
Seorang pemuda sedang memainkan mata pisau. Ia merobek poto seorang gadis yang sangat cantik. Sorot mata tajamnya menatap bengis pada objek yang sedang ia sobek-sobek. Selang beberapa menit, tawanya membahana menguasai seluruh ruangan.
"Alya! Aku tidak akan melepaskanmu sampai mati." desisnya diselingi tawa suram yang terdengar sangat jahat.
"Apa pun akan aku lakukan untyk menebus dendam yang selama ini menggerogotiku."
Ia kembali tertawa dengan keras. Tangannya dengan lihai menyobek dan mengiris poto tersebut.
Di kediaman keluarga Aiden. Mereka sedang berkumpul bersama keluarga Elka. Kedatangan Elka jugs memiliki maksud dan tujuan.
"Jadi siapa yang mau dilamar di sini?" tanya Elka sambil menaikkan alis untuk menggoda dua keponakannya.
Cally tampak gugup, pasalnya ia tidak tahu menahu mengenai lamaran yang dibicarakan oleh pria yang duduk di depannya. Ia memandang ibunya yang tampak terbiasa dengan pria tersebut.
"Elka jangan menggoda putriku." dengkus Eiden kesal.
Pria yang Cally sangka sebagai tua-tua keladi makin tua makin menjadi itu, yang ingin melamar salah satu dari mereka. Bulu kuduk Cally kerap meremang membayangkan ia dijadikan sebagai istri.
"Maafkan Om," ucapnya sambil tertawa. "Lihatlah wajah Cally Ai, sampai pucat begitu!" yunjuknya dan kembali tertawa.
__ADS_1
"Wajar kalau putriku sampai bereaksi berlebihan. Kamu terlihat seperti pedofil." Sarkas Aiden membuat tawa Elka merembes kepermukaan.
"Mana Nevan?" tanya Syeilla.
"Katanya sebentar lagi sampai, anak itu kadang-kadang suka terlambat. Mentang-mentang lahirnya telat lima menit dari yang seharusnya." rutuk Elka membuat tawa Cally pecah.
Orang tua macam apa yang suka merutuk anaknya yang telat lahir. Tidak ada yang lain kecuali Elka. Pria dengan kepribadian sok ganda.
Eiden dan Syeilla tersenyum melihat tawa putrinya. Sudah sekitar dua puluh menit mereka berbincang tapi bstang hidung Alya belum juga kelihatan. Syeilla meminta izin untuk memanggil putrinya.
"Mas, Alya belum juga muncul. Aku mau cek sebentar ya!" Eiden mengangguk lalu melanjutkan kembali obrolan mereka.
Kaki Syeilla sudah menaiki tangga satu per satu menuju lantai dua. Ia mengetuk pintu setelah berada di depan kamar Alya.
Syeilla terperangah melihat sosok yang tak lain dan tak bukan, putrinya sedang tertidur dalam kondisi masih berendam dalam bath up.
"Nak ... Nak, bangun!" Syeilla menepuk pelan pipi putrinya yang dingin.
Kekhawatiran tiba-tiba menyeruak memenuhi rongga hatinya. Ia segera pergi keluar kamar lalu memanggil suaminya. Aiden beserta yang lain segera naik saat mendengar teriakan Syeilla.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Aiden khawatir.
"Mas, Alya ... Alya tidur di bath up dan wajahnya sangat dingin!" teriak Syeilla histeris.
Aidn segera masuk ke kamardan melihat putrinya terbaring. Ia hendak mengangkat tubuh putrinya saat sebuah dengkuran halus terdengar. Ia melihat wajah Alya yang terlihat sangat lelap. Cally pun memeriksa wajah saudarinya yang memang dingin. Namun, lebih seperti, Cally melihat sekeliling dan menemukan satu wadah kecil berisi es batu.
Cally mengambiknya dan menunjukkan pada Syeilla.
"Ma, kayaknya Alya tertidur sambil mengusap wajahnya menggunakan es batu ini." tunjuk Cally.
"Ya Tuhan, Mama pikir Alya kenapa-napa."
Nevan sudah sampai di halaman rumah Alya. Ia segera masuk yanpa menekan bel lagi. Kosong, itulah yang ia lihat saat matanya menatap ruang tamu.
"Papa bilang mereka di ruang tamu, mana buktinya!" dengkus Nevan.
"Nggak ada siapa-siapa di sini!" Nevan keluar untuk melihat mobil ayahnya. "Masih ada mobilnya, apa mungkin mereka menghilang diculik alien."
"Tapi masa iya, Papa diculik sama alien kasian aliennya dong!"
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺
Hello semuanya.. Guys betewe aku nggak bisa balas komentar kalian hehe maafkan kesibukanku yang haqiqi ini...