
Guys sebelumnya aku minta maaf karena di part ini akan ada sedikit kata kasar ala Aiden so selamat menikmati bosque 😊😊
*****
Pagi itu Zia atau nama lengkapnya Kezzia Lavina Sheeva sedang membuat sarapan untuk mereka berempat karena hari ini mereka bertiga akan mengantar Syeilla chek up kandungan sekaligus memeriksa penyakitnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Terlihat Ariel atau nama panjangnya Ariel Renanda turut membantu Zia menyediakan sarapan untuk mereka berempat sedangkan Farid Elka Bryantara atau biasa di sapa Elka hanya melihat mereka dengan cengengesan.
"Selamat pagi" sapa Syeilla dengan lembut pada ketiganya dan lalu Elka menarik kursi untuk Syeilla duduk di meja makan.
"Selamat agi Syeilla" jawab mereka dengan serentak lalu sedetik kemudian mereka pun tertawa bersama.
"Terima kasih"
"Aww" ringis Syeilla dengan tertahan. Pertama ia mengira bahwa itu reaksi biasa mengingat bayinya sudah bisa menendang-nendang tapi makin kelamaan rasa sakitnya semakin menjadi.
"Aww" kembali Syeilla meringis sambil memegang perut buncitnya.
"Zia... " belum sempat ia melanjutkan kalimatnya ia pun jatuh pingsan dengan kepala di atas meja.
"Syeilla" teriak ketiganya saat mendapati tubuh Syeilla sudah pingsan.
"Elka, siapkan mobil" teriak Ariel dan Elka pun langsung lari mengambil kunci dan mengeluarkannya dari garasi.
"Ya Tuhan Syeilla" ucap Zia dengan khawatir.
"Mobilnya sudah siap" teriak Elka dari luar.
"Minggir" ucap Ariel kemudian menggendong tubuh lemah Syeilla menuju mobil.
Zia dan Ariel pun segera menuju mobil dan mereka bertiga segera membawa Syeilla menuju rumah sakit.
"Bertahanlah Syei" ujar Zia dengan nada bergetar.
"Ssttt dia akan baik-baik saja" Ariel pun menenangkan Zia yang saat ini hendak menangis.
"Aku harap juga begitu Ril tapi bagaimana kalau dia memutuskan untuk menyerah" akhirnya isakannya pun keluar setelah ia tahan beberapa menit yang lalu.
"Percayalah Syeilla itu kuat Zi, dia akan bertahan demi kedua buah hatinya" ujar Elka ikut menenangkan Zia.
Setelah melewati perjalanan selama dua puluh menit akhirnya mereka pun sudah sampai di Rumah Sakit Maribor University Medical Center. Terlihat beberapa suster membawa brangkar untuk membawa Syeilla ke ruang UGD untuk mendapatkan penanganan.
"Setelah berdiri sekitar satu jam di depan ruang UGD akhirnya dokter yang menangani kasus Syeilla pun keluar dari sana dan menatap mereka dengan lesu. Lalu dokter tersebut menyuruh keduanya untuk ikut bersamanya ke ruangan kerjanya.
"Keadaan pasien sedang kritis. Tumor yang menggerogotinya sudah kian menyebar ke titik tertentu yang berperan penting dalam tubuh manusia dan kabar buruknya mungkin ia tidak akan bisa bertahan sampai usia kandungannya sembilan bulan" terang sang dokter dengan lemah.
__ADS_1
Zia yang mendengarnya pun sudah menangis mengetahui keadaan Syeilla yang sebenarnya.
"Tidak adakah harapan untuknya bertahan lebih dari itu dokter?" tanya Zia dengan parau.
"Sebagai dokter saya tidak bisa menjaminnya tapi semua kembali lagi pada penciptanya tapi saya akan mengusahakan yang terbaik untuk Syeilla" ujar dokter dengan name take Alberio.
"Sebaiknya pasien di rawat di sini mengingat kondisinya bisa drop kapan saja" anjur Alberio sambil tersenyum.
"Terima kasih dok"
Mereka pun keluar dari ruangan Alberio dengan lesu dan segera menuju ruangan tempat Syeilla kini dirawat dan sudah ada Elka yang menemani Syeilla disana.
"Kenapa lama sekali?" tanya Elka pada keduanya.
"Ada hal penting yang disampaikan dokter Alberio tadi dan itu mengenai kondisi Syeilla" ujar Ariel dengan serius.
"Apa yang dikatakan dokter Alberio mengenai kondisi Syeilla" tanya Elka dengan serius.
"Keadaan Syeilla kritis El dan dokter memprediksi bawa mungkin Syeilla tidak bisa bertahan sampai usia kandungannya sembilan bulan itu artinya ada kemungkinan sisa waktunya tinggal dua bulan dari sekarang" jawab Ariel dengan lesu.
"Kenapa?" tanya Elka dengan ambigu.
Ariel mengernyitkan keningnya dengan bingung sedangkan Zia tidak memberi respon apapun padanya.
