
Maniknya menatap sosok mungil itu dari kejauhan. Tekadnya sudah bulat. Ia akan segera melenyapkan anak dari pria yang sangat ia benci.
"Aiden, saatnya kamu merasakan pe deritaanku selama ini." desisnya.
Ia memegang sebuah pisau yang ia sembunyikan di tangan kirinya. Pisau itu terselip di antara jubah hitam yang ia kenakan. Hanya sinar rembulan yang menjadi penerang pada malam itu karena Alya masih berada di taman seorang diri.
Sepanjang hari ia merenung, berharap menemukan sebuah solusi untuk hubungannya dengan Dirga yang sudah retak. Ia tidak ingin salah mengambil langkah dengan menerima Nevan. Jika hatinya masih terpaut pada Dirga, maka betapa jahat karena menyakiti pria sebaik Nevan. Ia tidak akan tega melakukannya.
Sebuah panggilan membuat lamunannya buyat. Ia merogoh sakunya lalu menatap layar dengan senyum kecil. Nama Ibunya tertera di sana. Ia mengangkat sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya, Ma. Ini Alya mau pulang," ucapnya.
Di seberang perasaan Syeilla was-was. Ia tidak tenang. Ia merasa seperti akan terjadi sesuatu pada putrinya.
Alya menghela napas sejenak lalu memasukkan kembali ponselnya. Ia beranjak dari kursi taman dan berjalan pelan menuju parkiran. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Pria itu menyeringai saat melihat Alya sudah melangkah menjauh. Ia melirik sekitaran taman dan sepi. Maka inilah momen yang tepat baginya menuntaskan segala dendam.
"Kenapa?" tanya Alya dengan suara lirih.
__ADS_1
"Karena aku membencimu!"
Dirga pergi dari sana dengan senyuman puas. Kini dendamnya terbalas. Alasan Dirga mendekati Alya hanya untuk membalaskan dendam ibunya. Ia anak yang di angkat oleh pasangan yang baik hati yang sekarang ria sebut ibu.
"Mama, apa Mama bisa bahagia sekarang?" tanyanya sebelum ia menghilang dibalik dinding.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Kalem kalem jangan war ๐๐ nanti akan ada penjelasannya di next episode wkwkwkwk...
__ADS_1
Oh iya jangan lupa baca juga karyaku judulnya Terpaksa Menjadi istri CEO di Noveltoon. InsyaAllah seru!