LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Season 4 (Bab 13)


__ADS_3

MALAM ini Elena terlihat sangat cantik dengan make up yang simpel. ia mengenakan gaun berwarna peach dengan tinggi di bawah lutut dipadukan dengan sepatu highill setinggi lima cm yang tampak pas di kaki jenjangnya. Kemudian untuk rambut ia hanya menggerainya dengan bebas. Tepat jam tujuh malam Altaf sudah berada di depan pintu apartemennya. Saat pintu dibuka Altaf tertegun melihat penampilan Elena yang sangat cantik.


"Kau cantik sekali sweetheart." ucapnya memuji penampilan Elena yang menawan.


Mendengar pujian itu langsung dari Altaf membuat semburat merah itu muncul di pipinya sontak Altaf pun tertawa melihat itu.


"Kau selalu menggemaskan kalau lagi blushing." ucap Altaf gemas sambil mencubit pipi Elena.


"Ayo..." ucapnya sambil menautkan jemari elena dan menggenggamnya. Mereka menuruni lift dengan tangan yang masih dalam genggaman Altaf.


Jantung Elena jangan ditanya lagi. Saat ini jantungnya seperti akan keluar dari tempatnya. Jantungnya berdegup sangat kencang tapi ada rasa bahagia disisi hatinya yang lain. Ia menatap Altaf dengan tatapan penuh cintanya. "Ada apa sweetheart? aku tau aku sangat tampan." ucap Altaf memergoki Elena yang sedang menatapnya dengan lekat.


"Ehem aku hanya merasa seperti mimpi bisa mempunyai kekasih sepertimu." ucapnya malu.


"Kau sedang tidak bermimpi sweetheart, aku memang kekasihmu. Apakau butuh bukti." ucapnya jahil sambil menaikkan alisnya dan sialnya ketampanannya bertambah tiga kali lipat dari sebelumnya.


Elena masih terbengong menikmati indahnya ciptaan sang pencipta alam semesta ini dan tiba-tiba ia merasakan ada yang hangat menyentuh bibirnya dan ia baru menyadari sesuatu. Altaf sedang menciumnya. Ia pun membalas ciuman Altaf dan berusaha mengimbanginya. Napas mereka tampak terengah. Elena meraup kasar oksigen disekitarnya.


"Bibirmu sangat manis sweetheart." ucap Altaf menyapu sekilas bibir Elena.


Deg.. deg.. deg


Jantung Elena mulai bertalu. Ia kini yakin bahwa Altaf telah masuk jauh dalam hatinya. Mereka telah sampai di halaman rumah keluarga Altaf.


“Ayo... " ucapnya sambil merangkul pinggang ramping Elena.


"Mom, kami datang." Altaf teriak saat sudah sampai di depan rumah mmewahnya.


"Hai sayang, kamu apa kabar." tanya Merisa dan mencium kedua pipi Elena.


"Baik, mom bagaimana?


"Seperti yang kau lihat sayang."


"Syukurlah mom." Elena tersenyum lembut menatap Merisa.


Mereka pun menuju ruang makan yang sudah ada Charli dan Altaf disana.


"Selamat datang El." sambut Charli dengan tersenyum hangat.


"Malam juga dad." ucap Elena dengan sopan.

__ADS_1


Mereka pun makan dengan diam dan tertib. Sesekali terjadi percakapan yang hanya dibalas Elena dengan singkat.


"Nah sayang, bagaimana hubungan kalian berdua." tanya Merisa dengan semangatnya.


"Eh.. Anu kami hanya berteman mom." ucap Elena dengan sungkan.


"Hahahah kau ini manis sekali." sambung Charli dengan tawa khasnya.


"Eh... " Ucap Elena bingung.


Terlihat raut sedih ala Merisa saat mengetahui bahwa mereka hanya sebatas teman. Melihat itu Altaf pun menjadi gelagapan hingga kata-kata bodoh itu pun keluar tanpa intruksi.


"Kami memang hanya berteman mom tapi akan segera menjadi teman hidup." ucap Altaf sambil menatap Elena dengan kerlingan nakalnya.


