LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 29


__ADS_3

Mata Syeilla masih betah tertutup rapat, tidak ada tanda bahwa ia akan membukanya. Berbagai alat medis pun kini menempel di tubuh pucatnya yang berfungsi sebagai penopang hidupnya saat ini.


Aiden memasuki ruang ICU tempat Syeilla berada, ia berjalan dengan langkah lunglai menuju sebuah ranjang tempat tubuh itu terbaring lemah.


Setelah ia berdiri di samping Syeilla ia segera duduk dan meraih jemari itu dengan perlahan dan penuh kelembutan.


"Sayang maafkan aku" ujarnya dengan penuh penyesalan. Air mata selalu setia menghiasi wajah tampannya yang sudah mulai kusut dan berantakan.


"Aku mohon maafkan aku" isaknya dengan pilu. Ia membawa tangan pucat Syeilla ke bibirnya dan mengecupnya dengan lembut. Tubuh itu bahkan tidak merespon sama sekali.


"Apa kau marah sehingga tidak ingin melihat anak kita untuk terakhir kalinya" seru Aiden dengan sedih.


Tanpa Aiden sadari air mata Syeilla mengalir dengan pelan. Aiden kembali menangis dengan tubuh bergetar saat bayangan sifat buruknya pada kedua bayinya terlintas dibenaknya. Inikah yang dinamakan dengan hukuman jika ia maka sungguh ia tidak akan pernah mengatakan hal yang tidak-tidak dulunya.


"Sayang cepatlah bangun kita akan memulai semuanya dari awal. Mas akan membahagiakanmu untuk selamanya. Mas berjanji sayang" gumam Aiden dengan pelan.


Seorang suster pun masuk dan mengatakan bahwa waktu besuknya sudah habis.


"sayang cepatlah sadar" ujarnya dan melangkah pergi dari sana sedangkan air mata Syeilla tidak henti-hentinya mengalir.


Zia menatap sedih dua tubuh kecil yang berbobot 2000 gram. Bahkan dunia yang diimpikan oleh Syeilla belum mampu terwujud karena keduanya telah pergi.


"Sayang tenanglah disana ya. Tante sama mama sangat menyayangi kalian berdua. Mama Syeilla bahkan mempertaruhkan nyawanya demi kalian sayang jadi jagalah mama dari sana ya." isak Zia setelah tubuh keduanya hendak di kafani.


Aiden masuk dengan mata sembabnya, ia menatap dengan penuh penyesalan dan air matanya kembali berlinang saat melihat mayat kedua bayi yang bahkan belum sempat melihat wajah brengseknya.  Tangannya bergetar dan meraih tubuh salah satu bayinya yang berjenis kelamin wanita. Ia mengelus dengan lembut wajah bayinya yang seharusnya masih berwarna merah namun kini sudah berubah warna menjadi pucat.


"Maafkan papa sayang. Papa bersalah. Maafkan papa" isaknya dengan pilu sembari mendekapnya dengan lembut. "Kalian boleh menghukum papa tapi papa mohon jangan beri papa hukuman sekejam ini sayang. Papa tidak sanggup" isakkannya terdengar kian memilukan. Hatinya tak henti ditusuk-tusuk pisau tajam. Rasanya sangat menyakitkan.


Zia, Ariel dan Elka bahkan tidak bisa lagi berkata-kata dan hanya menatap Aiden dengan kesedihan. Mereka saja yang hanya kenalan Syeilla sangat terpukul apalagi bila nanti Syeilla terbangun mereka tidak tau akan sesedih apa dirinya nanti saat mengetahui kedua buah hatinya telah pergi bersama bidadari surga.


Elka kemudian maju ke depan dan mengusap punggung bergetar Aiden dengan pelan.


"Sudah waktunya mereka untuk dikuburkan. Kasihan keduanya" ujar Elka dengan pelan memberi pengertian.


Aiden kemudian menatap wajah damai putrinya kemudian mengecupnya dengan lama lalu memberikannya pada Elka. Ia kemudian beralih ke bayi laki-lakinya yang tampak sangat mirip dengannya. Ia kemudian mengecupnya dengan lembut lalu segera memberikannya pada Elka karena jujur ia bahkan tidak lagi mampu menggerakkan kedua kakinya.