"Kenapa wanita sebaik dia harus mengalami hal mengerikan seperti ini? Bahkan banyak wanita nakal di luaran sana tapi mendapatkan kehidupan yang layak" ujar Elka dengan bingung.
"Kita tidak tau apa yang sedang Tuhan rencanakan untuk Syeilla El, tapi apapun itu mungkin akan menjadi yang terbaik untuk Syeilla sendiri dan kita sebagai dokternya Syeilla hanya perlu melakukan berbagai cara untuk membantunya bertahan. Bukankah kematian itu tidak ada siapapun yang mengetahuinya" terang Ariel dengan tenang.
"Kau benar Ril mungkin aku terlalu naif untuk memahami ini semua tapi terima kasih" balas Elka sambil tersenyum.
Di belahan bumi lainnya Aiden sedang memarahi setiap karyawan yang membuat kesalahan meski hanya sekecil upil sekalipun.
"Apa kalian sudah bosan bekerja hah!!" teriaknya dengan suara menggelegar.
Semenjak ditingal pergi oleh Syeilla ia semakin uring-uringan ditambah dengan kenyataan bahwa Syeilla pergi dengan laki-laki lain membuatnya tambah marah. Ia tidak tau apa yang menyebabkannya menjadi semarah itu tapi hati kecilnya sangat benci mengetahui bahwa Syeilla telah menghianatinya.
"Keluar!!" hardiknya dengan kasar lalu ia menuju ruang kerjanya dengan napas terengah-engah.
"Sial, sial, sial. Kenapa aku masih saja memikirkan perempuan itu" ujarnya dengan geram. Ia menjambak rambutnya menandakan betapa frustrasinya dia saat ini.
"Aarrggg" teriaknya lalu melempar habis isi di meja kerjanya.
"Ada apa pak?" tanya sekretarisnya yang baru bekerja seminggu yang lalu karena sekretarisnya yang dahulu tidak diperkenankan lagi bekerja oleh suaminya.
__ADS_1
"KELUAR!" teriak Aiden dengan kasar. Sekretaris itu malah masuk dan mencoba menenangkan Aiden dengan pakaian seksinya sampai belahan dadanya nampak jelas dipandang oleh mata. Ia mendekati Aiden dari belakang dan mencoba mendekapnya dan mengelus dada bidang Aiden dengan gerakan sensual.
"Apa yang membuat anda semarah ini pak Aiden" tanya nya yang terdengar lebih mendesah dari pada sebuah bisikan. Tak lupa juga dada besarnya ia gesekkan ke punggung tegap Aiden berharap ia mampu meluluhkan hati bosnya yang haus kasih sayang.
"Apa kau cari mati" bisik Aiden dengan nada rendah.
"Maaf?" tanya Sekretaris yang diketahui bernama Melinda Putri dengan bingung.
"Kau! Kupecat. Keluar" hardik Aiden dengan marah.
"Tapi pak.."
"KELUAR KAU BITCH" teriak Aiden dengan bengis bahkan wajahnya sudah memerah saking marahnya.
Melinda pun kekuar dengan kaki yang ia hentak-hentakkan pertanda usahanya sia-sia.
"Aku tidak pernah ditolak seperti ini" dengus Melinda tidak terima atas penolakan Aiden.
"Lihat saja aku pasti akan mendapatkanmu Aiden" bisiknya dengan penuh tekat.
"Syeilla" teriaknya tanpa sadar. Lalu tubuhnya luruh ke lantai. Seolah pristiwa saat ia menyiksa Syeilla untuk terakhir kalinya tersaji kembali di depan matanya seperti CD rusak karena hanya adegan itu yang terus berputar.
"Syeilla kembalilah sayang" ujarnya dengan sendu.
Dirinya yang saat ini antara waras tapi setengah gila. Terkadang ia memaki Syeilla lalu sedetik kemudian ia meraung meminta maaf berharap Syeilla akan kembali padanya. Tipe lelaki luknut sejati.
"Terima kasih karena sudah melepaskan Syeilla dan sekarang giliranku yang akan menghabisinya"
Bunyi sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam handphone nya yang mampu membuat mata Aiden melotot. Ia pun mencoba menghubungi nomor tersebut namun sayang nomor yang ia tuju tidak terdaftar di manapun.
"Brengsek" teriaknya.
Ia segera menelpon detektif andalannya.
"Cari keberadaan Syeilla, dimana pun dia berada temukan dengan cepat. Saya tidak menerima kegagalan" ujarnya lalu mematikan panggilannya.
"Wah ternyata kau bergerak dengan cepat"
Kembali pesan masuk dari orang yang sama.
"Brengsek. Tunjukkan dirimu sialan!!" teriaknya dengan marah.
"Kau lelaki paling bodoh di dunia ini. Tapi berkat kau juga aku akan segera melenyapkan Syeilla" ujar orang misterius tersebut dengan notif menyeringai.
__ADS_1
"Kau akan berhadapan denganku jika berani menyakiti istriku bangsat!!"
❤❤❤❤❤