
Gais maaf ya. ya ampun butuh kerja ekstra buat nemuin kesalahannya.
---
“Apa kau juga melihatku seperti itu, sama seperti mereka?” tanya Elena dengan wajah lelahnya yang memancarkan segudang luka.
“Apa kalian semua selalu menyimpulkan segalanya dari sudut pandang kalian tanpa mendengar penjelasanku. Bagaimana bisa kau mengatakan aku membela diri sedangkan untuk berbicara saja aku tidak diberi kesempatan oleh siapapun. Apakah ini alasanmu menikahiku. Kau ingin membalaskan dendam atas kematian kak Syeilla dengan menyakiti aku. Hahahaha selamat Al kau berhasil membuatku terluka hingga tak ada lagi yang utuh di tubuh ini.” Ia menepuk dadanya dan menarik napasnya yang kini kembali tersengal dan tertawa sumbang, kemudian ia melanjutkan kalimatnya.
“Kenapa semua orang yang kucintai sangat membenciku begitu dalam hingga menginginkan aku mati. Kau benar, keluargaku juga benar ah tepatnya mantan keluarga, bahkan kematian pun tak akan layak aku dapatkan tanpa penderitaan. Kau dan kalian semuanya benar Tuhan sudah menghukumku berkali-kali lipat. Dimata kalian aku hanya seorang PEMBUNUH. Kalian orang-orang yang hanya membenarkan segalanya dari penglihatan semata. Apa kalian sadar aku juga sangat terluka. HATIKU SANGAT TERLUKA KENAPA TIDAK ADA YANG MENGERTI DENGAN PERIHKU!, KENAPA TIDAK ADA YANG MEMPERCAYAIKU, KENAPA? APA SALAHKU PADA KALIAN SEMUANYA. BAHKAN MULUT INI HAMPIR TERKOYAK MENJELASKAN TAPI TAK ADA YANG MENDENGARNYA. AKU SANGAT TERLUKA LEBIH DARI YANG KALIAN RASAKAN. SEBEGITU BENCIKAH KALIAN PADAKU. AKU SANGAT LELAH BIARKAN AKU ISTIRAHAT DENGAN TENANG.” Elena melepaskan segala keperitannya. Ia sudah tak mampu menanggungnya. Darah segar mengalir dengan derasnya melalui hidungnya. Ia hanya membiarkan tanpa mencoba mencegahnya.
Altaf yang melihat itupun membulatkan matanya ia akan melangkah mendekati Elena namun tertahan oleh gerakan tangan Elena.
“Jangan pedulikan aku, bukankah ini yang kalian inginkan dariku.” Ucapnya datar. Elena merebahkan dirinya di sofa ia tak mampu lagi untuk sekedar berjalan. Altaf yang mendengar itupun mendadak kebingungan.
“Apa maksudmu?” tanya Altaf bingung.
Namun tidak mendapat jawaban. Merisa dan suaminya yang melihat itu dari balik dinding penghubung ruang depan dan ruang tamupun memutuskan keluar dan menghampiri Elena yang kini berbaring di sofa ruang tamu.
“Mommy tau kamu bukan wanita seperti itu sayang. Mommy yang akan
Menyayangimu apapun yang terjadi.” Elena yang mendengar itu di alam bawah sadarnya pun meneteskan air matanya. Ia ingin membuka matanya namun ia tidak bisa menggerakkan matanya.
“Sstt jangan menangis sayang nanti baby nya ikut sedih.” Ajaibnya air mata Elena berhenti mengalir saat mendengar kata baby.
__ADS_1
Merisa mengambil beberapa lembar tissu lalu membersihkan darah di hidung Elena sampai bersih.
“Mommy pulang dulu ya sayang. Kamu wanita yang kuat mommy sangat menyayangimu.” Merisa mengecup kening Elena dengan sayang.
Mereka pun segera pergi dari rumah anaknya. Elena sudah bisa membuka matanya kembali dan ia akan segera memberitahu reaksi tubuhnya pada Anna.
“Ann tadi aku tak mampu bergerak selama sepuluh menit, apa tahapnya sudah naik?” beritahu Elena pada Ann .
Anna yang diseberang telepon pun segera mengatakan kebenarannya. “El tahapnya mungkin sudah naik kalau kau stres. Apa akhir-akhir ini kamu mengalami stress?” tanya Anna untuk memastikan.
“Aku baru selesai bertengkar dengan Altaf.”
“Ya tuhan El. Kamu tau kan bahwa stres bisa meningkatkan perkembangan penyakit kamu di tambah kamu juga sedang mengandung.”
“Baiklah Anna terima kasih.” Ucap Elena tulus.
“Tidak ada terima kasih dalam pertemanan kita El.”
Elena pun terkekeh dan menuju kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
“Apa waktuku sudah dekat.” Ucapnya skeptis.
Pagi harinya saat Elena sedang memasak. Tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi sakit tak tertahankan. Ia segera mematikan kompor gas nya dan duduk di meja makan. Ia merasakan mual yang luar biasa namun untuk mengangkat tubuhnya ia sangat kesulitan. Tetes demi tetes darah mulai keluar dari hidungnya. Ia kewalahan menghentikan tetesan darah itu. Altaf yang kini sudah bersiap ke kantor pun menuruni tangga namun matanya berhenti pada sosok yang sedang menutup hidungnya. Ia melihat tetesan darah mulai membasahi lantai. Tanpa pikir panjang ia pun segera menghampiri Elena.
__ADS_1
“Hei hei kenapa ada banyak darah disini? Siapa yang terluka.” Tanyanya pada Elena namun yang ditanya tidak menjawab. Ia pun geram dan membalik paksa tubuh itu hingga matanya membulat dengan sempurna.
“Apa yang terjadi padamu?” tanya nya mengontrol raut wajahnya.
Belum sempat Elena menjawab kesadarannya telah diambil alih oleh kegelapan. Altaf pun terkejut dan segera membawa Elena ke rumah sakit dengan tergesa-gesa.
“Alka ada apa dengan istriku? Hidungnya tadi pagi mengeluarkan banyak darah.” Tanya Altaf pada Alka.
“Kami sedang melakukan pemeriksaan lanjut. Dan untuk kemungkinan buruknya yang menyebabkan istri lo mimisan adalah sebuah tumor. Tapi kita belum mengetahui lanjutannya. Itu hanya kemungkinan.” Ucapnya menjelaskan pada Altaf.
Altaf yang mendengar itupun seketika menjadi takut. Ia berharap Elena hanya kelelahan karena pertengkaran mereka semalam. Sejujurnya ia sudah merasakan ada benih-benih cinta yang kini mulai tumbuh di hatinya namun sekuat tenaga ia tepis perasaan itu.
“Hasilnya sudah keluar Al dan bisakah kita berbicara di ruanganku.” Tanya Alka dan menuju ke ruangannya.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan ini Elena menderita tumor otak yang perkembangan bisa pesat bila pasien stres.” Jelas Alka panjang lebar.
“Tapi bisa di operasikan Ka.” Tanya Altaf penuh harap.
“Bisa kalau kondisi istri kamu masih tahap awal, berbeda jika penyakitnya sudah memasuki stadium tiga dan Elena berada di stadium tiga.” Ucap Alka dengan menarik napas panjang.
“Apa.” Altaf syok di tempatnya. Bagaimana mungkin. Ucapnya tak percaya.
__ADS_1