
Zia mengunjungi METROPOLIS shopping mall untuk sekedar menghilangkan rasa bosannya sekaligus membeli beberapa potong pakaian sekalian cuci mata dan otaknya yang sudah berseliweran dengan beban hidup. Terlalu dramatis.
Ia teringat bahwa minggu lalu ia berniat membelikan sesuatu untuk Elka namun karena ia bertemu dengan Syeilla, ia tidak jadi membelinya. Baiklah. Hari ini ia akan mencari satu barang khusus untuk Elka. Hitung-hitung sebagai sogokan karena Zia meninggalkannya tanpa pamit terlebih dahulu. Ah membayangkan wajah murka Elka saja membuat Zia terkikik ngeri.
Namun dari semua yang ada pada Elka, hanya satu yang tidak bisa ditolerir oleh Zia, mulut pedas Elka yang memiliki bisa cobra.
Ia terus berjalan memasuki mall tersebut sambil berpikir keras mengenai barang yang akan ia berikan pada Elka.
Bruk
Ia menabrak seseorang yang berlawanan arah dengannya. Ia segera meminta maaf sebelum memutuskan pergi.
"Zia." panggil pria tersebut, langkah Zia pun berhenti saat namanya dipanggil. Ia menoleh kebelakang dan menemukan Dion yang menyapanya. Zia tersenyum canggung begitu pun dengan Dion.
"Ada apa?" tanya Zia tanpa basa basi.
"Tidak ada, hanya saja kau satu-satu yang ku kenal di sini." jawab Dion sedikit ngaur.
Sebenarnya mereka berdua tidak begitu akrab, mengingat Dion pernah menjadi penyebab Syeilla kehilangan bayi kembarnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu." pamit Zia bamun Dion seolah menahannya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar." ujar Dion.
"Bisakah kita makan sebentar di restoran lantai bawah?"
Zia tampak menimbang ajakan Dion, tapi tidak ada salahnya bukan jika ia memenuhi ajakan Dion.
"Baiklah." ujar Zia pada akhirnya.
Sesampainya di restoran, Dion dan Zia segera memesan makanan setelah waitres datang dambil membawa buku menu.
Keduanya tampak canggung, Zia lebih memilih mengedarkan tatapannya ke depan begitu pun dengan Dion yang tampak gugup namun ia mencoba memberanikan diri.
"Apa yang kau lakukan di Rusia?" tanya Dion basa basi.
"Aku sekarang bekerja di sini." mendengar hal tersebut membuat Zia ber oh ria.
Dari kejauhan interaksi keduanya tidak luput dari tatapan Auxillia. Ia tampak heran saat melihat Dion yang sangat jauh berbeda saat berinteraksi dengan perempuan yang kini sedang berada satu meja dengan Dion.
Auxillia bingung, marah dan sedih. Mengapa Dion tidak bisa memperlakukan dirinya layaknya seorang wanita, ia juga ingin Dion memperhatikannya. Dadanya sesak mengetahui pria yang ia sukai sedang makan berdua dengan wanita yang tidak ia kenal sama sekali. Wanita itu juga tampak cantik.
Makanan mereka pun datang dan sudah disajikan di atas meja, dengan perlahan Zia dan Dion mulai menyantap makanan mereka, sesekali mereka tamoak berbicara.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Ariel?" tanya Dion yang memang tidak tau mengenai hubungan Zia dengan Ariel yang sudah lama lost kontak.
"Jangan tanyakan dia padaku, aku tidak tau." ketus Zia dengan kesal. Entah kenapa jika Dion yang mengucapkan nama Ariel mendadak kesal.
"Baiklah, lantas apa aku tidak ingin menemui Elka?" kembali Dion melemparkan pertanyaan.
Zia mengerutkan keningnya saat Dion menyebut nama Elka.
"Bukankah Elka di Indonesia?"
"Dia tidak menghubungi dan memberitahumu?" tanya Dion heran.
Lantas Zia menggelengkan kepalanya.
Dion menghela napasnya dengan berat. Apa ia baru saja kecoplosan atau apa. Elka benar-benar minta dihajar. Pikir Dion kesal.
"Anak itu benar-benar minta dihajar." geram Zia sambil mengunyah makananya dengan kesal. Semua yang dilakukan Zia tidak luput dari mata Dion. Ia menilai bahwa Zia tipe perempuan galak yang penyayang.
❤❤❤❤❤
Babang Elka segera menyusul...
__ADS_1
Siapa yang mau namanya jadi pasangan babang Elka???
Hahahah