
Hari minggu menjadi hari yang paling ditunggu oleh Alya. Biasanya mereka akan meluangkan waktu berkumpul di suatu tempat. Pantai menjadi salah satu pilihan mereka.
Seperti pagi ini, mereka menyiapkan segala sesuatunya.
"Apa sudah selesai sayang?" tanya Aiden pada Syeilla yang sedang mangatupkan tasnya.
"Sudah, Mas." Syeilla tersenyum senang.
"Cally mana, Alya juga."
"Sebentar, Mas. Sepertinya masih di atas," ucap Syeilla.
Wanita itu berjalan menuju kamar kedua putrinya. Ia mengetuk kamar Cally. Putrinya keluar dengan wajah mengantuk, Syeilla tersenyum melihatnya.
"Nak, cepat bersiap, kita akan pergi ke pantai." Syeill kemudian beralih ke kamar putrinya yang satu lagi.
"Alya, kamu sudah bangun kan Nak?" Syeilla mengetuk pintu kamar putrinya.
"Sudah, Ma. Sebentar Alya sedang bersiap-siap!" Teriak sebuah suara dari dalam.
"Mama Tunggu di bawah ya," ucapnya.
Ia kembali berjalan menuju lantai dasar. Cally keluar dari kamarnya sembari turun ke bawah terlebih dahulu. Sedangkan Alya baru saja keluar dari kamarnya.
"Sudah lengkap, ayo!"
Mereka berempat segera menuju mobil yang sudah terparkir di halaman depan.
__ADS_1
Sekitar empat puluh menit kemudian mereka sudah sampai di pantai, Syeilla dan Aiden segera membentang tikar yang terbuat dari snyaman bambu. Kemudian melapisinya dengan satu kasur tipis yang terlihat sangat nyaman.
"Apa kamu suka, sayang?" tanya Aiden pada Cally. Gadis itu menganguk antusias menjawabnya.
Ia sangat menyukai pantai, bagi Cally hanya laut yang membuatnya sangat tenang. Gadis itu berjalan ke bibir pantai, rambut pirangnya tergerai dibelai angin laut.
Alya duduk di samping ibunya, gadis itu sangat membenci laut, ia tidak suka berada di laut.
"Kamu nggak mandi, Nak?" tanya Aiden lembut. Ia menyadari sifatnya beberapa minggu belakangan sangat keras.
"Nggak, Pa. Alya benci laut," ucap gadis itu jujur. Syeilla mengelus pelan rambut putrinya.
"Kalau begitu, jangan didekati."
"Iya, Ma. Makasih," ucap Alya tulus.
Mereka bertiga tertawa bahagia, Cally yang menyaksikannya dari bibir pantai dibuat geram. Ia tidak percaya jika Alya akan sepicik itu merebut semua kasih sayang dari kedua orang tua mereka. Baginya Alya sangak rakus dan enggan berbagi dengannya.
"Alya, kita tidak pernah main bersama, bagaimana kalau kita main ke laut."
Aiden melihat mata berbinar putrinya, mungkin ini kesempatan bagi keduanya untuk saling mengakrabkan diri, pikirnya.
"Aku tidak bisa," ucap Alya membuat mata itu berubah sendu. Aiden yang tidak ingin mematikan binar tersebut menatap Alya dengan lembut.
"Sayang, nggak ada salahnya main sama Cally, lagi pula saudaramu itu jago berenang, kamu tidak perlu khawatir."
Alya masih menatap ragu netra atahnya. Namun, saat melihat wajah Cally ia jadi tidak tega. Ia bangkit dari duduknya dan segera pergi bersama Cally.
__ADS_1
Mereka segera menuju ke bibir pantai, perlahan kaki keduanya menyentuh permukaan pasir yang perlahan dialiri air asin dari gelombang laut yang menghempaskan airnya. Ombak yang cukup besar membuat para peselancar kegirangan.
Cally masuk lebih dalam, kira-kira sudah menutup pinggangnya, sedangkan Alya masih diam membeku. Kakinya masih terbungkus air laut sampai lutut.
"Lo nggak mau masuk?" tanya Cally.
Gadis itu menggeleng pelan, ketakutan jelas kentara di wajahnya. Namun, Cally tidak menyadarinya.
"Tenang aja, gue jago berenang." Bujuknya.
Alya masih menggelengkan kepala, dari jauh kedua orang tua mereka tertawa melihat aksi keduanya.
"Alya seperti anak kecil yang takut kena air," ujar Aiden sambil tertawa pelan.
"Iya, Mas." Syeilla juga tertawa melihat keduanya. Semenjak kedatangan Cally, keduanya tidak pernah berkomunikasi sekali pun.
"Ayo," Cally masih mencoba mengajak Alya. Tanpa ia sadari gelombang besar datang menghantamnya dari belakang. Gadis itu terserat ombak lebih dalam. Ia berusaha berenang. Namun, kakinya mendadak keram. Alya masih mematung di tempatnya dengan wajah pucat pasi.
"Ada yang tenggelam!" teriak beberapa pengunjung, Aiden yang melihat kejadian tersebut sontak kaget dan segera berlari ke arah laut. Jantungnya hampir saja jatuh andai putrinya tidak segera ditolong oleh peselancar.
Aiden dan Syeilla segera menghampiri tubuh lemas putrinya yang kemudian batuk mengeluarkan air yang sempat ia minum.
Aiden melihat tajam tubuh Alya yang masih mematung di tempat pertama ia berdiri. Aiden segera menghampiri Alya dengan marah.
"Kenapa kamu diam saja saat melihat saudarimu tenggelam!" teriaknya. Ia tidak menyadari wajah putrinya tidak lagi memiliki rona.
"Tatap Papa!" hardiknya, kesal saat perintahnya tidak diindahkan. Aiden membalikkan tubuh Alya. Tatapannya kosong, bibir yang biasa ia lihat merona kini sangat pucat. Perlahan cairan kental keluar dari hidung putrinya. Aiden tersentak. Tubuhnya kaku tak mampu memberi reaksi lebih sebelum gadis itu tumbang dalam pelukannya.
__ADS_1
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Semoga masih ada yang mau baca amin ๐๐