
Note: diharapkan sebelum membaca part ini ada baiknya baca Al-fatihan atau istigfar sejenak untuk menghindari hal-hal yang bisa membuat kalian terlalu senang sehingga menyebabkan stroke berkepanjangan😁😁
Selamat membaca 💋💋
******
Pagi itu Aiden kembali menggila. Ia membanting semua yang ada di depannya. Bahkan meja makan pun menjadi sasarannya. Perasaan marah, benci dan rindu bercampur menjadi satu. Perasaan perih seiring dengan hatinya yang kian kosong setelah di tinggal pergi oleh penghuninya.
Jeslyn, satu nama yang terus ia sebut dalam setiap rindu malamnya dan satu nama pula yang ia sebut saat matanya mengobarkan kebencian. Syeilla.
"Arrrgggg" teriaknya dengan menggila sedangkan Claudi hanya mampu duduk membeku di tempatnya. Ia baru saja akan makan namun amukan Aiden menghentikannya.
"Semua karena kau!! Kenapa kau tidak mati saja!" serapah Aiden saat matanya menatap tajam tubuh kaku Syeilla. Ia kemudian berjalan ke arah Syeilla dan menarik rambut Syeilla dengan kasar hingga Syeilla memekik kesakitan.
"Aiden lepaskan tanganmu. Sakit Aiden" lirih Syeilla dngan air mata yang mulai membanjiri wajahnya.
"Sakit kau bilang. Sakit! Hatiku lebih sakit lagi dan semua karena kau Syeilla. Semuanya karena kau! Hahaha" Aiden kembali kian menjadi dan semakin mengencangkan tarikan tangannya di rambut Syeilla.
"Aiden lepaskan" ucap Syeilla dengan terbata-bata. Pandangannya bahkan sudah mengabur seiring kuatnya tarikan Aiden pada rambutnya. Sedangkan para pembantunya tidak bisa berbuat apapun hingga Linda memanggil seseorang atau nona nya akan mati.
"Aku tidak akan melepasnya sampai aku puas tapi sayangnya aku tidak akan pernah puas hingga melihatmu menderita Syeilla hahaha. Kau dengar! Aku baru akan puas kalau kau sudah diambang batasmu!" teriak Aiden lalu sedetik kemudian rambut yang ia tarik pun terlepas dari tempanya dan bruk Tubuh Syeilla pun tumbang seketika di atas meja dengan darah membanjiri hidungnya. Kepalanya yang sakit tidak lagi sanggup mempertahankan kesadarannya. Bahkan jika bisa ia jabarkan sakitnya kalian tidak akan tau bagaimana rasanya.
"Apa yang kau lakukan brengsek!!" teriak sebuah suara dengan nyaring. Ia berlari ke arah tubuh Syeilla lalu menatap mata Aiden dengan berani dan plak. Ia menampar wajah Aiden dengan segenap kebenciannya. Cukup sudah ia membiarkan Syeilla disiksa maka kali ini ia yang akan menyiksa Aiden.
"Ariel bawa Syeilla ke rumah sakit biar lelaki brengsek ini aku yang mengurusnya" Ariel pun segera melarikan Syeilla ke rumah sakit sedangkan Zia masih berada di tempatnya.
"Kau akan menyesal telah membuat Syeilla seperti ini! Kau ingat satu hal Aiden. Tuhan itu tidak buta dan ia akan membalasmu beribu kali lipat dari apa yang sudah kau lakukan padanya. Cih Syeilla terlalu baik untuk lelaki brengsek sepertimu" Zia meninggalkan Aiden dengan kemarahan yang luar biasa. Jika Aiden hanya mencaci maki Syeilla ia masih bisa terima tapi tidak dengan kekerasan.
"Hahahah kau bawa pembawa sial itu dari rumahku kalau perlu kau bawa dia pergi jauh dariku karena aku sangat muak melihatnya" teriak Aiden dengan lantang. Matanya sedingin bongkahan es di antartika.
Zia pun menghentikan langkahnya lalu berbalik hingga matanya dan mata Aiden bertemu. Zia tersenyum sinis menatap kesombongan Aiden.
"Aku memang akan membawanya pergi sejauh mungkin darimu hingga hembusannya pun tidak akan aku biarkan kau menciumnya! Jika kau memang seorang lelaki maka pegang dengan erat janjimu karena jika kau sudah sadar jasadnya pun tidak akan kau temukan dimanapun! Camkan itu bajingan"
Zia segera pergi meninggalkan kediaman Aiden lalu segera menuju rumah sakit tempat Syeilla di rawat.
Sesampainya disana Zia segera menemui Ariel untuk membahas sesuatu.
"Ada apa Zia?" tanya Ariel saat mereka sudah di ruangan Ariel.
"Ariel aku akan membawa Syeilla pergi dari Indonesia untuk kebaikannya dan calon bayinya" ujar Zia dengan serius. Matanya bahkan masih menyimpan sejuta kebencian.
"Apa kau yakin?" tanya Ariel.
__ADS_1
"Aku sangat yakin Ariel, Syeilla juga sudah setuju akan hal ini dan besok kami akan segera berangkat"
"Tapi kondisi Syeilla tidak memungkinkan untuk melakukan penerbangan" seru Ariel dengan khawatir.
"Kalau masalah itu kau tidak perlu khawatir karena dokter Elka akan ikut bersama kami"
"Apa aku bisa ikut juga?" tanya Ariel dengan penuh harap. Ayolah mana rela dia jika Zia pergi dengan dokter Elka.
