LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 36


__ADS_3

Syeilla sedang berada di sebuah padang kehijauan dengan pemandangan yang menakjubkan. Dari arah belakangnya terlihat dua balita laki-laki dan perempuan tengan yersenyum padanya sambil membawa keranjang bunga yang kemudian mereka berikan padanya.


"Untuk mama." ujar balita laki-laki itu sambil tersenyum manis. Sebuah senyuman yang mampu menenangkan mata siapa saja yang menatapnya.


"Terima kasih sayang." Syeilla menatap bunga yang kini sudah berada di tangannya. Sangat indah.


"Mama, adek mau bermain disana. Apa mama tidak mau menemani kami bermain?" tanya balita perempuan yang terlihat sangat cantik.


"Tentu saja mama mau sayang. Ayo." ajak Syeilla dengan wajah sumringah. Hatinya bahkan menghangat saat melihat senyum lepas keduanya.


"Sayang mama mau bertanya?" tanya Syeilla sambil menatap keduanya dengan lekat.


"Apa kalian bahagia tinggal disini?" Syeilla memangku keduanya sambil mengusap kepala mereka dengan lembut.


"Kami baik-baik saja di sini ma, disini tidak ada kesedihan dan penderitaan karena semua kebahagiaan berkumpul disini." jawab balita laki-laki itu sambil tersenyum ceria.


"Mama jangan lagi menangisi kepergian kami karena kami sangat bahagia berada disini. Kami juga akan selalu setia menunggu kedatangan mama." seru si kecil sambil mengubah posisinya lalu mendekap tubuh Syeilla dengan erat. Begitu pula dengan balita laki-laki tersebut yang mengikuti gerakan adiknya.


Dekapan itu seolah nyata dan sangat menenangkan untuknya.


Tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipinya hingga seseorang menyadarkannya.


"Sayang." ucap sebuah suara dengan lembut sambil menghapus air matanya.


Syeilla pun membuka matanya dan beberapa saat kemudian langsung memeluk tubuh tegap suaminya dan terisak dengan pelan.


"Hei sayang, ada apa?" tanya Aiden dengan raut cemasnya namun tidak dijawab oleh Syeilla karena tangisannya semakin bertambah hingga bahunya gemetar. Setelah selesai dengan tangisannya ia segera melepaskan pelukannya lalu menarap suaminya dengan mata sembabnya.


Aiden yang melihat mata sembab istrinya pun mengecup mata indah iatrinya yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak lima kali lebih cepat.


Cup


Cup

__ADS_1


"Ssttt, jangan menangis lagi sayang." ujarnya dengan lembut sembari mengelus wajah lembut istrinya dengan jemari besarnya dan sebuah senyuman terbit di bibir istrinya yang menambah kadar kecantikannya.


"Apa yang menyebabkan istri kesayanganku menangis hm?"


"Aku bermimpi bersama kedua anak kita dan mereka tampak sangat bahagia dan semua itu membuatku sangat lega walaupun rasanya masih menyakitkan saat mengingat keduanya." Aiden menundukkan wajahnya lalu menatap istrinya dengan lembut.


"Kita akan segera berziarah ke makam mereka saat kau sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit ya sayang." mendengar kalimat suaminya barusan membuat Syeilla menganguk dengan semangat walaupun masih ada sisa air mata di matanya dan semua itu membuat perasaan hangat mengalir deras ke dalam hati Aiden dan seumur-umur ia tidak pernah merasakan perasaan sebahagia ini.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Syeilla dengan tiba-tiba. Membuat wajah Aiden tersenyum dengan tulus lalu menggenggam tangan Syeilla dan membawanya menuju dada bidangnya.


"Rasakan dan dengarkan iramanya maka kau akan mengetahui jawabannya." Syeilla mendengarkan irama jantung suaminya yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia lalu menatap Aiden yang masih setia menatapnya dengan miliaran cintanya. Senyuman indah selalu menghiasi wajah Syeilla. Ia sangat sedih atas kehilangan kedua bayinya namu Tuhan menggantikan dengan kebahagiaan yang lain namun apapun itu ia percaya bahwa Tuhan sudah memiliki rencana terbaik untuknya.


*****


Zia menatap nyalang sosok yang saat ini menunduk sambil menggenggam tangannya silih berganti.


"Jadi kau yang sudah menabrak Syeilla sampai ia harus kehilangan kedua bayi kembarnya?" seru Zia eengan tatapan membunuhnya.


"Apa dengan maafmu semua bisa kembali pada tempatnya?" teriak Zia dengan marah. Ia bahkan melayangkan beberapa tamparan ke wajah tampan Dion dengan brutal hingga kedua tangannya memerah.


"Aku tidak pernah tau kalau ada manusia bajingan sepertimu hidup di dunia ini. Kau terlalu pengecut sebagai seorang lelaki!" teriak Zia kemudian menendang tulang kering Dion sampai membuat Dion meringis kesakitan namun hanya bisa menahannya saat mata penuh permusuhan Zia menatapnya dengan garang. Setelah selesai dengan kemarahannya Zia melangkah oergi dari sana.


Namun satu yang ia syukuri karena Syeilla memiliki teman yang sangat memperhatikan dan menyayanginya. Tidak seperti dirinya yang hanya melukai Syeilla sampai perbuatannya yang terakhir tidak mampu ia maafkan.


