Ia mengambil handphone nya dan segera memanggil nomor Anna.
"Iya ada apa El?" tanya sebuah suara di seberang sana.
"Ann akhir-akhir tubuhku sering bereaksi tapi hanya sebatas susah menggerakkan anggota badan ku saja. Tapi kepala ku juga sangat sakit akhir-akhir ini Ann." jelas Elena pada Anna.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan menjemputmu kesana ya El. Kita periksa saja hari ini." putus Anna setelah mendengar keluhan Elena.
"Baiklah Ann, terima kasih." ucapnya pelan
"Sayang semoga kamu akan baik-baik saja ya. Mama akan berjuang agar kamu tidak terluka dengan penyakut mama." setetes air mata Elena jatuh membasahi pipinya. Tangannya berhenti mengelus perut ratanya karena ia mendengar bel rumahnya berbunyi.
"Apa sudah siap?" tanya Anna.
"Sudah, ayo."
Mereka pun menuju rumah sakit tempat Anna bekerja. Kalian pasti bertanya kenapa Anna bisa keluar masuk rumah sakit sesuka hatinya. Sebenarnya rumah sakit itu milik papanya. Mereka pun sudah sampai di rumah sakit dan segera melakukan serangkaian pemeriksaan lebih lanjut mengenai perkembangan penyakit Elena. Dokter yang memeriksa Elena pun terkejut saat mengetahui kondisi Elena saat ini. "Maaf buk Elena apa anda sedang mengandung?" tanya dokter tersebut pelan.
"Ia dokter." ucap Elena pelan. Anna yang mendengar itupun kaget bukan main.
"Ann semuanya sudah ditentukan oleh yang kuasa. Kita hanya mampu menerimanya dengan ikhlas maka semuanya akan berjalan dengan lancar." ucap Elena menenangkan Anna.
"Anakku tidak bersalah. Terlalu kejam untuk membunuhnya bahkan ia belum melihat dunia ini." Elena merasa terlalu kejam bila untuk menyelamatkan nyawanya ia harus kehilangan bayi nya.
Anna tidak tahu harus berkata apa lagi kalau Elena sudah memutuskan.
"Baiklah tapi ingat ya kamu harus sering chek dan control." Anna memeluk Elena dengan sayang.
__ADS_1
"Mengapa orang sebaik kamu harus mengalami ini semua." batin Anna monolog.
Siang pun sudah berganti malam. Elena masih setia menunggu suaminya pulang yang sampai pukul 23:00 pun belum ada tanda-tanda kepulangan suaminya.
Elena terbangun pukul 23:30 Terdengar suara mobil suaminya memasuki garasi. Elena segera membuka pintu dan tersenyum hangat menyambut suaminya. Altaf yang disambut pun merasa geram dan muak melihat Elena di depannya.
"Aku sudah bilang tidak usah menunggu ku pulang. Apa kau sekarang menjadi tuli hah!!" hardik Altaf dengan marah.
"Malam ini dan seterusnya kau tidur di kamar tamu." ucapnya dingin dan berlalu namun langkah terhenti sejenak.
"Mas. Apa aku ada berbuat salah sama kamu? Kenapa kamu berubah sama aku. Kita tidak ada masalah selama ini. Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tangis Elena pun pecah.
Altaf berdecak sinis.
"Tch dengar baik-baik Elena Aurora Calysta wanita yang aku cintai hanya Syeilla Aretha Zayna bukan dirimu." ucapnya dingin dan kembali melanjutkan langkahnya dan kembali terhenti.
"Jadi selama ini kamu tidak pernah mencintaiku? lalu apa semuanya yang sudah kita lalui bersama selama ini semuanya hanya sandiwara?" tanya Elena parau.
"Apa kau pikir aku sudah gila. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintai wanita sepertimu." ucap Altaf lebih tajam dari mata pedang.
------
__ADS_1
Haduhhhh dasar Altaf.