
Dua minggu kemudian....
Elka sedang menjelajahi sebuah museum Stage Historical Museum, salah satu yang paling disukainya adalah menjelajahi museum, karena baginya museum adalah sebuah tempat yang memamerkan sebuah karya seni tinggi ataupun benda yang memiliki sejarah pada jaman dulu yang bahkan tidak ternilai harganya. Itu menurut Elka.
Ia melihat-lihat di sekitar dan matanya tertuju pada satu objek yang menarik perhatiannya, di sana ada sebuah lukisan wanita dengan jubah merah, matanya setajam elang, dengan lengkungan bibir yang menawan. Mata Elka tidak bisa berhenti menatapnya. Ia sungguh mengangumi siapapun yang melukisnya
Bruk...
Kembali ia menabrak tubuh seseorang, mereka kembali bertatapan satu sama lain dan jantung Elka lagi-lagi berdetak dengan menggila. Wajah Elka memerah menatap wajah ayu nan cantikndari wanita yang ia tabrak barusan. Wanita itu pun menatap wajah Elka dengan lekat.
"Maaf." ujar perempuan tersebut tersenyum lembut.
Elka tidak memberikan reaksi apapun selain dari menatap wajahnya dengan mulut terbuka. Sungguh ia sedang terpesona.
Perempuan itu tampak melambaikan tangannya saat Elka tidak juga sadar dari keterpukauannya. Perempuan yang tidak diketahui namanya menepuk pelan pundak kokoh Elka yang membuat si empu sadar.
"Hah, ada apa?" ujarnya sambil masih mempertahankan wajah cengonya.
"Saya hanya ingin mengatakan, apa anda baik-baik saja?"
"Ya saya baik." Elka menjawab dengan gugup. Sungguh baru pertama kali ia beetemu dengan seorang wanita yang mampu membuat jantungnya berdetak dengan menggila.
__ADS_1
"Syukurlah, kalau begitu saya permisi." ujar wanita tanpa nama tersebut sambil melenggang pergi.
Elka menatap kepergiannya dengan wajah meleleh, namun sedetik kemudian ia memukul kepalanya.
"Bodoh, kenapa tidak menanyakan namanya barusan." kesalnya sambil menendang angin. Ia segera pergi dari sana mana tau aura jodohnya masih dekat dengannya. Hampa, itulah yang ia dapati di luar museum. Aura jodohnya sudah menghilang.
"Aku percaya bahwa kamu akan segera menjadi kita, dan kita akan segera menuju kepelaminan." cengengesnya sambil cengar-cengir nista.
"""""""""
Syeilla membawa sesuatu di tangannya, lalu menunjukkannya pada Aiden.
"Mas." ujarnya saat menghampiri Aiden yang sednag mengerjakan pekerjaannya di sofa. Aiden tidak melihatnya karena ia masih fokus dengan kembaran dan laptop yang ada di pangkuannya.
Aiden hendak marah namun ia teringat saat tadi malam istrinya menangis histeris, ia mengurungkan niatnya.
"Ada apa hm?" tanyanya dengan lembut.
"Mas istirahat dulu." Syeilla menyerahkan minuman jahe pada suaminya.
"Terima kasih sayang." Aiden segera meminumnya. Ya, sejujurnya ia sangat lelah, namun mengingat waktunya sudah dekat, mau tak mau ia harus begadang.
__ADS_1
Belum lagi terkadang ia masih mual-mual, da itu sangat menyiksanya.
"Ini." Syeilla menyodorkan sebuah foto, Aiden menyambutnya dengan bingung, sedetik kemudian matanya membulat dengan sempurna.
"Sayang, ini."
Syeilla mengangguk.
"Itu foto USG minggu kemarin."
Aiden tersenyum haru. Ia sungguh menantikan momen di mana ia resmi menyandang status ayah bagi anak-anaknya kelak.
Seketika ingatannya melalang buana pada memori kedua buah hatinya yang pergi meninggalkannya. Mungkin jika kedua masih hidup pasti sekarang sedang berlarian di ruang tamu. Mata Aiden tiba-tiba berkaca kala mengingat masa paling menyakitkan dalam hidupnya.
"Mas, kenapa menangis?" Syeilla mengusap air mata Aiden yang menetes dengan pelan.
"Mas teringat dengan si kembar. Andai mereka masih hidup, pasti sekarang sedang berlarian di ruang tamu." Syeilla memeluk suaminya dengan erat. Ia juga selalu sedih jika mengingat semuanya namun ia tidak ingin menjadi manusia yang tidak bersyukur.
"Mas, kita semua milik sang pencipta, biarkan mereka bahagia di sana." ujar Syeilla yang ijut meneteskan air matanya.
❤❤❤❤❤
__ADS_1
Masa lalu bukan untuk diingat-ingat, jadikan masa lalu sebagai kenangan dan pelajaran untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.