"


Kabar duka pun sudah sampai ke telinga Elena. Ia dengan segera menghubungi Altaf dan segera menyuruhnya pulang.


"Mas pulang sekarang" ujar Syeilla dengan menangis.


"Sayang ada apa denganmu?" tanya Altaf dari seberang dengan khawatir.


"Mas cepatlah pulang nanti akan aku ceritakan" ujar Elena dengan pelan sembari mengusap air matanya.


Setelah Altaf sampai di rumahnya ia sedang mendapati istrinya menangis. Ia pun segera menghampiri Elena sembari berlari.


"Ada apa sayang?" tanya Altaf dengan serius.


"Mas kak Syeilla" ujarnya dengan terputus-putus.


"Ada apa dengan Syeilla sayang?" tanya Altaf penasaran.


"Kakak kecelakaan mas dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit dan ia koma" terang Elena kembali menangis.


"Ya sudah kita akan kesana sekarang" ujar Altaf sambil menenangkan istrinya yang belum berhenti menangis.


Seseorang yang mendengar percakapan Elena dan Altaf pun tersenyum saat mengetahui bahwa Syeilla kini dirawat di rumah sakit dan sedang koma.

__ADS_1


"Bagus Roy kau memang selalu bisa aku andalkan" kekehnya dengan senyuman yang mengerikan. Seperti yang kalian katakan mirip mak lampir.


Setelah kepergian Elena dan Altaf ia pun segera menghubungi Roy sembari mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih Roy padahal aku belum mengatakannya padamu tapi kau sudah bertindak lebih dulu" ucap Aisyah dengan senyuman 6000 wattnya.


"Apa maksudmu?" tanya Roy dengan bingung dari seberang.


"Kenapa kamu malah berpura-pura" kekeh Aisyah.


"Aku benar-benat tidak mengerti apa maksudmu" ujar Roy.


"Syeilla, dia kecelakaan dan sekarang sedang koma. Itu perbuatanmu bukan?" tanya Aisyah.


"Tidak Aisyah. Kau bahkan belum mengatakan apa-apa padaku. Bukankah kau mengatakan untuk menunggu perintah darimu" seru Roy dengan heran.


"Jadi yang mencelakai Syeilla bukan dirimu?"


"Tentu bukan"


"Lalu siapa?" tanya Aisyah dengan bingung.


Altaf dan Elena kini sudah sampai di rumah sakit tempat Syeilla berada. Mereka langsung menuju ruang informasi dan menanyakan letak kamar rawat pasien atas nama Syeilla.


"maaf sus pasien atas nama Syeilla Aretha Zayna dirawat di ruangan berapa?" tanya Altaf.


"Mohon ditunggu sebentar ya pak. Saya akan melihatnya dulu" ujar perawat tersebut dengan ramah sembari mencari nama yang dimaksud.


"Ruang rawat pasien atas nama Syeilla Aretha Zayna berada di lantai empat ruang ICU 3" jawab suster tersebut.


"Terima kasih sus" Elena dan Altaf pun segera menuju ruangan tersebut.


Kaki Elena sudah lemas saat melihat tubuh lemah Syeilla yang kini terbaring di ranjang ICU. Ia melihatnya dari sebuah kaca pintu ruangan tersebut. Sedangkan Altaf sudah membawa dua baju khusus untuk mereka kenakan saat masuk kesana.


Mereka masuk dengan langkah pelan.


"Kakak" seru Elena dengan sedih.


"Kenapa jadi seperti ini" tangis Elena kebali pecah. Sedangkan Altaf hanya menatap tubuh Syeilla dengan sendu tanpa mengatakan apapun. Lalu Elena teringat sesuatu.


"Mas bagaimana dengan bayi kakak. Dimana mereka" tanya Elena dengan pelan.


"Mereka?" tanya Altaf heran.


"Ia mas kakak mengandung bayi kembar" ujar Elena dengan pelan yang hanya di angguki oleh Altaf.


"maaf bu waktu besuknya telah habis" ujar seorang suster.


"Sayang mari kita cari kedua bayinya" ajak Altaf yang langsung dibalas anggukan oleh Elena.


