
Dirga mengurung diri di kamarnya, ia bahkan tidak menyentuh makanan sama sekali dan itu embuat Zia khawatir. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada putranya. Karena semenjak ia kembali, tidak ada satu patah kata pun keluar dari bibirnya. Padahal saat pergi, ia sangat semangat menemui Alya, lalu kenapa saat kembali wajahnya sangat murung.
"Nak, buka pintunya, kamu dari tadi pagi tidak makan sama sekali." Zia mengetuk pintu kamar putranya. Namun, tidak ada jawaban sama sekali.
Zia terus mengetuk karena ia tidak mau putranya berbuat nekat, lalu sebuah suara menyahut dari dalam. "Ma, biarkan Dirga sendirian."
"Ya sudah, tapi kamu harus makan ya, nasinya Mama letakkan di depan pintu." teriak Zia.
Wanita cantik itu segera pergi dari sana. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu menelpon seseorang sampai sambungan terhubung.
"Pa, kamu kapan pulang dari sana?"
"Besok lusa Ma, kenapa?" tanya Ariel dengan lembut.
"Pa, Dirga sudah seharian nggak makan. Mama nggak tahu apa yang terjadi karena dia tidak mengatakan apa pun."
"Ya sudah, nanti Papa akan bicara sama dia. Mama jangan khawatir ya, terus jangan ikutan nggak makan juga. Nanti Mama bisa sakit."
"Iya, Pa. Ya udah, Mama tutup dulu telponnya." Zia mencari tahu apa yang terjadi pada putranya. Ia segera bergegas pergi ke rumah Syeilla.
__ADS_1
--------
Nevan sangat senang seharian ini sampai lupa makan. Ayahnya sudah mencak-mencak melihat kelakuan putranya. Sedangkan Salma hanya menjadi pemerhati. Putranya memang begitu, jika bahagia dia tidak akan makan. Sedangkan kalau sedih, ia akan makan banyak. Sifatnya berbanding terbalik dengan dirinya dan suaminya. Mereka juga tidak tahu putranya menuntut dari mana.
"Yank, suruh Nevan makan. Nanti dia sakit," ucap Elka khawatir. Sedangkan Dalma merasa biasa saja.
"Yank yenk yonk, kamu kayak nggak tau aja siapa putramu. Dia tidak akan bisa makan kalau sedang bahagia. Mama yakin, pasti dia berhasil menembak Alya."
Salma menyengir kuda melihat suaminya yang masih saja khawatir. Memang keduanya bagai beras dan air, tapi tetap saja untuk apa mengkhawatirkan putranya. Jelas-jelas dia tidak akan bisa makan.
"Yank kamu pasti tahu cara supaya dia bisa makan."
Salma tersenyum licik, minggu kemarin dia melihat sebuah tas yang sangat cantik, dan harganya tidak terlalu mahal. Hari inilah saatnya memanfaatkan suaminya.
"Kamu ini selalu minta di sogok, sesekali minta dicium kek." kesal Elka tapi tetap mengiyakan permintaan istrinya.
"Yank, kemarin aku ke Mall, terus ada tas yang sangat cantik. Kamu tahu nggak, dia seolah melambai dan berkata, "Mama, bawa aku pulang."
Elka mencium bau tidak sedap. "Terus kenapa nggak kamu ambil Yank?"
__ADS_1
"Karena aku nggak mau kamu marah kalau aku membawanya pulang."
Kenning Elka mengernyit bingung, "kenapa memangnya?"
"Karena harganya 10 juta," ucap Salma dengan samar. Ia sengaja menyamarkan suaranya agar Elka salah mendengar nominalnya.
"O kalau cuma satu juta sih ambil aja Yank."
"Beneran?"
Salma sangat senang kali ini. Ia berhasil mengelabui sang suami. Kartu card hitam sudah berada di tangannya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bagus ini untuk mengambil putri kesayangannya di Mall.
"Makasih Yank, kamu suami idaman banget dari dulu." puji Salma, tentu saja itu semua bohong.
Pujian itu wajib dia gunakan sebagai mantra, karena hal itu akan membuat suaminya senang siang dan malam.
------------
Ekstra Part 3 soon
__ADS_1