
Mata indah yang sarat akan seribu rahasia itu kini sudah terbuka dan menelisik keseluruhan dari ruangan tempat ia berada dan matanya berhenti pada ketiga sosok yang sedang tertidur dengan gaya mereka masing-masing. Di sofa ada Ariel dan Zia sedangkan di lantai ada Elka yang merana.
Ia hendak membangunkan mereka namun mengurungkan niatnya saat melihat wajah-wajah mereka yang sepertinya sangat kelelahan. Lagi pula ia sadar di waktu orang tidur yakni pukul 02:00 WIB. Ia menatap langit-langit ruangan tersebut dengan lama dan tersenyum.
Dulu ia sempat takut bagaimana jika ia mati dengan menyedihkan tapi sekarang ia sudah tifak lagi meradakan perasaan semacam itu. Ia tau bahwa tidak semuanya tentang kematian itu buruk.
"Ah Syeilla. Syukurlah kau sudah sadar" ujar Zia saat matanya tidak sengaja melihat ke ranjang Syeilla yang sedang menatap langit-langit ruangan tersebut sambil tersenyum.
"Kenapa kau bangun? Apa aku menganggumu" tanya Syeilla dengan suara pelan.
"Kau ini bicara apa? Lagipula kenapa kau tidak membangunkan aku. Kau ini?" kesal Zia namun segera melangkah ke ranjang Syeilla dan duduk di sebuah kursi lalu menggenggam tangan Syeilla dengan erat.
"Aku hanya tidak ingin mengganggu mu karena kau kelihatan sangat kelelahan"
"Memangnya kenapa kalau aku kelelahan. Aku bahkan bisa terbangun seberat apapun lelahku untukmu" ujar Zia dengan kesal.
Seketika ada perasaan hangat menyelimuti hati Syeilla lalu menatap mata Zia dengan lembut. "Kau tau aku tidak pernah merasa seberharga ini dihadapan siapapun tapi dihadapanmu aku merasa begitu berharga dan dihargai"
"Karena kebanyakan dari mereka tuna netra makanya tidak bisa melihat betapa berharganya dirimu. Ingat! Bagiku kau segalanya Syeilla jadi aku mohon jangan pernah memikirkan hal-hal yang tidak berfaedah bagi kesehatanmu misal mereka-mereka yang tidak pernah menghargaimu. Paham" ujar Zia dengan tegas. Ia sungguh tidak ingin kehilangan orang sebaik Syeilla hanya karena orang-orang sampah seperti mereka.
"Au mengerti Zia dan terima kasih banyak untuk segala hal yang sudah kau berikan untukku selama ini" kata Syeilla dengan tulus.
"Tidak ada ucapan terima kasih dalam pertemanan dan aku melakukannya karena kau adalah orang yang berarti bagiku jadi semuanya bukan apa-apa karena kau dan bayimu lebih dari segalanya" seru Zia dengan lembut yang mampu membuat mata Syeia berkaca-kaca.
"Sudah jangan menangis. Aku hanya meminta satu hal padamu Syei" ujar Zia dengan serius.
"Katakan saja aku akan mengabulkannya" seru Syeilla.
"Tetaplah bertahan dan selalu kuat untuk kedua bayimu. Hanya itu yang aku minta padamu. Apa kau bisa mengabulkannya"
Syeilla menatap wajah Zia dengan serius lalu mengangukkan kepalanya sambil tersenyum bahagia.
******
"Mas entah kenapa perasaanku tidak baik mengenai kak Syeilla" kata Elena pada Altaf suaminya.
"Sayang sudahlah untuk apalagi masih memikirkan dia, dia sudah memilih jalan hiduonya sendiri. Kamu tidak dengar apa yang dikatakan oleh Pak Aiden tentang kepergiannya bersama pria lain" ujar Altaf dengan jengah.
__ADS_1
"Tapi mas, semuanya pasti ada alasannya kenapa kakak memutuskan untuk pergi. Bisa saja kan suaminya yang membuatnya pergi"
"Sudahlah sayang. Mas lelah kalau harus mendengarkanmu membicarakan Syeilla, Syeilla dan Syeilla"
"Tapi mas... "
"Cukup Elena!!" teriak Altaf dengan marah. Lalu sedetik kemudian ia pun tersadar lalu memeluk tubuh Elena yang sudah bergetar di tempatnya.
"Sayang maafkan mas. Mas tidak bermaksud membentakmu hanya saja mas tidak ingin lagi kamu membahasnya. Mas sangat mencintai kamu dan mas tidak bisa jika harus kehilangan kamu" ujar Altaf sembari memeluk Elena dengan sayang.
