
Dua minggu telah berlalu dan nanti malam mertua Elena akan berkunjung ke rumah mereka untuk makan malam. Dan ia sudah diberitahu oleh suaminya tadi pagi.
"Baikkah kita akan berbelanja nanti siang untuk hidangan nanti malam." ucap Elena pada dirinya sendiri.
Akhir-akhir ini Elena sering muntah dan kepalanya berdenyut sakit bukan main hingga beberapa hari belakangan ini ia cepat kelelahan di tambah dengan sikap suaminya yang semakin hari bertambah dingin membuatnya sangat kelelahan lahir dan batinnya. Sebelumnya dokter sudah menyarankan agar Elena tidak terlalu kelelahan karena selain bisa berdampak buruk pada kandungannya juga bisa mempercepat perkembangan penyakitnya. Ia merasakan kembali kepalanya yang berdenyut hebat hingga rasanya mau pecah. Ia merebahkan tubuhnya ke sofa karena tak mampu lagi berdiri. Tiba-tiba pintu rumah terbuka dengan kasarnya.
"Ya ampun kenapa kau masih tiduran di sofa hah!" tegur suara itu dengan keras namun tak lagi tertangkap di indra pendengaran Elena.
Hingga ia merasakan bahunya diguncang oleh seseorang. Ia menarik napas panjang dan membuka matanya untuk menetralkan rasa sakit yang kini terasa lebih sakit lagi. Bibirnya sudah pucat. Ia memandang suaminya dengan mata sayu kemudian pandangannya tertutup. Ia tak mampu melawan sakit itu. Altaf yang melihat itu jadi khawatir dan segera membawa istrinya ke rumah sakit. Elena sudah diperiksa oleh dokter dan ucapan dokter selanjutnya dapat menghentikan kerja jantungnya karena saking syok nya.
"Istri kamu hanya kelelahan Al. Ini wajar karena ia sedang mengandung. Jadi jangan sampai ia melakukan pekerjaan yang berat."
"Apa kamu bercanda, mana mungkin dia bisa mengandung." ucapnya tak percaya.
"Ckck ekspresi macam apa itu. Apa kau tidak senang." tanya Alka bingung.
"Hahaha tentu saja aku senang hanya saja aku baru tau ini." ucapnya tertawa sumbang.
"Mungkin istri kamu mau memberimu kejutan Al. Biasa ibu-ibu hamil suka membuat kejutan." Alka mencoba memberitahu.
Altaf hanya menganguk kecil.
"Sial, Elena memang sudah membuat ku terkejut. Bagaimana bisa aku menerima anak yang lahir dari rahim seorang pembunuh. Haha aku pasti sudah gila." batinnya tertawa aneh.
"Sialan kau Elena, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerimanya. Karena aku tidak ingin mempunyai anak dari wanita pembunuh sepertimu, dasar kau pembawa sial Elena. Aku membencimu. Aku berharap Tuhan mencabut nyawamu."
Altaf meninju samsak yang ada diruang olahraganya dengan sengit. Ia meluapkan kemarahannya pada samsak tersebut. Orang yang mendengar jeritannya dibalik pintu pun tak kuasa menahan tangisnya. Ia memegang dadanya yang teramat nyeri. Suaminya menginginkan kematiannya.
Ia tersenyum getir. "Tanpa kamu minta pun aku akan segera mati mas." ucapnya pilu dan beranjak menuju kamarnya.
__ADS_1
Ia sangat mencintai suaminya. Ia pernah berharap bahwa Altaf akan memaafkannya jika mengetahui ia sedang mengandung. Namun harapan itu jauh dari prediksinya. Nyatanya suaminya sangat membenci bayinya.
"Sayang jika nanti mama tak sempat melihatmu kamu harus berjanji bahwa kelak kamu akan menjadi sosok anak yang kuat." isaknya menangis.
Ia sangat terluka dengan kenyataan ini. Bagaimana bisa takdir kembali kejam padanya. Ia bisa menerima Altaf membencinya tapi ia terluka bila Altaf tak dapat menerima bayi mereka. Ia sangat terluka.
Merisa yang mendengar kabar kehamilan Elena pun sangat bahagia sampai teriak-teriak di rumahnya. Sang suami yang melihat itupun hanya menggelengkan kepalanya.
"Sayang ingat umur, buat apa teriak-teriak begitu." Charli mengingatkan istrinya.
"Elena hamil dad makanya mommy sangat bahagia." ucapnya antusias.