"Tapi kau memiliki tanggung jawab disini"
"Aku akan meminta sepupuku untuk menggantikannya" jawab Ariel dengan mantap.
"Terserah kau saja" Zia pun segera keluar dari ruangan Ariel dan menuju ke ruang rawat Syeilla saat ini.
"Terima kasih" ujar Syeilla dengan lemah. Ia sudah sadar tiga puluh menit yang lalu. Zia mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dengan lembut.
"Kita akan pergi besok ke negara dimana tidak akan ada seorang pun yang bisa menemukanmu"
Syeilla pun tersenyum. Air matanya jatuh dengan perlahan. Dari banyaknya orang di dunia ini ia beruntung dipertemukan dengan Zia. Zia orang pertama yang menganggapnya sebagai teman, keluarga, saudara dan sekaligus sebagai ibunya.
"Kenapa malah menangis? Apa kau tidak siap meninggalkannya" tanya Zia sambil mengusap wajah pucat Syeilla yang dibalas gelengan oleh Syeilla.
"Aku hanya merasa Tuhan masih berbaik hati padaku dengan mengjadirkanmu di tengah badai kehidupanku dan aku sangat berterima kasih padaNya" Ucap Syeilla dengan tulus.
"Aku harap tawa itu akan selalu tersemat di bibir manismu Syeilla" ujar seseorang dibalik pintu.
Keesokan harinya...
Zia, Ariel dan Elka sudah mempersiapkan segala keperluan Syeilla selama di pesawat jika terjadi hal-hal yang tidak mereka inginkan.
"Apa sudah siap?" tanya Elka pada ke tiganya.
"Sudah" jawab Zia lalu mereka pun segera ke bandara Soekarno Hatta menuju negara Slovenia yang terkenal akan keindahan alamnya dan itu akan bagus untuk psikis Syeilla.
"Selamat tinggal Aiden, selamat tinggal Indonesia. Maaf Aku sudah lelah" Syeilla meneteskan air mata terakhirnya dan meninggalkan Indonesia bersama Elka, Zia dan Ariel menuju sebuah negara yang tidak akan diketahui oleh siapa pun. Ia akan meninggalkan semua lukanya dan memulai hidup barunya disana.
****
"Syeilla..." teriaknya dengan nyaring namun hanya Linda yang muncul disana.
"Mana Syeilla?" tanya nya dengan tajam. Linda pun menjawabnya dengan tergagap.
"Nona kan sudah pergi dari sini tuan"
__ADS_1
"Ah wanita itu akhirnya pergi juga hahaha. Baguslah" ujarnya lalu melangkah menuju mobilnya. Ia tidak jadi berselera sarapan.
Ia kemudian pergi ke kantornya seperti hari-hari biasanya. Tidak ada perasaan sedih selain rindu yang ia rasakan pada kekasihnya yang sudah pergi.
"Ku harap kau akan bahagia di sana sayang" gumamnya dengan lirih.
Tok
Tok
"Masuk"
"Maaf pak ada tamu sedang menunggu di luar"
"Persilahkan beliau masuk" ujar Aiden pada sekretarisnya.
"Baik pak"
Sekretarisnya pun keluar dan mempersilahkan tamu tersebut masuk.
"Selamat pagi pak Aiden" sapa tamu tersebut sembari melangkah masuk dan dipersilahkan duduk oleh Aiden.
"Ada apa pak Altaf kemari? Apa kontrak kerja sama kita ada yang harus diperbaiki?" tanya Aiden dengan pelan.
"Oh tidak pak. Jadi begini, saya dan istri saya bermaksud untuk mengajak bapak beserta istri untuk menghadiri acara ulang tahun perusahaan kami yang ke 35, di hotel Alexandria besok malam pukul 19:00 s/d selesai" ujar Altaf panjang lebar yang sontak membuat senyuman Aiden luntur.
Mengajak istri? Ia bahkan tidak tau dimana Syeilla sekarang dan untuk apa juga ia peduli.
"Baik pak Altaf, akan saya usahakan datang jika tidak berhalangan dan terima kasih banyak atas undangannya. Saya sangat tersanjung" ujar Aiden dengan sopan.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak" pamit Altaf dan segera beranjak dari sana.
Aiden menatap kepergian Altaf dengan tatapan yang ia sendiri tidak tau bagaimana cara menjabarkannya yang jelas satu nama yang selalu ia ingat dengan kebencian kini merasuk ke dalam sanubarinya.
"Syeilla" ucapnya dengan pelan. Namun ada sebuah kekosongan yang ia rasakan di ruang hatinya yang paling dalam.
Ia merogoh handphone nya dan segera menghubungi seseorang di seberang sana.
"Cari keberadaan Syeilla di setiap rumah sakit yang ada di kota ini" perintahnya pada seorang detektive swasta yang biasa ia pakai untuk menyelidiki seauatu.
"Syeilla" kembali nama itu terucap dari bibirnya. Seharusnya ia senang dan bahagia karena wanita yang ia katakan pembawa sial kini sudah tidak ada lagi di sekitarnya namun kembali kekosongan memenuhi ruang hatinya.
"Aku pasti sedang tertekan saja karena kepergian Jaslyn" elaknya dan kembali dusuk di kursi kebesarannya.
__ADS_1
❤❤❤❤