
Mereka berdua menghabiskan waktu sekitar dua jam dan tidak membicarakan sesuatu yang penting. Mereka hanya sekedar mengenang masa lalu.
Dion tampak terlihat lesu saat bayangan Auxillia melintas dipikirannya. Ia tidak tau apakah ini bentuk bersalahnya atau tidak namun ia merasa kesepian tanpa mendengar celotehan wanita itu.
"Ada apa?" tanya Syeilla saat melihat wajah muram Dion yang tampak tidak bersemangat. Syeilla wanita yang sangat peka dan perasa. Dion menatapnya sambil menghela napas.
"Ada seorang perempuan yang selalu merecoki hidupku beberapa bulan ini, dan aku mengabaikannya." cerita itu mengakir tanpa hambatan.
Syeilla tampak serius mendengarkannya.
"Sampai suatu hari, dia mengatakan bahwa dia mencintaiku dan aku menganggaonya sebagai bualan belaka. Aku juga mengatakannya dengan dingin." Dion menghela napasnya.
Syeill masih mendengarkan tanpa memotong atau menambahkan. Ia membiarkan Dion selesai bercerita baru ia akan menanggapinya.
"Aku melihatnya sempat menahan air matanya sebelum memutuskan pergi dan aku tidak mengejarnya sama sekali, aku pikir kami akan bertemu keesokan harinya dan meminta maaf padanya. Namun, ia bahkan sudah tidak bekerja lagi dan sekarang sudah ada yang menggantikannya." desah Dion.
"Sudah selesai?" tanya Syeilla, Dion mengangguk.
Syeilla menatap dalam manik tajam Dion dan berkata.
"Kau tau Dion terkadang kita harus menyingkirkan sebuah ego jika ingin bersama dengan orang yang kita cintai tanpa menyadarinya." Dion tampak serius mendengar penuturan Syeilla.
"Kau tau, untuk mendapatkan batu mulia kau harus mengobok-obok batu yang biasa agar kau tau cara menghargainya. Kalau kau memang mulai mencintainya maka kejar dan buktikan bahwa kau, pantas untuk meraihnya. Wanita itu hatinya lembut namun sekalinya kau sakiti bentuknya tidak akan lagi sama." Dion menatap Syeilla dengan dalam.
__ADS_1
"Apa?" tanya Syeilla dengan bingung.
"Bagaimana dengan dirimu dulu?" tanya Dion.
Syeilla menghela napasnya dengan pelan dan tersenyum.
"Wanita itu mudah tersakiti dan mudah memaafkan, namun apapun itu setiap wanita menunjukkan cara berbeda dalam mencintai pasangannya."
"Contohnya kau." tunjuk Dion dengan hati lega.
"Ya kau benar, mungkin banyak orang yang mengatakan aku bodoh tapi percayalah defenisi bodoh sangat berbeda jauh denganku." Dion tersenyum melihat senyuman Syeilla yang yanpa beban.
Ia tidak ingin menanyakan mengapa Syeilla masih hidup, ia memang penasaran namun bukan saatnya ia bertanya jika bukan Syeilla sendiri yang memberitahunya. Ia tidak ingin mengungkit luka lama.
"Baiklah kalau begitu, biar ku antar kau pulang." ujar Dion.
"Tidak perlu, apartemenku dekat dari sini. Aku pergi." pamit Syeilla dan berjalan pulang menuju apartemennya. Sesampainya di sana ia sudah melihat Aiden duduk dengan wajah mengeras di sofa.
"Loh mas, kok sudah pulang?" tanya Syeilla bingung, harusnya Aiden pulang jam setengah dua untuk makan siang. Aiden menatapnya dengan tatapan marah membuat Syeilla meringis ketakutan. Ia teringat wajah suaminya saat dulu sering menyiksanya.
"Puas pergi dengan lelaki lain di belakang suamimu?" tanya Aiden dengan datar namun rahangnya menyiratkan kemarahan.
Syeilla sampai dibuat tergagap.
__ADS_1
"Mas itu bukan seperti yang mas pikirkan. Aku hanya menemui Dion mas."
"Apa kau tidak bisa mengerti tentang apa yang aku sampaikan tadi pagi hah!!" teriak Aiden dengan marah membuat Syeilla tersentak dan air matanya pun turut keluar.
"Keahlianmu hanya menangis." Aiden pergi dengan perasaan marah mendominasi hatinya. Ia tidak suka Syeilla bertemu dengan Dion.
Syeilla jatuh terduduk di sofa dan menangis dalam diam. Bahunya tampak bergetar.
"Ada apa ini?" lirih Syeilla.
❤❤❤❤❤
**Intermezo....
Kangen yaa masa nangis bombay
Jadi pengen ngulang momentnya..
Hmmmmmmmmmmmm
Jangan tanya siapa yang dikubur, siapa yang di ini, siapa yang di itu... Semua ada waktu dan bagiannya.. Film aja kita dibuat penasaran pas endingnya baru penasarannya hilang wkwkwkw... Tapi ini nggak gitu sihh makanya kalian tunggu aja ya... Kalau mau komen... Komen aja ceritanya...
Hahahah
__ADS_1
Love all 💖💖**