LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
SEASON 4 (Bab 27)


__ADS_3

Kondisi Elena masih jauh dari kata baik namun ia memaksakan dirinya untuk segera pulang karena ia tidak pernah betah berada di rumah sakit.


Ia tidak mau karena kondisinya Altaf mengasihaninya. Berbeda dengan Elena berbeda juga dengan Altaf.


Untuk saat ini ia menjadi bimbang antara harus membalaskan dendamnya atau menghapus dendamnya karena cepat atau lambat Elena juga pasti akan mati. Namun jauh disudut hatinya yang paling dalam ada secual rasa takut kehilangan. Namun, sekuat tenaga ia menepisnya karena baginya tidak mungkin bisa bersanding selamanya dengan orang yang sudah membunuh kekasihnya.


Elena tahu bahwa saat ini Altaf akan mengasihaninya. Ia akan terus membuat Altaf membencinya agar kelak suaminya tidak akan merasa kehilangan jika ia pergi meskipun kemungknan itu sangat kecil bahkan mustahil namun siapa yang tahu karena Tuhan maha membolak balikkan hati hambanya. Setelah berbincang dengan pihak rumah sakit terutama dokter yang merawat Elena, ia akhirnya diijinkan pulang asal sering-sering chek up kesehatannya mengingat tumornya bisa berkembang kapan saja.

__ADS_1


Jangan kalian pikir Altaf akan berbelas kasihan setelah mengetahui kondisi Elena. Karena hidup Elena bukan seperti pada novel. Altaf memang tidak melanjutkan aksi balas dendamnya karena menurutnya penyakit Elena sudah lebih dari pantas untuk membalas perbuatan Elena di masa lalu.


"Bukankah sebuah kepantasan untuknya menderita penyakit mematikan itu, aku tidak pernah merasa sebahagia ini saat mengetahui kondisinya yang sebenarnya. Aku tidak peduli mau dia hamil atau tidak yang pasti aku sangat bahagia toh dengan begitu aku tidak perlu lagi repot-repot untuk menyingkirkannya."


untuk pertama kalinya Elena mendengar suara Altaf dengan wajah berserinya saat mengetahui penyakitnya. Bukankah ini lebih baik daripada rasa kasihan.


"Aku sudah melakukan yang terbaik untuk suamiku, setidaknya bila nanti aku tidak mampu lagi membuka kedua mataku ada kenangan indah yang kutinggalkan untuknya meski rasanya itu sangat sulit bahkan mustahil, mommy akan berjuang untukmu nak meski pun kelak mommy tidak bisa melihatmu ingatlah satu hal, mommy sangat menyayangimu saying." Elena mengelus perut besarnya sambil tersenyum dalam kesakitannya.

__ADS_1


Hari-hari berlalu dengan cepat dan tak terasa sebulan menjelang kelahiran buah hatinya kondisi Elena semakin parah namun sekuat tenaga ia tahan agar tidak diketahui oleh suaminya. Kepalanya yang pening dan sakit luas biasa mencekam urat-urat hingga matanya serasa mau copot.


Ia berlalu dengan tertatih menuju kamar mandi dan memuntahkan darah kental yang sangat banyak hingga pandangannya pun menggelap. Elena dilarikan ke rumah sakit oleh pembantunya dan saat ini sudah dimasukkan ke ruang UGD untuk segera ditangani. Dengan tangan gemetar bik Sum mencoba menghubungi tuannya namun tidak diangkat. Ia sampai menangis melihat kondisi Elena.


"Tuan saya mohon, angkatlah telponnya" ucap bik Sum dengan suara dan tangan gemetar.


Di negeri seberang Altaf baru selesai mengadakan meeting ia segera melihat telpon selulernya dan betapa kagetnya dia saat melihat riwayat panggilan dari mommynya 100 panggilan tak terjawab sedangkan dari pembantunya 80 panggilan tak terjawab. Ia juga melihat puluhan pesan masuk dan dari sekian pesan yang masuk ada nama istrinya tertera disana tanpa menunggu lama ia segera membukanya.

__ADS_1


 


__ADS_2