
Satu bulan kemudian keluarga Elena mendatangi kediaman Syeilla. Mereka tidak sempat menjenguk Syeilla karena ada halangan yang tidak bisa mereka tinggalkan.
Aiden dan Syeilla pagi itu sedang makan bersama dengan Aiden yang senantiasa dengan setia menyuapinya makan tanpa bantahan.
"Mas aku sudah kenyang." gerutu Syeilla pada suaminya yang masih menyuruhnya untuk makan.
"Bagaimana bisa kenyang, kamu baru makan empat suap dammsayang. Ayo makan lagi atau kamu lebih suka kalau mas suapi melalui mulut hm?" tanya Aiden dengan jahil sontak Syeilla memelototkan matanya dan segera membuka mulutnya dengan lebar.
"Smart wife." kekeh Aiden dengan senang sedangkan Syeilla masih menggerutu dengan kesal.
Cup
Aiden mengecup lembut kening istrinya dengan sayang.
"Love you wife" ujarnya dengan penuh perasaan.
Syeilla tersenyum senang mendengarnya. Aiden mengernyitkan dahinya.
"Kenapa tidak membalasnya?" tanya Aiden dengan heran.
"Karena tanpa sebuah ucapan juga mas tau kalau aku sangat mencintai mas." jelas Syeilla tersenyum lembut.
"Kamu sangat cantik sayang." puji Aiden saat matanya menatap lekat senyuman Syeilla yang sangat menenangkan hatinya.
Ting tong
Suara bel pun berbunyi menandakan ada orang bertamu.
"Sebentar ya mas bukakan pintu dulu." Aiden pun berlalu dari hadapan Syeilla lalu menuju ke arah pintu dan membukanya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Aiden saat melihat dua orang yang sepantaran dengan umur almarhum mamanya.
"Maaf nak apa ini rumahnya Syeilla?" tanya mereka dengan sopan.
"Ah iya benar."
__ADS_1
"Siapa mas?" tanya Syeilla dan berdiri di samping suaminya.
"Syeilla." Lita pun langsung memeluk tubuh Syeilla dengan erat.
"Tante, om. Ayo silahkan masuk." Syeilla mempersilahkan keduanya masuk dan membawanya ke ruang tamu.
"Silahkan duduk tante." ucap Syeilla kemudian ia pun hendak berlalu namun dihentikan oleh suaminya.
"Sayang kamu temani saja om dan tante biar aku yang memanggil bibik." Aiden pun berlalu dari hadapan mereka bertiga.
Interaksi keduanya tidak luput dari perhatian Lita dan ia tersenyum mengetahui bahwa Syeilla juga bahagia.
"Sayang ada yang mau tante bicarakan sama kamu."
Lita menatap mata Syeilla dengan serius.
Sejenak ia menghela napasnya dengan perlahan.
"Apa benar kamu mengetahui semua perbuatan nenek kamu?" tanya Lita sontak Syeilla pun kaget mengenai maksud tantenya.
"Maksud tante mengenai nenek? Perihal apa?"
"Syeilla kami sudah tau semuanya dan kamu tidak perlu lagi menutupinya." seru Johan dengan tenang.
"Jika maksud kalian mengenai keburukan nenek Syeilla memang tau om, tante. Dari Syeilla kecil lagi. Tapi dari mana kalian mnegetahuinya?"
"Sebuah diary yang kamu tulis sendiri Syeilla. Kami mengetahuinya dari situ." Lita pun mengangguk.
"Maafkan Syeilla om, tante karena sudah menyakiti Elena tapi semua Syeilla lakukan untuk melindunginya dari kebencian nenek."
"Kami tau nak untuk itu kami datang kemari untuk meminta maaf dan berterima kasih sayang" Lita memeluk Syeilla sambil menangis mengingat betapa bersalahnya ia dulu karena sudah membenci orang yang telah melindungi putrinya sendiri bahkan mereka sendiri tidak melakukannya.
"Semua sudah berlalu tante dan semua sudah menjadi kewajiban Syeilla sebagai saudara Elena yang lebih tua."
"Kamu pasti sudah melewati banyak hal sayang. Maafkan tante."
__ADS_1
"Dari semua hal yang pernah menimpa Syeilla semua baik-baik saja kecuali satu tante" Syeilla menatap wajah Lita dengan air mata berlinang.
"Apa itu sayang?"
"Kematian mama dan papa juga didalangi oleh nenek."
"Ya Tuhan kenapa dengan nenek kamu." isak Lita tak habis pikir.
"Karena.... saat itu Syeilla menolak untuk membunuh Elena dan saat itu Syeilla juga hampir mati saat nenek menjatuhkan Syeilla dari jurang sampai mengalami patah tulang itulah alasan kenapa Syeilla menghilang sampai bertahun-tahun."
Prang...
Aiden menatap Syeilla dengan tatapan tak percayanya.
"Separah itukah nenek mereka memperlakukan istriku" Johan, Lita dan Syeilla menatap kaget ke arah Aiden yang tengah menatap mereka dengan tangan mengepal erat. Wanita yang disebut nenek mampu berbuat hal sekeji itu pada istrinya hanya karena tidak mau menuruti kemauannya dan sekarang istrinya harus menanggung semua kesalahan yang bahkan tidak pernah ia lakukan.
"mas" bisik Syeilla mendekati dan menenangkan suaminya yang diliputi kemarahan.
"Bisakah kalian keluar dari rumahku." desis Aiden dengan marah.
"Keluar!!!!" teriaknya dengan mata memerah sedangkan Syeilla sudah menangis dalam pelukannya.
Aiden tidak akan menerima sumber kesakitan yang di alami oleh istrinya.
"Jangan pernah menemui istriku lagi dan sampaikan pada keluargamu yang kain untuk menjauhi istriku atau aku akan menghancurkan kalian semua!"
"Dan sampaikan pada wanita tua sialan itu untuk menetap di neraka." selesai dengan kalimatnya ia segera membawa Syeilla pergi dari sana.
Lita dan Johan seolah ditampar oleh kenyataan bahwa mereka lah awal dari semua penderitaan keponakan mereka.
❤❤❤❤❤
Maaf ya sangat pendek... Autor masih diserang flu dan filek. Dan itu susah banget buat nulis...
Guysss maaf kemarin ada kesalahan adegan tapi sudah diperbaiki.
__ADS_1