
Di kediaman Ariel, Zia sedang mencari sebuah kotak yang sudah lama tergeletak di lemari paling bawah. Ia mengambilnya dan membuka perlahan. Ada rasa aneh bergejolak dalam perutnya. Sudah lama ia tidak membongkar kotak tersebut. Terakhir lima tahun yang lalu.
Ia mengambil sebuah foto yang nampak usang. Pinggiran serta tengahnya sudah berubah warna. Tidak lagi sinkron dengan warna dasar.
"Sayang, kamu apa kabar di sana?" Tangan halusnya bergetar mengelus foto seorang gadis yang berusia empat tahun sedang tertawa lepas. Tawa yang menggambarkan betapa bahagianya gadis itu.
"Sudah lima belas tahun lamanya. Namun, rasanya baru kemarin kamu pergi Nak."
Bulir air mata jatuh tanpa henti saat mengingat putri kesayangannya menghadap illahi.
"Mama kangen sama kamu."
Ariel yang hendak masuk, teroana di depan pintu. Kenangan pahit selalu membuat kesedihan. Istrinya kerap menangis ketika mengingat semua hal yang menimpa putri kecilnya.
Ia membuka pintu dengan pelan lalu masuk dan menyentuh bahu Zia dengan pelan. "Sayang, jangan menangis."
"Mas, andai saat itu kita tidak lalai, pasti putri kita sudah remaja sekarang." Isaknya.
Ariel membawa tubuh itu kepelukannya. Semua memang tinggal andai, kalau saja ia tidak mengijinkan Alya membawanya pergi, semua tidak akan terjadi.
__ADS_1
Dirga yang sedang menuju kamarnya terhenti sejenak. Tangannya mengepal erat saat melihat ibunya menangis.
"Lagi-lagi, Mama menagis karena hal yang sama." cowok itu segera pergi dari sana menuju balkon kamarnya.
Dirga sangat mengingat jelas adik kesayangannya tenggelam saat mereka berlibur ke pantai bersama keluarga Aiden. Andai Alya tidak membawa Adelia bermain ke tepi pantai,l. Adiknya masih hidup sampai sekarang.
"Gue cinta sama lo Alya, tapi sakit ini tidak bisa dibayar oleh apa pun. Bahkan cintamu tidak cukup kuat untuk menghapusnya!" rahangnya yang kokoh terlihat mengeras menatap langit malam.
๐ ๐ ๐
Aiden mendapat panggilan dari neneknya bahwa Cally ingin kembali ke Indonesia. Pria itu tampak kusut dan pusing. Bagaimana bisa putrinya meminta kembali di saat kondisinya tidak stabil. Ia menjambak rambut frustrasi. Cally mengancam akan pergi jauh kalau mereka tidak memberinya izin.
"Tapi sayang ...."
"Mas, kabulkan saja permintaannya. Aku nggak mau putri kita berbuat nekat, mungkin dia sangat merindukan kita." bujuk Syeilla membuat Aiden menganguk.
Setelah mempertimbangkan semuanya, Aiden segera menghubungi neneknya.
Alya mendengar percakapan ledua orang tuanya bersorak dalam hati. Ia juga sangat merindukan Cally. Mereka bisa bersama tanpa terpisah oleh jarak. Sekolah bersama, jalan-jalan bersama dan melakukan hal lainnya.
__ADS_1
"Aku menunggumu Cally."
Di sekolah, senyuman Alya tidak pernah surut. Aluka sampai dibuat heran oleh tingkahnya pagi itu.
"Kamu kenapa?" tanya Aluka.
"Aku lagi bahagia, Kak."
"Oh, ya. Karena apa?"
"Cally akan segera kembali ke Indonesia. Aku sangat bahagia."
Aluka tersenyum senang melihat Alya sebahagia ini. Ia juga turut bahagia atas kepulangan sepupunya.
Dirga menatap tajam wajah Alya yang sedang tersenyum. Ia tidak menyangka Alya bisa melupakan kisah tragis yang menimpa adiknya.
"Kamu tertawa di atas luka orang lain! Bagaimana bisa aku mencintai gadis sepertimu!" Bisiknya pelan.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
__ADS_1
Holla guys maaf baru nongols. Astaga listrik mati 13 jam dan tadi mati lagi dong 3 jam lagi ๐ณ๐ณ