"Kakak kami pergi dulu" ucap Elena sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Saat di lorong rumah sakit mereka berdua bertemu dengan Zia yang menatap mereka dengan datar.


"Dokter Zia dimana kedua anak kak Syeilla?" tanya Elena dengan sendu.


"Cih untuk apa mencarinya" kesal Zia tanpa bersahabat.


"Apa maksud anda berkata demikian pada istri saya" marah Altaf tidak suka dengan jawaban tidak bersahabat dari Zia.

__ADS_1


"Memangnya kalian ini siapanya sampai harus repot-repot mencarinya" kekeh Zia dengan sinis.


"Anda jangan kurang ajar. Sikap anda bisa saja saya laporkan pada atasan anda" ancam Altaf dengan geram.


"Apa kau pikir aku takut" kembali Zia terkekeh.


"Saya keluarga kak Syeilla" jawab Elena dengan pelan.


"Keluarga? Kau keluarganya" tanya Zia dengan sinis.


"Aku tidak tau bahwa keluarga itu seperti kalian ini" tunjuk Syeilla dengan sengit. Ia sangat maraj dengan semua orang yang sudah memperlakukan Syeilla dengan seenak jidat mereka.


"Stop" teriak Altaf dengan marah. Emosinya sudah memuncak saat Zia kembali memojokkan istrinya.


"Ah kau pasti lelaki bajingan sama seperti Aiden keparat itu" cemooh Zia dengan telak.


"Saya mohon dokter Zia ijinkan kami melihat bayi kakak" ujar Elena sembari memohon.


"percuma" kekeh Zia sambil menitikkan air matanya.


"Apa maksud kamu" tanya Altaf.


"Kalian senang kan sudah menghancurkan hidup Syeilla. Kalian keluarganya pasti merasa senang kan. Ya Syeilla sudah hancur sekarang" tangis Zia pun tak mampu ia bendung.


"Tolong katakan dengan jelas" teriak Elena yang sudah habis kesabaran.


"Mereka sudah meninggal dan kalian keluarga *** yang hanya memikirkan luka kalian semata tanpa mengetahui kehidupan berat apa yang sudah dilalui olehnya selama ini. Kalian makhluk paling egois" teriak Zia dengan marah.


"dan sekarang kalian mencarinya. Apa kalian sudah diberi hidayah? Kau masih beruntung Elena masih ada yang mendukungmu sedangkan Syeilla meskipun memiliki keluarga nyatanya tidak berfungsi sama sekali"


"Jangan menyimpulkan sesuatu dengan penilaian bodohmu" teriak Altaf pada Zia.


"Apa kau pernah menyiksa istrimu?" tanya Zia dengan serius.


"Tentu saja tidak. Apa kau gila" dengus Altaf tidak senang.


"Kau benar aku memang gila karena perbuatan orang-orang brengsek seperti kalian dan suami Syeilla. Kau tau Elena, bahkan Syeilla tidak pernah bahagia selama hidupnya. Kau mungkin tidak tau tapi dia selalu berkorban untuk kebahagiaanmu Elena. Sedangkan kau selalu merasa paling menderita. Benar-benar perempuan naif"


"Apa maksud perkataanmu?"


"Cari sendiri jawabannya Elena" selesai mengatakan uneg-unegnya ia pun segera pergi dari sana menuju ruangan Syeilla.


"Apa maksudnya mas" tanya Elena dengan bingung.


"Sayang tidak perlu dipikirkan nanti kamu sakit lagi" ujar Altaf menenangkan.


"Tidak mas aku harus tau apa maksudnya" ujar Elena dengan tegas.


Ia terus memikirkan apa maksud perkataan Zia namun kepalanya sangat sakit memikirkan jawabannya hingga tubuhnya oleng dan jatuh dalam pelukan Altaf.


"Sayang... Sayang.. Hei" ucap Altaf sembari menepuk pelan pipi istrinya.


Ia segera menggendong istrinya untuk mendapatkan perawatan karena sepertinya sakitnya kembali kambuh.


"Selamat datang di neraka Syeilla" kekeh seseorang dari balik pintu ruang ICU.



Guys ini foto the twins

__ADS_1


Kalau tidak kelihatan bayangkan saja sendiri ya guys hehehe


❤❤❤❤


__ADS_2