LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Season 4 (Bab 14)


__ADS_3

SEBULAN setelah Elena berkunjung ke rumah Altaf. Keluarga Altaf memutuskan bahwa Elena dan Altaf akan menikah secepatnya mengingat Merisa sudah tidak sabar lagi untuk menjadikan Elena menjadi menantunya. Ia menyadari ada sesuatu yang istimewa dalam diri Elena yang tidak diketahui oleh orang kain dan betapa beruntungnya dia menyadarinya.


"Aku tak percaya sebentar lagi aku akan menikah dengan Altaf." ucap Elena bahagia.


Ia menyadari bahwa semakin berlalunya waktu rasanya pada Altaf semakin dalam. Untuk itu ia sangat bersyukur bisa menikah dengan lelaki yang ia cintai.


Dua minggu kemudian...


Pernikahan antara Elena dan Altaf akan dilaksanakan hari ini. Altaf yang kini sudah duduk dihadapan penghulu pun sedang bersiap untuk melaksanakan akad nikah.


"Saya terima nikah dan kawinnya Elena Aurora Calysta binti Johan dengan seperangkat alat solat dan uang senilai sepuluh juta rupiah dibayar tunai." lafaz Altaf dengan lancar tanpa hambatan.


"Sah."


"Sah."


Teriak para saksi dengan keras. Elena pun menangis dengan mengharu biru. Ia tak menyangka bahwa Tuhan mendengar segala doanya dengan menyatukan dia dengan Altaf yang kini sudah berstatua sebagai suaminya. Merisa menuntun menantunya mendekat pada Altaf dan segera mencium kedua tangan suaminya.


"Terima kasih untuk semua kebahagiaan ini." ucap Elena berbisik pelan pada Altaf.


"Jangan berterima kasih sweetheart, karena antara suami istri tidak ada kata terima kasih." ucapnya dengan lembut dan mencium kening istrinya dengan sayang.


Siapa yang tahu dibalik sikapnya yang seolah menerima Elena sebagai istrinya tersimpan dendam yang amat besar sampai tak ada yang menyadari bahwa dibalik ketenangannya ia sudah menyusun rencana sedemikian rapinya untuk membalas Elena.


"Sedikit lagi kau akan segera membayar semuanya ELENA!" ucap batinnya dengan kejam.


Malam ini acara resepsi akan dilaksanakan dengan sangat meriahnya. Beberapa artis tanah air juga ikut diundang untuk menghadiri pernikahannya yang sangat mewah. Elena yang sudah lelah berdiri selama tujuh jam ditambah ia memakai highill setinggi 12 cm menambah pegal seluruh badannya terutama bagian kakinya. Ia hanya berharap semoga acaranya cepat selesai. dan akhirnya acara pun telah usai dilaksanakan kini Elena bisa menarik napas dengan lega.


Ia bisa beristirahat dengan tenang atau mungkin ia akan segera melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia segera membersihkan diri terlebih dahulu sambil menunggu Altaf yang kini masih berada di bawah bersama sepupunya. Elena sudah selesai mandi dan segera membuka pintu kamar mandinya dan ia sedikit terkejut dengan keberadaan Altaf. Ia berjalan dengan gugup menuju ranjang mereka dimana Altaf duduk.


"Aku sudah selesai mandi mas, kamu juga segera mandi." ucapnya dengan lembut sambil mencoba membantu suaminya melepas baju pestanya.

__ADS_1


Namun Altaf segera menepis tangan Elena yang bahkan belum sampai menyentuh bajunya.


"Loh kenapa mas?" tanya Elena bingung.


"Aku bisa sendiri dan malam ini kamu bisa tidur di sofa." ucapnya dan menghilang dibalik pintu kamar mandi.


"Ada apa dengannya, mengapa sangat aneh." pikir Elena dengan bingung.


Pasalnya selama ini sikap Altaf sangat lembut namun tiba-tiba menjadi aneh begini."


