
Setelah divonis mengidap penyakit mematikan, Elena banyak berdiam diri di apartemennya. Sesekali ia menghela napas meratapi nasibnya yang amat jauh dari kata bahagia.
"Tuhan, apakah sesulit ini menuju kebahagiaan," ucapnya lirih.
"Apa cobaan yang selama ini belum juga cukup Tuhan." lirih Elena kembali sambil menangis.
Malam ini tangisnya pecah sampai ia kelelahan dan tertidur. Elena bukan tipe orang yang lemah, meskipun kenyataan pahit sedang menghantam kehidupannya. Karena hidupnya sudah di tempa dengan kuat semenjak ia berusia 20 tahun. Meski awalnya sempat menyalahkan takdir sang maha pencipta. Tapi lambat laun Elena mulai menerima kondisinya. Ia percaya bahwa itulah cara Tuhan menyayanginya.
Pagi itu di ruangannya Elena sedang berkutat dengan komputer dan berkas-berkasnya hingga suara interkom mengintrupsi untuk menghentikan kegiatannya.
"Masuk keruanganku sekarang!" teriak suara dari seberang, siapa lagi kalau bukan bosnya.
"Baik, Pak." balas Elena sopan Berjalan menuju ruang bosnya, kemudian ia mengetuk pintu dua kali.
"Masuk!" intruksi sebuah suara dari dalam.
Elena segera masuk dan berdiri dihadapan bosnya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak."
"Bawakan file yang kemaren dari divisi marketing," ujar Altaf datar.
"Baik, Pak." balas Elena dan berlalu keluar.
"Ah, apa Kakak masih marah padaku sampai begitu sangat dingin. Bahkan Kakak seperti tidak mengenaliku padahal dulu kita cukup dekat dulunya.” gumam Elena dengan pelan.
__ADS_1
Elena kembali memasuki ruangan bosnya sambil membawa beberapa laporan dan menaruhnya di meja.
"Elena kapan kau ada waktu luang?" tanya Altaf kini menatap Elena intens.
“Hah.” cengo Elena dengan wajah bodonya tanpa sadar.
"Kau, selain suka menabrak ternyata juga tuli." sarkas Altaf dengan pedas.
"Mm ... maafkan saya, Pak. Saya pikir tadi salah dengar karena telinga saya sedang bermasalah." elak Elena polos.
"Ckck ... jadi bagaimana? Kapan kau ada waktu luang?" tanya Altaf kembali.
"Hari minggu Pak, apa saya akan dilemburkan?" tanyanya penasaran.
"Mengapa harus saya, Pak" tanya Elena akhirnya.
"Jika kau membantah dan bertanya lebih jauh lagi aku akan memecatmu." ancam Altaf dengan dogkol.
"Hehe baiklah Pak," ujar Elena cengengesan tanpa berkomentar lebih dan berlalu keluar. Sepeninggalan Elena Altaf tersenyum sinis, ia akan melancarkan aksinya secara perlahan dan akan ia mulai dari malam ini.
"Kena kau Elena Aurora Calysta." desisnya sambil menyeringai iblis.
Tepat pada hari Sabtu, Altaf datang ke apartemen Elena untuk menjemput gadis itu. Seperti ajakan Altaf tempo hari, Elena mengatakan bahwa ia ada waktu luang malam minggu sehingga Altaf memutuskan untuk menjemputnya.
__ADS_1
"Dimana kau, aku sudah sampai di parkiran. Cepat turun." titah Altaf marah sedangkan yang di telpon hanya mengurut dadanya sambil mengucapkan sesuatu.
"Sabar, sabar, sabar."
”Kau kenapa lama sekali." tunjuk altaf kesal.
"Bapak saja yang tidak sabaran." seru Elena tak kalah kesalnya. Elena seolah teringat akan masa lalunya yang kerap bertengkar dengan Altaf saat pria itu berpacaran dengan sepupunya, Syeilla. Namun, kenangan itu pun kini sirna digantikan oleh kebencian.
"Kau, sejak kapan aku jadi bapakmu?" sungut Altaf makin kesal. enak saja di panggil bapak, memangnya dia sudah setua itu apa.
"Iya saya harus memanggil Bapak dengan sebutan apa? Balas Elena sambil memutar bola matanya.
"Kalau di luar panggil saja namaku," ucap Altaf memberitahu.
"Baiklah Altaf." balas Elena karena malas berdebat dengan lelaki tersebut.
Tanpa memperpanjang perdebatan diantara mereka berdua, mobil Altaf melaju membelah jalanan menuju destinasi mereka. Altaf membawa Elena ke restoran mewah yang ada di Singapura. Saat memasuki restoran tersebut banyak mata memandang nereka kagum. Di mata mereka pasangan dua sejoli ini sangat serasi, karena Altaf sangat tampan dan Elena juga sangat cantik.
Banyak mata para wanita mencuri pandang pada Altaf. Bahkan tidak segan-segan juga mereka mengedipkan mata genit saat bertemu pandang dengan mata Altaf. Melihat itu Altaf hanya berdecih sinis.
“Cih dasar wanita murahan." gumamnya.
----
__ADS_1