
Pagi yang cerah dengan sepoinya lambaian angin, Dion tidak melihat Auxillia sama sekali. Biasanya wanita itu jam segini sudah berada di kantor. Ia mencari Auxillia bukan karena merasa bersalah, hanya saja tidak biasanya Auxillia telat seeprti sekarang.
Dion terus mondar mandir di di ruangannya namun hingga pukul sembilan Auxillia tidak muncul. Dion berpikir mungkin Auxillia butuh waktu untuk sendiri atau mungkin sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Dion mencoba memakluminya.
Di rumahnya, Auxillia sudah bertekad akan kembali menjadi seorang desainer, sebuah pekerjaan yang sukses melambungkan namanya hingga kancah internasional. Ia akan kembali belajar dengan tekun mengingat tidak semua memori ia ingat saat masih sebagai desainer.
Rose tampak senang dan selalu mendukung apapun keputusan dari putrinya, ia tidak pernah mengekang kebebasan maupun mengenai hal apa yang membuat putrinya nyaman dan bahagia.
"Sayang, mama ada menyimlan buku rancangan kamu, sebelum kamu berangkat ke Indonesia dua tahun yang lalu. Apa kamu mau melihatnya?" tanya Rose dengan senang, tampak Auxillia mengangguk dengan antusias. Ia sudah bertekat akan kembali melambungkan namanya dan membuktikan pada Dion bahwa ia bukan seperti wanita yang ada dalam pikiran kotornya.
"Ini nak." Rose menyodorkan sebuah buku yang sedikit tebal. Auxillia membuka halaman demi halaman dari buku rancangannya yang ternyata sangat luar biasa. Dengan rancangan sebagus ini, tidak heran jika namanya dulu terkenal di beberapa negara termasuk Indonesia.
"Aku mungkin terlihat naif di matamu Dion, tapi aku bukan perempuan bodoh. Lihat dan saksikan saat aku berada dipuncak, apa kau akan sanggup meraihku atau aku yang kembali memohon padamu." Auxillia menutup buku rancangannya dulu dan berjalan meninggalkan ruangannya menuju suatu tempat.
""""""""
__ADS_1
Elka menarik napas dengan lelah, kapan ia akan mengakhiri masa lajangnya yang seolah menjadi kutukan tak berwujud. Jika di ingat, ia anak yang baik dan tidak pernah membantah kepada kedua orang tuannya, lantas siapa makhluk lucknut yang sudah mengutuknya dari belakang.
"Sedang apa?" tanya Ariel saat melihat wajah nelangsa Elka yang menatap jejeran bangunan bertingkat.
"Apa menurutmu kutukan itu nyata?"
Ariel yang mendengar oertanyaan ngaur unfaedah pun mengernyit bingung.
"Apa maksudmu?"
Sebenarnya Ariel sangat ingin tertawa dan menjitak kepala udangnya Elka namun saat melihat raut menyedihkan itu membuat akal busuk Ariel tiba-tiba bangkit.
"Kau benar. Di antara kita semua, hanya kau yang belum memiliki pasangan. Apa tidak sebaiknya kau bertobat sebelum terlambat." ucap Ariel dengan wajah dua riusnya yang membuat Elka bimbang antara harus mempercayainya atau tidak.
"Ah satu lagi, bulan depan aku akan menikah dengan Zia. Acaranya akan diselenggarakan di Indonesia. Kuharap kau sudah memiliki pasangan, ingat bro, sendiri itu menyakitkan. Wajah tampan tapi kalah bersaing di pasaran." kekeh Ariel dan segera meninggalkan Elka sebelum kesadaran pria itu kembali dan menghajarnya.
__ADS_1
"Kau benar, kau!! Kau benar-benar kurang ajar sebagai teman!" teriak Elka saat akal sehat menguasai otak kanannya.
Ariel terkekeh mendengar teriakan Elka yang memekakkan telinga semut yang berjalan dengan malu-malu.
"Huh,,, ingat, orang sabar itu disayang." Elka menyemangati hati dan pikirannya agar tidak terkontaminasi dengan hal-hal yang berbau negatif.
Tetiba Elka ingat quotes andalan eyang buyutnya yang sudah lama meninggal dunia.
Terkadang untuk mendapatkan sebongkah permata, butuh puluhan tahun untuk benar-benar menemukannya. Dan sekarang hatinya senang. Ia mengibaratkan permata itu adalah dirinya.
❤❤❤❤❤
**Elka \= Permata
Ngaku aja kagak lagu bang.. Pakek ngeles segala hahahha...
__ADS_1
Upsss semoga kalian suka**.