"Benarkah Elena, ah mommy senang sekali kalau kamu yang jadi menantu mommy." ujar Merisa dengan girang.


Elena yang wajahnya sudah merah pun tak mampu menahan gejolak hatinya yang kian menggila. Bolehkah ia berharap bahwa Altaf benar-benar akan menjadikannya sebagai istri. Altaf merutuki kebodohannya. Mengapa dari sekian banyaknya kalimat malah kalimat itu yang diucapkan oleh mulut bejatnya.


"Sial sial.. " batin Altaf mendengus kesal.


Ia melirik Elena yang sedang tersipu. "Dasar gadis sial, apa-apaan itu bikin kesal saja." dengus batinnya lagi.


"Ah leganya." seru Elena dengan menghela napas lega.


Saat akan keluar ia merasakan sesuatu yang aneh, ia lagi-lagi tak dapat menggerakkan kedua tangan dan kakinya hingga pada saat akan melangkah ia kembali kehilangan keseimbangannya. Hingga suara ia terjatuh terdengar sampai ke telinga Merisa.


"Ya Tuhan suara apa itu, sepertinya dari arah toilet." ucapnya segera beranjak menuju ke toilet. Altaf yang melihat itu hanya diam. Ia hanya berpikir mungkin hanya suara kucing atau benda jatuh namun ia mendengar suara teriakan mommy nya, ia dan daddy nya segera berlari ke toilet.


"Ya Tuhan Elena, hei kamu kenapa sayang?" tanya Merisa khawatir sambil membantu Elena berdiri dan membawa Elena menuju sofa ruang tamu.


"Aku hanya tersandung tadi mom." jawab Elena berbohong untuk menenangkan Merisa.


"Kenapa bisa tersandung sampai dahi terluka begini."


"Hehe maaf mom El sedikit ceroboh."


Ucap Elena tak enak hati.


"Its ok sayang. Tapi jangan ceroboh lagi ya. Mommy sangat khawatir sayang." ucapnya dengan lembut dan tanpa di komando air mata Elena pun mengalir tanpa ia sadari.


"Loh loh ini kenapa malah menangis." ucap Merisa sambil menghapus air mata Elena.

__ADS_1


"Tidak ada mom hanya saja El terlalu bahagia saat ini."


"Oh mommy kirain kamu kenapa El." Merisa menghela nafasnya lega.


"Bik Sum tolong ambilkan first aid sama kapan ya Bik." teriak Merisa kepada pembantunya.


"Baik buk." Sum pun berlalu untuk mengambil obat dan beberapa helai kapas.


"Ini buk obatnya."


"Makasih ya bik"


"Iya buk. Sama-sama."


"Nah sayang sini mommy obati dulu lukanya. Takutnya infeksi kalau telat ditangani." Merisa membuka kotak obat tersebut dan mulai mengobati luka Elena.


Elena terkekeh geli dengan ucapan Merisa barusan.


"Ya ampun mom ini hanya luka ringan mana munhkin sampai infeksi."ucap Elena dengan tersenyum.


"Mau infeksi atau tidak tetap harus diobati sayang, dan selesai," Merisa meletakkan kotak obat tersebut dia atas meja.


"Terima kasih mom." Elena memeluk Merisa dan tersenyum lembut.


"Sama-sama sayang. Kamu sudah mommy anggap seperti anak sendiri jadi jangan sungkan dengan mommy. Mengerti!" Merisa membalas pelukan Elena dengan sayang.


Altaf yang melihat interaksi antara mommy nya dan Elena pun mendengus kesal.


"Cih wanita ini benar-benar!" pikir Altaf dengan kesal.


Elena telah sampai di apartemennya dengan diantar oleh Altaf.


"Kau mau langsung pulang atau mau mampir dulu." tanya Elena basa basi.


"Tidak perlu lagi sweetheart aku buru-buru." Altaf mencium kening Elena sebelum beranjak pergi. "Aku sangat mencintainya." teriak batin Elena dengan girang dan berlalu ke dalam apartemennya.


Ada sudut lain hatinya yang menghangat saat ia mengetahui mencintai Altaf.


"Semoga kamu memang jodohku."


__ADS_1


__ADS_2