"Benarkah begitu, artinya sebentar lagi kita akan menjadi seorang nenek dan kakek." tanya Charli tampak begitu antusias menyambut calon keluarga mereka.
****
Usia kandungan Elena sudah mencapai tujuh bulan. Ia sudah berjuang selama ini dan sampai saat ini Altaf dan keluarganya belum mengetahui tentang penyakit Elena karena Elena begitu pintar menutupinya. Dan mirisnya sampai sekarang pun suaminya masih bersikap dingin terhadapnya.
"Bukan urusan kamu." jawab Altaf dingin.
"Mas aku sangat lelah dengan kemelut rumah tangga kita. Sekarang ayo kita selesaikan." ucap Elena lemah.
"Kau pikir aku tidak lelah hah! Harus menghadapi wanita sepertimu."
"Aku wanita seperti apa maksudmu mas."
"Kau mau tau hah! Kau itu hanya wanita PEMBUNUH!!" Altaf menekankan kata pembunuh tepat di depan wajah Elena..
"Apa maksud kamu? sudah berapa kali aku katakan bahwa aku tidak pernah membunuh kak Syeilla mas, kenapa kamu terus-terusan menyalahkan aku atas kematiannya?"
__ADS_1
"Tch kau mencoba mengelak brengsek! Kau ingat tunanganku Syeilla, Pada saat itu kami akan menikah tapi kau dengan teganya merenggut dia dariku!!" teriakan Altaf memenuhi gendang telinga Elena.
"Karena wanita sialan sepertimu aku harus kehilangan dirinya." hujamnya dengan dingin.
"Harus bagaimana lagi aku katakan mas, aku tidak pernah membunuh kak Syeilla kenapa tidak ada yang mempercayaiku sama sekali? Aku juga korban disini mas." seru Elena dengan sesak.
“dan sekarang kau merasa sebagai korban! seharusnya kau yang mati bukan dia!!!” Altaf meninju sebuah kaca yang tergantung indah disana.
”Aku memang korban mas. Andai kalian tau kejadian yang sebenarnya.” Elena melangkah menjauh dari sana dengan hati yang terluka. Ia bahkan mengabaikan tangan Altaf yang terluka. namun ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Altaf yang juga sedang menatapnya dengan dingin.
"Aku tidak mungkin membunuh kakakku sendiri mas karena bagiku ia sudah seperti sahabat." terang Elena.
"Apanya yang tidak mungkin! Semua bisa menjadi mungkin karena wanita sepertimu sangat mengerikan!! " ucapnya penuh emosi.
"Kau hanya salah paham mas, aku tidak pernah membunuhnya. Bagaimana mungkin aku membunuh sepupu ku sendiri." Elena menggelengkan kepalanya tanda tak percaya akan semua tuduhan itu.
"Apa kau sekarang mencoba membela diri hah! Jangan pernah mengatakan bahwa Syeilla sepupumu. Aku sangat membencimu!"
"Lantas aku harus apa? Apakah aku harus mengakui sesuatu yang bukan kesalahanku mas." Elena sangat lelah menghadapi situasi ini. Mata nya dipenuhi kekecewaan pada suami yang sangat dicintainya.
"Cih ****** sepertimu bagaimana mungkin mengaku. Kau tau kau bahkan lebih hina daripada Pelacur." teriak Altaf di depan wajah Elena yang sudah pias.
Plakk
"Tutup mulutmu jika kau tidak tau yang sebenarnya terjadi." Elena menampar dan berujar dengan dingin.
"Kau berani-beraninya tangan kotormu menyentuh wajahku, ckck apa yang tidak aku ketahui hah! Bahkan kematian pun tak layak untuk orang sepertimu. Kau tau kenapa? karena kau lebih hina dari kematian."
Altaf berucap dingin penuh penekanan allu berlalu dan meninggalkan Elena dalam kesedihan. Saat ini kondisi Elena sedang tidak dalam keadaan baik. Ia menarik napasnya dengan terputus-putus karena kekurangan oksigen. Ia memejamkan matanya dan kembali membukanya. Merisa dan Charli yang pada saat itu akan berkunjung ke rumah mereka karena merindukan menantu dan calon cucu mereka pun terdiam dibalik dinding. Mereka mendengarkan dengan diam pertengkaran anak dan menantunya.
__ADS_1
"Apa kau juga melihatku seperti itu, sama seperti mereka?" tanya Elena dengan wajah lelahnya yang memancarkan segudang luka.
-------