LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 46


__ADS_3

Semenjak kejadian seminggu yang lalu Aiden semakin membatasi dirinya dengan kaum perempuan, bukan apa-apa hanya saja ia tidak mau jatuh ke jurang yang sama dan menyebabkan istrinya kembali terluka walaupun kenyataannya istrinya lebih pintar dari mereka yang hanya remahan rengginang.


Selain itu ia semakin protektive pada istrinya apalagi saat ini istrinya dalam masa pengobatan secara rutin meskipun mereka tidak tau akan seperti apa kedepannya namun setidaknya mereka sudah berusaha semaksimal mungkin.


"Sayang apa kamu sudah siap?" tanya Aiden.


"Sudah mas"


Syeilla dan Aiden segera keluar dari rumah mereka dan pergi menuju rumah sakit tempat biasa ia dirawat.


"Selamat pagi mbak Syei" sapa perawat yang memang sudah mengenal Syeilla.


"Pagi juga mbak Eli" balas Syeilla sembari tersenyum hangat.


Disana bukan tidak ada yang melirik suaminya. Bahkan banyak wanita yang diam-diam menatap benci ke arahnya karena memiliki Aiden disisinya. Apalagi saat Aiden menyadarinya ia semakin memeluk mesra istrinya di depan mereka.


"Mas kamu nggak mau ke kantor dulu?" tanya Syeilla sambil menatap lembut suaminya.


"Mas akan menemani kamu hari ini full sayang."


Kalau Aiden sudah mengatakan full maka tidak ada lagi waktu untuk membantahnya dan Syeilla juga tidak suka memperdebatkannya.


Zia dan Elka datang menemui Syeilla.


"Aku sangat merindukanmu" ujar Zia sambil memeluk erat tubuh Syeilla. Saat Elka akan melakukan hal yang sama Aiden dengan segera menghentikannya dan menatap Elka dengan tajam sehingga aksinya tersebut ditertawakannoleh ketiganya.


"Santai bro..." ujar Elka dengan jahil.


"Syei tau nggak, orang disamping kamu menangis pernah menangis seperti orang gila."

__ADS_1


Zia yang mengetahui dirinya disindir langaung mencubit geram kulit perut Elka sampai Elka mengaduh kesakitan.


"Ampun Zizi, ampun" Elka mengatupkan kedua tangannya tanda ia meminta maaf namun Zia semakin menguatkan cubitannya sampai air mata Elka keluar.


"Rasakan dan kau sungguh cenggeng" ejek Zia sambil memeletkan lidahnya dan berhasil membuat Elka misuh-misuh.


Setelah selesai dengan aksi kocak keduanya Elka berjalan serius mendekati Syeilla.


"Syei ada yang mau aku bicarakan sama kamu"


"Mengenai apa?" tanya Syeilla bingung apalagi raut wajah Elka tampak serius dan meyakinkan.


"Hanya kita berdua, aku tunggu kamu di ruanganku ya." Elka segera berlalu dari sana.


Ketiganya tampak bingung melihat tingkah Elka yang jauh dari biasanya.


"Mas tunggu kamu di depan ruangan Elka ya sayang. Mungkin memang ada perihal penting yang tidak bisa ia bagi dengan orang lain." ujar Aiden dengan bijak dan langsung di angguki olehnya.


"Ayo" ajak Aiden sambil menggandeng tangan istrinya menuju ruangan Elka.


Sesampainya disana Syeilla segera masuk setelah mengetuk pintu sedangkan Aiden menunggu dengan tenang di luar ruangan. Setelah Syeilla duduk Elka pun duduk di hadapan Syeilla.


"Ada apa?" tanya Syeilla bingung.


"Ini mengenai Dion Syei." Syeilla tampak diam saat mendengar nama Dion disebut.


"Kami pernah menjadi seorang teman di masa lalu." Elka meperjelas tatapan heran Syeilla.


Kembali ia menghela napasnya dengan berat.

__ADS_1


"Dia sedang terpuruk Syei dan kegiatan hariannya selalu mengunjungi makan si kembar" ujar Elka dengan sedih.


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Rasa bersalah telah mendominasi dirinya Syei dan setiap kali ia melihat anak kecil disitu juga rasa bersalahnya kembali menghantuinya. Ia bahkan sudah mirip orang gila dari pada orang normal."


Syeilla merasa sedih saat mengetahui kondisi Dion. Ia tidak tau jika peristiwa beberapa bulan yang lalu mampu membawa Dion ke tahap seperti sekarang.


"Dia hancur Syei dan hanya kamu yang bisa membawanya kembali pada Dion yang kita kenal." ujar Elka dengan pelan.


"Kenapa dia menghukum dirinya sendiri El, aku sudah memaafkannya aku bahkan tidak menyimpan dendam padanya."


"Syei untuk seseorang seperti Dion hal tersebut berbeda. Kau mungkinnsudah memaafkannya tapi ia bekum memaafkan dirinya sendiri. Ia sedang menghukum dirinya sendiri dengan menghadirkan rasa bersalah yang menguasai pikirannya." desah Elka.


"Aku akan membicarakannya dengan suamiku El, aku tidak suka Dion menghukum dirinya sendiri seolah ia tidak berharga. Aku akan segera menemuinya." ujar Syeilla pada akhirnya.


"Bisa kamu berikan alamatnya."


"Ini" Elka menyodorkan sebuah kertas yang berisi alamat Dion da Syeilla segera menyambutnya lalu menyimpannya ke dalam tas slempangnya.


"Kalau sudah selesai aku akan keluar karena Aiden menunggu di depan ruanganmu"


Syeilla keluar sedangkan Elka menggelengkan kepalanya dengan heran.


"Lelaki itu sangat protective" decihnya namun sebuah senyuman terbit di bibir seksinya.


"Setidaknya sekarang kamu tau betapa berharganya seorang Syeilla dalam hidupmu Aiden. Aku akan mencoba berteman denganmu dan kita akan menjadi akrab." kekeh nya.


❤❤❤❤

__ADS_1


Ini udah autor perbaiki


__ADS_2