LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Bab 14 (Season 3)


__ADS_3

Syeilla menatap nanar punggung putri sulungnya yang berjalan lesu menaiki anak tangga. Ia lalu melihat ke arah putri keduanya yang seolah tidak merasakan apa pun. Ia berjalan dan menatap putrinya dengan tegas.


"Cally, kamu tidak boleh berkata seperti itu sama kakakmu."


Gadis itu mengalihkan atensinya dari majalah yang sedang ia pegang, menuju ke arah ibunya.


"Ma, aku hanya mengatakan yang sebenarnya, lagi pula dia terlalu baper."


Syeilla menutup matanya perlahan lalu membukanya. Tatapannya terlihat berbeda dari biasanya.


"Jika kamu menganggapnya sebagai saingan maka tidak dengan Alya. Dia sangat menyayangimu. Jangan sampai kamu menyesal ketika tahu sebuah kebenaran. Mama kecewa atas sikapmu Cally."


Syeilla segera pergi dari sana menuju kamar putrinya. Tangan gadis itu mengepal erat sampai memerah.


"Halo dear, sedang apa?" tanya Aiden dari arah dapur.


"Papa, apa Mama tidak menyayangiku?" tanya Cally dengan wajah sedih.


"Nak, Mama dan Papa sangat menyayangi kamu. Percayalah!"


"Tapi kenapa Mama seolah membenciku, apa aku ini tidak berhak diberi kasih sayang."

__ADS_1


Tangis Cally pecah, Aiden menghela napas lalu memeluk putrinya dengan erat.


"Nak, sama seperti Alya, kami sangat menyayangimu melebihi apa pun di dunia ini."


"Tapi Pa ...," ucapnya terjeda saat Aiden memberi isyarat pada bibirnya.


"Dengarkan Papa Nak, tidak ada orang tua mana pun yang tidak menyayangi anak sendiri. Mama dan Papa sangat menyayangi kamu."


"Kalau Papa diberi pilihan antara harus meyelamatkan Cally dan Alya, siapa yang akan Papa tolong."


Aiden mengerutkan kening mendengar pertanyaan dari putrinya.


"Tentu Papa akan menyelamatkan kalian berdua."


"Maksud Cally seandainya Papa hanya bisa menyelamatkan salah satu dari kami berdua, siapa yang akan Papa selamatkan?"


Aiden tampak berpikir panjang untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ia menatap putrinya lalu mengelus lembut rambut kepirangan milik Cally.


"Tentu saja Papa akan menyelamatkanmu Nak. Kalau Alya bisa bertahan dalam keadaan apa pun sedangkan kamu sangat rapuh."


Sudut mata gadis yang sedang ingin menuruni tangga terhenti seketika. Ia menghapus air matanya. Setelah berbicara sebentar dengan Ibunya ia hendak turun untuk mengambil air minum.

__ADS_1


"Papa, benar! Aku sangat kuat sedangkan Cally terlihat rapuh. Tapi apa Papa melupakan satu hal dariku." bisiknya.


Kakinya kembali berbalik sembari menghapus air mata. Namun, tubuhnya dilihat oleh Aiden. Pria itu terlihat memanggilnya ke bawah. Mau tidak mau kakinya melangkah pelan menuruni anak tangga.


"Ada apa Pa?"


"Papa cuma mau bilang, jangan terlaku cemburu dengan Cally. Dia adikmu juga," ucap Aiden tajam.


Alya melihat ke arah Cally yang sedang tersenyum puas ke arahnya. Ia kembali megalihkan tatapannya pada Aiden.


"Baik, Pa. Tidak akan Alya ulangi," ucapnya lelah. Toh apapun alasannya ia tetap saja terlihat salah di mata Aiden.


"Ya sudah, kamu segera tidur ya! Papa masih mau mengobrol dengan Cally."


Kaki lemahnya berjalan gontai ke arah dapur, setelah selesai ia segera kembali ke kamarnya.


Ketika menaiki tangga, Cally terlihat menyusul dari bawah sambil memegang ponselnya.


"Iya Sayang, aku mau kok, aku juga mencintaimu." Cally sengaja menekankan kalimatnya saat berdekatan dengan Alya. Setelah puas gadis itu segera menuju kamarnya.


Lagi-lagi hatinya masih terluka saat mendengar pria yang sangat ia cintai dengan mudahnya beralih pada gadis lain.

__ADS_1


"Kenapa lagi-lagi hati ini harus merasakan perihnya sebuah luka." gumanya pelan.


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2