
Ariel menatap langit malam sambil merenung panjang. Hari itu, dimana Zia makan bersama Dion sangat membuatnya terganggu. Ia takut bagaimana kalau Zia berpindah hati pada Dion dan melupakannya. Haruskah ia menemui Zia.
Ia galau dengan ketakutannya sendiri. Ia sangat mencintai Zia, jika harus kehilangan maka ia tidak akan pernah sanggup. Ia akan menguatkan tekadnya agar hubungannya dengan Zia tetap menjadi pasangan.
"Tidak baik bujang lapuk melamun di malam hari." tegur Mark sambil membawa dua minuman kaleng dan memberikannya pada Ariel. Mendengar Mark menyebutnya bujang lapuk, Ariel mendengus dengan kesal sambil menerima minuman tersebut.
"Apa lagi kali ini?" tanya Mark dengan serius.
"Jika kau melihat kekasihmu makan siang dengan pria lain, menurutmu berapa persen kemungkinan mereka cinta lokasi?"
Mark mengerutkan keningnya laku ia teringat dengan wanita yang beberapa minggu belakang diceritakan Ariel padanya.
"50-50." jawab Marka serius.
Ariel melirik Mark dengan kesal. Ia mencari pendapat untuk menenangkannya bukan malah membuatnya bertambah khawatir.
Mark menarik napasnya dengan pelan.
"Kalau kau memnag mencintainya, perjuangkan dan tunjukkan bahwa kau pantas mendampinginya, bukan malah berdiam diri menunggu pria lain yang mengambil peranmu. Dasar bodoh." ejek Mark.
Entah kenapa semua yang diucapkan oleh Mark benar adanya, ia seharusnya berjuang bukan malah menghindar seperti sekarang. Lawannya Dion, orang yang tidak bisa ia anggap remeh mengingat pria itu juga memiliki ketampanan di atas rata-rata.
Ariel menatap Mark lalu kemudian mengucapkan terima kasih, karena sudah menyadarkannya.
"Itulah gunanya teman bro, dan itu juga gunanya berbagi." kekeh Mark dan masuk ke dalam meninggalkan Ariel yang masih setia di luar.
__ADS_1
""""""
Syeilla berjalan dengan tergesa-gesa akibat ulah suaminya tadi malam.
"Aduhh." pekiknya. Ia berhenti sejenak untuk menetralkan rasa ngilu pada kakinya.
"Sendirian?" tanya Ariel sambil menyodorkan sebotol minuman untuk Syeilla.
Syeilla menerimanya sambil tersenyum hangat.
"Bagaimana dengan Aiden?" tanya Ariel.
"Untung saja saat itu aku datang tepat waktu, kalau tidak, ia mungkin sudah tinggal nama." beritahu Syeilla membuat Ariel terkekeh.
"Pria itu ternyata bisa juga bucin." gumam Ariel.
"Apa sudah enakan?" tanya Ariel lembut.
Syeilla menganguk sambil tersenyum tulus.
"Apa kakak sudah menemui Zia?"
Ariel berhenti melakukan aktivitasnya. Ia menatap langit yang cerah dengan helaan napasnya.
"Mau sampai kapan kakak membuatnya menunggu?" Syeilla memperhatikan gerak gerik Ariel yang tampak gelisah.
__ADS_1
"Kemarin dia makan siang dengan Dion, apa menurutmu Dion berpotensi mengancam posisiku?" tanya Ariel dengan serius.
"Dion di Rusia?" tanya Syeilla dengan napas tercekat.
"Apa aku salah bicara?" ujar Ariel lalu kemudian ia memukul kepalanya dengan kesal.
"Dia sudah banyak berubah, sosoknya semakin tampan."
"Apa kakak memujinya?" kekeh Syeilla.
"Kapan aku memujinya?" elak Ariel.
"Yang barusan apa namanya kak?" tawa Syeilla pecah saat wajah Ariel memerah menahan malu.
"Sudah, lupakan Dion. Sekarang beri kakak mu ini masukan." pinta Ariel yang tamoak nelangsa memikirkan hubungannya.
"Sekedar saran aja ya kak, sebaiknya kakak segera menemui Zia, kasihan dia datang jauh-jauh kemari hanya untuk mencari kakak. Jangan sampai Zia lelah dan bosan menunggu kakak yang tak kunjung datang. Apalagi kalau hadir sosok pria yang mampu membuatnya mengalihkan perhatian Zia, apa kakak sanggup kehilangan Zia?" Syeilla terus membombardir agar Ariel segera menemui Zia.
"Apa menurutmu Zia akan begitu?" tanya Ariel tampak ragu.
"Hati wanita tidak ada yang tau kak selain daripada si pemilik tubuh dan sang pemilik kehidupan."
Semua ucapan Syeilla dan Mark berseliweran di kepalanya. Setelah menimbang banyak hal, Ia sudah membuat keputusan.
❤❤❤❤❤
__ADS_1
Bagaimana? Sudah cukup?
Btw nama kekasih Elka siapa hahahha