
Kondisi Elena masih jauh dari kata baik namun ia memaksakan dirinya untuk segera pulang karena ia tidak pernah betah berada di rumah sakit. Ia tidak mau karena kondisinya Altaf mengasihaninya. Berbeda dengan Elena berbeda juga dengan Altaf. Untuk saat ini ia menjadi bimbang antara harus membalaskan dendamnya atau menghapus dendamnya karena cepat atau lambat Elena juga pasti akan mati.
Namun jauh disudut hatinya yang paling dalam ada secual rasa takut kehilangan namun sekuat tenaga ia menepisnya karena baginya tidak mungkin bisa bersanding selamanya dengan orang yang sudah membunuh kekasihnya.
Elena tahu bahwa saat ini Altaf akan mengasihaninya. Ia akan terus membuat Altaf membencinya agar kelak suaminya tidak akan merasa kehilangan jika ia pergi meskipun kemungknan itu sangat kecil bahkan mustahil namun siapa yang tahu karena Tuhan maha membolak balikkan hati hambanya. Setelah berbincang dengan pihak rumah sakit terutama dokter yang merawat Elena, ia akhirnya diijinkan pulang asal sering-sering chek up kesehatannya mengingat tumornya bisa berkembang kapan saja.
Jangan kalian pikir Altaf akan berbelas kasihan setelah mengetahui kondisi Elena. Karena hidup Elena bukan seperti pada novel. Altaf memang tidak melanjutkan aksi balas dendamnya karena menurutnya penyakit Elena sudah lebih dari pantas untuk membalas perbuatan Elena dimasa lalu.
"Bukankah sebuah kepantasan untuknya menderita penyakit mematikan itu, aku tidak pernah merasa sebahagia ini saat mengetahui kondisinya yang sebenarnya. Aku tidak peduli mau dia hamil atau tidak yang pasti aku sangat bahagia toh dengan begitu aku tidak perlu lagi repot-repot untuk menyingkirkannya."
Untuk pertama kalinya Elena mendengar suara Altaf dengan wajah berserinya saat mengetahui penyakitnya. Bukankah ini lebih baik daripada rasa kasihan.
Meskipun begitu rasa kecewa yang dirasakan Elena sangat besar pada suaminya namun siapakah dia?
Bahkan kematian pun memang pantas menghampirinya.
"Aku sudah melakukan yang terbaik untuk suamiku, setidaknya bila nanti aku tidak mampu lagi membuka kedua mataku ada kenangan indah yang kutinggalkan untuknya meski rasanya itu sangat sulit bahkan mustahil, mommy akan berjuang untukmu nak meski pun kelak mommy tidak bisa melihatmu ingatlah satu hal, mommy sangat menyayangimu sayang."
Elena mengelus perut besarnya sambil tersenyum dalam kesakitannya.
Hari-hari berlalu dengan cepat dan tak terasa sebulan menjelang kelahiran buah hatinya kondisi Elena semakin parah namun sekuat tenaga ia tahan agar tidak diketahui oleh suaminya. Kepalanya yang pening dan sakit luas biasa mencekam urat-urat hingga matanya serasa mau copot.
Dia berlalu dengan tertatih menuju kamar mandi dan memuntahkan darah kental yang sangat banyak hingga pandangannya pun menggelap. Elena dilarikan ke rumah sakit oleh pembantunya dan saat ini sudah dimasukkan ke ruang UGD untuk segera ditangani. Dengan tangan gemetar bik Sum mencoba menghubungi tuannya namun tidak diangkat. Ia sampai menangis melihat kondisi Elena.
"Tuan saya mohon, angkatlah telponnya" ucap bik Sum dengan gemetar.
Di negeri seberang Altaf baru selesai mengadakan meeting ia segera melihat telpon selulernya dan betapa kagetnya dia saat melihat riwayat panggilan dari mommynya 100 panggilan tak terjawab sedangkan dari pembantunya 80 panggilan tak terjawab. Ia juga melihat puluhan pesan masuk dan dari sekian pesan yang masuk ada nama istrinya tertera disana tanpa menunggu lama ia segera membukanya.
Assalamualaikum suamiku,
Aku hanya ingin meminta maaf sebesar-besarnya padamu terlepas dari semua kesilapanku dimasa lalu maupun dimasa sekarang. Aku hanya seorang hamba yang tak pernah luput dari sebuah kesalahan, kau pun tau bahwa Tuhan kini sedang menghukumku.
__ADS_1
Suamiku.. Masih pantaskah aku memanggilmu begitu? Tak peduli berapa banyak rasa sakit dan berapa banyak penolakan yang kuterima. Satu hal yang harus kamu tau cintaku padamu tak pernah mampu membuatku untuk melupakanmu.