Elena segera merebahkan dirinya di ranjang kingsize milik Altaf dan segera menuju alam mimpi. Altaf yang kini telah selesai mandi pun dibuat geram karena Elena tidak mengindahkan perkataannya. Ia pun segera menuju ranjangnya dan membangunkan Elena secara paksa.


"Hei! Bangun. Siapa yang menyuruhmu tidur disitu hah!" teriaknya melengking. Sontak Elena yang dibangunkan secara paksa pun terkejut bukan main.


"Kenapa sih mas aku kan lagi tidur. Aku sangat mengantuk." ucapnya sambil mengucek kedua matanya.


"Kan sudah kubilang kau tidur di sofa, apa kau tuli hah!" Altaf berteriak dengan murka.


Elena yang tak paham mengapa kepribadian Altaf yang lembut dan penyayang tiba-tiba berubah drastis seperti ini menjadi bertanya-tanya sendiri. Elena yang sudah kelelahan pun tak banyak membantah. Ia segera mengambil bantal dan selimut dan segera merebahkan dirinya ke sofa dan mencoba memejamkan matanya namun sialnya matanya sudah terlanjur ngambek karena tadi dibangunkan secara paksa. Elena menghela napasnya pelan.


Pagi pun telah tiba kini Elena sudah terbangun dengan badan yang sangat pegal-pegal sehingga ia merasa sangat kelelahan. Ia mencoba bangun namun anggota tubuhnya tak mereapon dengan baik.


"Bagaimana ini aku tak bisa menggerakkan tubuhku." ucapnya khawatir. Ia khawatir Altaf terbangun dan melihat kondisinya yang sekarang. Ia terus berusaha untuk menggerakkan badannya hingga kekakuan itupun berakhir sudah. Kini ia sudah dapat menggerakkan kembali tubuhnya.


"Nanti aku harus menjumpai Anna." ucapnya dan berlalu menuju kamar mandi setelah tubuhnya mampu ia gerakkan kembali.


Selesai mandi Elena segera menuruni tangga dan membantu bik Sum memasak di dapur.


"Selamat pagi bik Sum." ucapnya dengan ceria.


"Eh pagi juga non. Kenapa pagi sekali sudah bangun non." ucap Sumi heran.

__ADS_1


"Aku sudah tidak bisa lagi tertidur Bi makanya aku segera kemari soalnya masakan bibi wanginya sangat harum." seru Elena dengan semangatnya.


"Bik boleh gk aku bantu memasak." tanya nya penuh harap.


"Eh jangan non nanti saya dimarahi nyonya." ucap Sum dengan sungkan.


"Tidak apa-apa kok bi. Boleh ya." mohon Elena dengan mata imutnya.


"Hahaha baiklah non tapi yang ringan-ringan saja ya non."


"Ok siap bik." Elena pun segera melangkah dan mengerjakan perkerjaan memasak.


Kini harum masakan Elena pun sudah tercium oleh indra penciuman penghuni rumah ini. Merisa pun segera menuju dapur dan ia melihat menantunya sedang berkutat di dapur.


"Jadi ini sumbernya." ucap Merisa senang.


"Pagi sayang. Wah lagi masak apa." tanya Merisa penasaran.


"Oh ini cuma nasi goreng kampung kok mom." ucap Elena malu-malu.


"Pasti enak. Mommy bantu ya." seru Merisa semangat.


"Udah siap kok mom. Mommy duduk saja di meja makan ya. Nanti Elena bawa kesana." ucap Elena dan mendudukkan mertuanya di meja makan.


Merisa tersenyum simpul melihat tingkah menantunya itu.


"Ya Tuhan dia lucu sekali kalau lagi begitu." ucap Merisa menggelengkan kepalanya.


Ia sangat menyukai karakter Elena yang tergolong simpel dan poin pentingnya menantunya sangat memperhatikan dirinya yang bahkan tak ia dapatkan dari Altaf yang notabenenya anak kandung Merisa.


"Ck beruntung sekali anak nakal itu." dengusnya dengan kesal.

__ADS_1



----


__ADS_2