LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Episode 21


__ADS_3

Pagi itu Syeilla membuka matanya dengan perlahan. Ia mengernyitkan dahinya saat matanya melihat langsung cahaya lampu yang menyilaukan dari kamar tempatnya saat ini berbaring. Ia menelisik semua ruangan namun hanya ia seorang yang ada disana.


Cklek


Suara pintu pun terbuka dan menampilkan sosok yang selama ini ia cintai dalam diamnya. Tampak mata indah itu menatapnya dengan tajam.


"Apa kau senang?" dengusnya dengan kasar. Tentu saja perkataannya membuat Syeilla bingung.


"Apa maksudmu?" tanya Syeilla dengan lemah.


Tampak Aiden berdecih dengan sinis lalu matanya mematap sebuah surat yang telah usang di tangannya. Ia kemudian melempar tepat ke depan wajah Syeilla hingga membuat Syeilla gelagapan. Syeilla menatapnya dengan lama kemudian membukanya dengan perlahan.


Ia kemudian melihat wajah Aiden lalu kembali membaca surat tersebut.


"Dari mana kamu mendapatkannya?"


"Apa itu penting! " Aiden menjawab dengan sarkastik.


"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan Aiden" lirih Syeilla saat mendengar nada sarkastik dari Aiden.


"Memangnya apa yang aku pikirkan? Cih aku hanya tidak menyangka bahwa dunia ini sangat sempit" decih Aiden dengan sinis.


Syeilla menatap wajah Aiden dengan lembut. Ia menyentuh tangan Aiden dengan lembut lalu tersenyum.


"Maaf sudah membuatmu salah paham" tutur Syeilla dengan perlahan.


Aiden menatap Syeilla dengan datar lalu sedetik kemudian ia tertawa dengan kencang seolah ada yang lucu dengan Syeilla.


"Tunggu, apa kau pikir aku cemburu? Hah lucu sekali" kekehnya dengan remeh saat mata mereka bertemu. Sedang Syeilla hanya mampu menunduk dengan lesu.


Sedetik kemudian ia mengangkat wajahnya lalu menatap Aiden dengan berani.


"Apa kau sudah mencintaiku?"


"Hahaha pertanyaanmu lucu sekali Syeilla" Aiden kembali tertawa sambil mencemooh Syeilla.


"Jawab saja Aiden"


"Baiklah. Aku tidak akan pernah mencintaimu" tegas Aiden dengan datar.


Syeilla pun tersenyum menatap wajah tampan suaminya lalu ia memegang dada bidang Aiden yang tidak bergejolak sama sekali.


"Ternyata kau jujur" lirih Syeilla lalu membuang mukanya ke samping agar Aiden tidak melihat air matanya jatuh.


"Tentu saja aku jujur. Lagi pula apa untungnya berbohong padamu. Cih ada-ada saja"


Syeilla kembali menatap wajah Aiden.

__ADS_1


"Apa kau tidak bisa mencintaiku sama sekali" kembali Syeilla bertanya. Entahlah ia hanya ingin menanyakan hal tersebut sebanyak-banyaknya sampai Aiden mengatakan akan mencintainya. Aneh memang.


Aiden tampak berpikir dengan keras saat mendengar pertanyaan Syeilla yang menurutnya sangat ngaur tapi baiklah ia akan bermain sejenak.


"Aku akan berusaha mencintaimu" ujarnya dengan serius.


"Benarkah?" tanya Syeilla dengan senang.


Aiden menganguk lalu sedetik kemudian ia kembali melanjutkan kalimatnya.


"Aku akan mencintaimu setelah kau tiada" Aiden terkekeh saat melihat wajah pucat Syeilla. Memangnya siapa yang akan mencintai perempuan seperti Syeilla, aneh.


Wajah Syeilla sudah pucat saat mendengar jawaban menohok dari suaminya. Ia menatap lekat wajah yang sedang mencemoohnya dengan candaannya barusan lalu sebuah senyuman terbit di bibir pucatnya.


"Apa kau akan benar-benar mencintaiku jika aku sudah tidak ada lagi?" tanya Syeilla tersenyum.


"Tentu saja" ucap Aiden dengan mantap.


Syeilla mengangguk dengan pelan lalu setitik air matanya lolos membasahi pipinya. Nyatanya hatinya tidak pernah sekuat itu saat berhadapan dengan Aiden. Aiden selalu sukses mengaduk perasaannya dengan kata-kata pedasnya.


"Apa kau akan bahagia?" tanya Syeilla.


"TENTU SAJA" jawab Aiden penuh penekanan.


"Maka saat itu tiba aku juga akan sangat bahagia" gumamnya dengan pelan.


"Ada apa sayang?" tanya Aiden dengan lembut.


"Apa?" teriaknya dengan nyaring lalu tanpa aba-aba ia segera meninggalkan Syeilla tanpa ucapan kata apapun.