Bahkan cintaku semakin besar kepadamu. Aku tau terlalu egois rasanya bila tidak meninggalkan apapun kenangan untukmu meski aku tau kau takkan sudi menerimanya namun bolehkah aku meminta sesuatu padamu? Jaga dan sayangilah anak kita sebagaimana kamu menyayangi kedua orang tuamu.
Jangan pernah biarkan ia hidup sebatang kara sepertiku. Sepertinya aku akan melahirkan dan rasanya sakit sekali tapi tak apa aku ikhlas jika harus mengorbankan nyawaku untuk putri kita. Jika aku tak bisa membuka mata kembali, tolong ampuni segala kesalahanku dan katakan juga pada putri kita bahwa aku sangat menyayangi mereka.
I Love You suamiku.
Dengan tangan gemetar Altaf segera menelpon mommynya hingga deringan terakhir teleponnya diangkat.
"Hallo nak." ucap suara itu yang terdengar serak.
"Mommy bagaimana keadaan Elena mom?" tanyanya tak sabaran dengan tangan gemetar.
"Sayang kamu yang sabar ya nak, Istri kamu hik hik." suara Merisa terdengar terputus-putus. Bukan masalah jaringan karena saat ini Merisa sedang menangis sesegukan.
"Mommy bagaimana keadaan istriku?" tak terasa suara Altaf naik satu oktaf.
"Nak kembalilah selagi kamu bias." tanpa menunggu lama telpon diseberang pun mati dan sialnya tak dapat dihubungi kembali.
"Sayang bertahanlah sebentar lagi aku sampai." ucapnya dalam kegelisahan.
Ia segera keluar dari bandara tanpa menghiraukan pandangan beberapa wanita yang menatap nakal padanya. Ia segera menyetop sebuah taksi
"Pak tolong antarkan saya ke Rumah Sakit ini." Altaf memberikan alamat tersebut kepada sopirnya.
"Baik tuan." ucap sopir tersebut dan segera melaju kencang.
Selama perjalanan Altaf terlihat cemas dan hampir menangis sehingga sopir tersebut bertanya.
"Maaf pak sepertinya anda begitu cemas." ucapnya hati-hati.
__ADS_1
"Istri saya sedang berjuang untuk melahirkan putri kami pak." Altaf menjawabnya dengan tersenyum samar. Dan mengalirlah semua cerita kisah hidupnya bersama Elena.
"Saya hanya berpesan satu hal pak. Jagalah dia sebaik mungkin sebelum Tuhan mengambilnya dari hidup kita. Karena sesuatu akan sangat berharga bila sudah tiada." sopir tersebut menghapus air matanya dan segera membukakan pintu mobil untuk Altaf.
Altaf meresapi setiap perkataan yang diucapkan oleh sopir tersebut yang entah kenapa sangat menyentil jiwanya sebelum berlalu ia mengucapkan terima kasih dan memberikan beberapa lembar merah sebagai tips.
Ia kembali berlari menelusuri lorong demi lorong hingga sampailah ia di ruangan operasi.
"Mommy." ucap Altaf dengan napas ngos-ngosannya.
Merisa langsung memeluk putranya dan menangis.
"Mom bagaimana dengan putri Al." tanya Altaf sambil menatap Merisa meminta penjelasan.
"Dia sudah di ruangan bayi nak." Merisa menepuk pelan punggung anaknya.
"Syukurlah mom." ucap Altaf dengan lega lalu dimana istrinya?
"Lantas kenapa mommy masih berdiri di ruang operasi?" tanya Altaf penasaran.
"Nak Elena masih berada di dalam. Sudah lebih dari 10 jam namun operasinya belum juga selesai. Mommy sangat khawatir nak." ucap Merisa cemas.
Seketika Altaf menyadari sesuatu.
"Mom apa terjadi sesuatu pada Elena sebelum melahirkan?" tanya Altaf.
"Elena memuntahkan banyak darah saat dilarikan ke rumah sakit dan mommy baru tau bahwa selama ini menantu mommy sakit, bagaimana bisa ia berjuang dengan kerasnya sedangkan penyakitnya juga mulai menggerogoti tubuhnya. Ia bahkan tidak tanggung-tanggung mengorbankan nyawanya demi melahirkan cucu untuk mommy." tangis Merisa pun kembali pecah.
Altaf yang mendengar penjelasan dari mommy nya tak habis pikir bagaimana kesakitan istrinya. Ia yang selama ini selalu egois menyiksa batin istrinya dengan berkata sangat kasar. Masihkah Tuhan memberinya kesempatan untuk bisa membahagiakan istrinya.
“Maafkan aku sayang.” serunya sambil menangis. Ia takut Tuhan tidak memberinya kesempatan kedua untuk membahagiakan istri yang sudah ia telantarkan dengan kejam.
__ADS_1
------