"Aku hanya mengkhawatirkan keadaan kakak mas. Dia... Dia sedang sakit" tangis Elena pun pecah saat ia mengingat pembicaraannya tempo yang lalu.
"Jika dia sakit seharusnya dia berobat sayang bukan malah kabur seperti ini"
"Itulah alasannya mas. Kakak pasti pergi karena berobat" terang Elena yang membuat Altaf seketika dibuat bingung.
"Maksud kamu apa sayang? Apa ini ada hubungannya dengan waktu ia pingsan?" tanya Altaf.
Elena menatap wajah Altaf dengan wajah sendunya lalu mengangukkan kepalanya dengan lemah.
"Apa pak Aiden tau mengenai hal ini?" tanya Altaf dengan serius.
Elena kembali menggelengkan kepalanya.
"Bagi seorang wanita yang sangat mencintai suaminya, ia tidak akan membiarkan berita buruk itu sampai diketahui olehnya maka dari itu kakak menyembunyikannya dan pergi untuk berobat keluar negeri atau ada sesuatu yang tidak kita ketahui tentang hubungan rumah tangga mereka mas"
"Ya Tuhan maafkan mas sayang karena sudah berprasangka buruk sama Syeilla" sesal. altaf setelah mengetahui hal yang sebenarnya.
"Mas minta maafnya nanti sama kakak" Altaf pun mengangguk dan kembali memeluk istrinya dengan sayang. Lalu ia teringat dengan kalimat Elena barusan mengenai hal yang mungkin tidak mereka ketahui selama ini mengenai rumah tangga Syeilla.
"Kau benar sayang. Kita harus mencari tahu" putus Altaf yang diangguki oleh Elena.
******
Aisyah melenggang dengan sombong dan masuk ke dalam perusahaan yang dipimpin oleh Roy aka selingkuhannya sampai saat ini dan langsung naik menggunakan lift menuju ruangan Roy berada.
"Di mana Roy?" tanya Aisyah pada sekretaris Roy dengan datar.
__ADS_1
"Ada di dalam nyonya silahkan masuk" ujar sekretaris itu dengan sopan.
Aisyah pun masuk dan langsung disambut baik oleh Roy.
"Ada apa kau sampai repot-repot datang kemari?" tanya Roy sambil menggiring Aisyah duduk di sofa.
"Aku ingin kau melakukan sesuatu untuk Elena tapi buat seolah-olah Syeilla lah pelakunya"
"Tunggu, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
Tanya Roy.
"Silahkan"
"Kenapa kau sangat membenci Syeilla bukankah dulu dia cucu kesayangmu?" tanya Roy sedikit bingung.
"Aku hanya memanfaatkan dirinya bukan benar-benar menyayanginya. Kau tau aku sangat muak dengan suamiku yang selalu mementingkan cucunya di atas kepentinganku sendiri" kesal Aisyah.
"Ah suamimu memang bodoh bukan?" kekeh Roy dengan senang.
"Kau benar Roy bahkan aku masih ingat sebelum kepergiannya dia malah mewariskan kekayaannya pada Elena. Tapi untungnya aku pintar jadi aku pun bisa memiliki saham di perusahaannya tentu saja atas bantuanmu sayang" ujar Aisyah sembari mengecup pipi Roy.
"Baiklah dan sekarang katakan apa yang kau ingin aku lakukan pada Elena?" tanya Roy dengan serius.
"Aku akan mengatakannya kalau waktunya sudah tepat dan sekarang keberadaan Syeilla juga belum di ketahui jadi kita tunggu saja sampai ia kembali baru aku akan mengatakannya padamu"
"Baiklah honey" ujar Roy dengan mesra.
"Ah aku lupa kalau hari ini ada peetemuan penting. Aku pergi dulu sayang" Aisyah pun melenggang pergi dari sana dan Roy hanya menghela napas pelan melihat kepergian Aisyah.
"Kenapa kau tidak pernah puas Aisyah" Roy menggelengkan kepalanya.
"SYEILLA........ " teriak Aiden dengan napas ngos-ngosan. Ia baru saja di dera mimpi buruk.
"Aku mohon jangan pergi" isaknya disela kesadarannya. Mimpi yang terlihat seolah nyata saat Syeilla pergi meninggalkannya untuk selamanya. Seperti kata pepatah bahwa antara benci dan cinta hanya dipisahkan oleh benang yang tipis dan sekarang perasaan itu sudah mulai merebak ke dalam hatinya. Sebuah kata yang ia sangkal dengan sekuat hatinya namun kini ia kalah dengan keegoisannya sendiri karena kenyataannya ia sudah mencintai Syeilla.
❤❤❤❤❤
__ADS_1