"Kau bahkan berlari kesetanan saat mendapat telpon dari kekasihmu. Apa kau juga akan berlaku sama saat aku di posisinya kelak?" setetes air mata kembali lolos dari kedua mata indanya yang selalu diselimuti dengan kesedihan.


Di tempat lain Aiden berlari dengan kencang menuju sebuah ruangan tempat kekasihnya di rawat karena Jeslyn sempat di rawat inap karena kondisinya sempat memburuk.


"Apa yang terjadi?" ujar Aiden pada seorang dokter yang bertugas disana.


"Kondisinya kembali memburuk pak dan ini akan semakin parah jika tidak segera dilakukan transplantasi jantung secepatnya" terang dokter tersebut dengan lemah.


Aiden terdiam membeku di tempatnya. Kenapa hal ini harus menimpa kekasihnya. Ia tidak akan siap jika harus kehilangan untuk kedua kalinya. Tidak, ia tidak akan siap. Ia berjalan dengan gontai menuju tubuh yang kini sedang terbaring lemah di ranjang. Ia memegang tangan pucat Jeslyn dengan gemetar.


"Maaf kan aku sayang" bisiknya dengan lemah. Ia mencium tangan pucat itu dengan lembut. "Aku akan segera mencari donor untukmu, tidak peduli jika harus ke luar negeri sekalipun. Aku akan mencarinya untukmu" gumamnya sambil mengelus wajah pucat Jeslyn.


Mata Jeslyn terbuka dan menatap wajah sedih Aiden dengan sendu.


"Kamu tidak perlu melakukannya sampai sejauh itu Ai, aku merasa semuanya seperti percuma, lagi pula umurku juga tidak lagi panjang. Aku tidak mau membuatmu susah seperti ini" lirih Jeslyn dengan lemah.


"Aku tidak suka kau berbicara seperti ini, kau akan baik-baik saja" marah Aiden dengan frustrasi.

__ADS_1


"Tapi Ai.. " ucapan Jeslyn terpotong oleh bentakan Aiden.


"Aku bilang kau akan baik-baik saja!!!" teriaknya lalu sedetik kemudian ia menatap Jeslyn dengan lembut.


"Aku akan melakukan apapun untukmu jadi kamu juga harus berjuang untukku sayang. Berjanjilah"


Jeslyn menganguk dan memeluk tubuh Aiden dengan erat. Ia menangis dalam pelukan Aiden.


Air mata seseorang yang kini tengah berdiri di balik pintu ruang rawat Jeslyn pun jatuh dengan perlahan. Ia tersenyum pahit menatap ke dalam dimana Aiden yang sedang memeluk tubuh Jeslyn dengan erat seolah tubuh itu akan hilang jika tidak ia dekap.


"Kau sangat beruntung Jeslyn. Kau begitu dicintai oleh suami yang bahkan tidak pernah memelukku sekalipun dalam mimpi terindah ku."


"Barang kali itulah mengapa kematian itu ada. Saat hati dan perasaan tak lagi bersama bahkan merajuk kasih terasa percuma jika kenyataannya hanya aku yang berjuang sendirian di tengah pahitnya kenyataan"


Syeilla tersenyum dengan sejuta lukanya lalu berbalik dan berjalan gontai menuju sebuah taman untuk menenangkan pikirannya.


Aiden membalikkan badannya seolah merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya sedari tadi.


"Kenapa sayang?" tanya Jeslyn saat melihat mata Aiden yang tertuju ke arah pintu.


"Tidak ada sayang" ujarnya dan kembali menemani Jeslyn. Mungkin hanya perasaannya saja. Pikirnya.


"Hai" sapa seseorang dari belakang Syeilla.


Syeilla melihat sekilas lalu kembali dengan kegiatannya. Merenungi kata bahagia.


"Apa aku mengganggumu" tanya lelaki itu kembali.


"Apa kau tau apa itu bahagia" tanya Syeilla dengan tatapan lurus ke depan.


"Semua orang tau apa arti bahagia" kekeh lelaki tersebut tanpa menyadari raut wajah Syeilla.


"Apa bisa kau beritahu padaku?"


Tampak lelaki itu menatap Syeilla dengan heran tapi sedetik kemudian ia menjabarkannya.


"Bahagia itu adalah ketika kamu dicintai dan diharapkan kehadirannya oleh seseorang. Seolah jika tanpamu ia akan kehilangan arah" ujar lelaki tersebut sambil tersenyum.


Syeilla tersenyum kecut saat mendengarnya. "Dimana aku bisa membelinya?" tanya Syeilla kembali.


"Mana ada kebahagiaan yang bisa dibeli. Tapi leluconmu lucu juga" kekeh lelaki itu.


"Kau benar. Tidak ada kebahagiaan yang bisa dibeli"


(Jika kebahagiaan itu sulit, kematian pun tak apa)


Syeilla

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2