Elka menepuk pundak Dion dengan pelan lalu menyodorkan minuman kaleng soda yang kangsung diterima Dion lalu meneguknya. Elka menarik napasnya dengan perlahan.


"Zia berwatak keras jika semua hal menyangkut Syeilla tapi sebenarnya dia wanita yang lembut. Kehilangan orang yang ia sayangi membuatnya takut kehilangan untuk yang kedua kalinya makanya ia sangat protektive dengan Syeilla.


"Dibandingkan dengan biasanya, yang barusan kau alami belum ada apa-apanya karena ia belum mengamuk dengan sepenuh hati tapi percayalah jika ia melakukannya kau bahkan tidak ingin terlihat lagi olehnya." kekeh Elka saat mengingat saat Zia mengamuk padanya karena ia yang menjahili Syeilla hingga membuat Syeia menangi, tidak lama setelahnya Zia membakar kolor Elka sampai membuatnya tidak bisa tidur karena kepanasan sepanjang malam. Ia kembali meminum minumannya sampai tandas.


"Kau benar dan aku berayukur akan hal itu karena setidaknya ada seseorang yang benar-benar menyanyangi dan melindunginya. Terima kasih karena kau juga sudah ikut menjaganya, setidaknya ia memiliki kalian disisinya." ujar Dion dengan pelan.


"Kau sangat berarti baginya sampai ia juga tidak bisa marah saat mengetahui kaulah penyebab ia kehilangan bayinya maka dari itu kau juga harua membahagiakannya meski dari kejauhan. Cinta tidak harus memiliki begitu juga dengan menjaganya bukan berarti kau harus berada disampingnya. Kau mengerti kan apa maksudku." Elka pun tersenyum tulus pada Dion lalu melangkah pergi meninggalkan Diin yang merenungi setiap bait kalimat yang diucapkan Elka.

__ADS_1


"Aku pasti akan melakukannya." gumam Dion dengan pelan sebelum ia benar-benar beranjak dari sana menuju suatu tempat yang selama ini ia rahasiakan dari ayahnya.


Di kediaman Altaf dan Elena, mereka kembali menerima sebuah paket dari orang yang sama namun sampai sekarang mereka tidak mengetahui siapa orangnya.


Elena membawa masuk kotak tersebut, sesampainya di ruang tamu ia segera membukanya menggunakan pisau dapur.


"Apa ini?" gumamnya dengan bingung saat melihat sebuah buku yang terlihat sudah usang di makan usia. Ia melihat buku tersebut yang tampak seperti buku diary seseorang. Perlahan ia membuka lembaran pertama yang berisi tentang kegiatan pertama si empu diary tersebut.


Elena terus membuka secara acak karena sejauh ini tidak ada yang spesial dari tulisannya hingga ia membuka lembar selanjutnya. Matanya tertuju pada sebuah tanggal saat ia mengalami kecelakaan saat kecil.


14 Maret 1999


Untuk pertama kalinya aku melihat sebuah kejahatan yang dilakukan oleh orang yang selama ini selalu menyayangiku. Hati ku hancur mengetahui kenyataan pahit tentangnya dan aku berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruk belaka namun semuanya nyata saat aku melihatnya tersenyum dari balik tirai saat kematian kakek. Bukankah sewajarnya seorang istri akan bersedih saat ditinggal mati oleh pasangannya tapi tidak dengannya. Ia malah tersenyum dan aku yang belum terlalu mengertipun pergi mengikutinya keluar malam-malam dengan menyelinap ke dalam bagasi mobilnya.


Mobilnya berhenti di suatu tempat yang terlihat asing di mata ku, aku melihat nenek sedang tertawa dengan seorang lelaki yang aku ketahui sebagai musuh bebuyutan kakek. Dalam benak aku bertanya tentang hubungan keduanya yang ternyata sepasang kekasih.


Yang lebih menyakitkan dari semua itu adalah dia ikut terlibat dalam tragedi yang menimpa kakek dan Elena. Yah dia adalah nenek, awal yang menyebabkan aku mengalami semua penderitaan adalah nenek.


Tangan Elena bergetar menahan segala sesak yang ada dalam dadanya. Apa semua ini? Pikirnya. Apa semua masuk akal? Ia bimbang antara fakta dan kenyataan yang baru ia ketahui. Air matanya bahkan sudah tumpah membasahi pipi pucatnya hingga ia kehilangan kesadarannya.


"Sayang.." teriak Altaf saat melihat tubuh istrinya lunglai tak sadarkan diri.


"Hei sayang, ada apa ini?" tanya nya sambil menepuk-nepuk wajah pucat istrinya.


Ia lalu menatap sebuah diary, penyebab istrinya jatuh pingsan. Ia mengambilnya dan segera  menyimpannya agar tidak terlihat lagi oleh istrinya dan ia akan mencari tau sendiri isinya.


❤❤❤❤


Aku balek lagi nihhhh


Alhamdulillah ngeditnya berjalan dengan cepat karena autor nggak mau meninggalkan kalian terlalu lama, takutnya autor ditinggal selingkuh wkwkw.


Jangan lupa di voment ya.

__ADS_1


__ADS_2