LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Bab 43 (Season 3)


__ADS_3

Nevan sudah sampai di bandara. Ia melihat jam tangannya menunjukkan pukul smbilan malam. Perbedaan waktunya satu jam dengan Jakarta. Elka menghubungi temannya yang bekerja di penerbangan. Dengan posisi yang tinggi membuat Elka bisa mendapatkan tiket lebih cepat dari yang seharusnya. Satu jam lagi ia akan berangkat dan itu menurut Nevan sangat lama. Ia mondar-mandir menunggu waktu penerbangan. Elka—tidak pernah melihat putranya sekacau ini. Putranya bahkan tidak segan-segan menangis di keramaian. Ia sampai dikira telah melakukan kekerasan terhadap anak.


"Nevan, jangan nangis. Alya akan baik-baik aja." yakin ayahnya sambil menepuk pundak putranya.


"Pa, gimana aku mau tenang. Tadi Alya bilang mau bunuh diri, Papa." ia kembali menangis "Pokoknya kalau Alya kenapa-napa Nevan nggak akan bisa maafin diri sendiri."


Elka menarik napas panjang. Ia akan memberikan putranya waktu untuk menangis. Jika dipikir kebali, memang wajar menangis jika orang yang dicintai sedang tidak baik-baik saja.


"Tapi kamu harus ten ...," ucapan Elka terpotong saat Nevan melambaikan tangan di kejauhan.

__ADS_1


"Kapan anak itu ke sana?" tanya Elka pada diri sendiri.


"Aku berangkat, Pa!" teriak Nevan dan menghilang.


Elka merasakan getaran di ponselnya. Ia merogoh saku celananya dan tersenyum melihat nama pemanggilnya.


Terdengar tawa pecah di ujung telpon, Elka berdecak mendengar tawa milik istrinya.


"Semoga kamu baik-baik aja Alya, Nevan bisa nggak bernapas kalau kamu kenapa-napa. Kasihani putra Om. Kamu harus baik-baik di sana."

__ADS_1


Kakinya sudah berada tepat di luar jembatan. Alya menatap air tenang yang sebentar lagi akan memeluknya dengan perih. Membawanya ke dasar sungai dan merenggut stok napasnya. Ia mengingat semua kenangan yang sudah ia lalui. Ia mengambil ponselnya lalu memotret kakinya yang berada di bibir jembatan lalu mengirim pada ayahnya.


"Papa, maaf! Kali ini aku menjadi anak durhaka, aku akan pergi jauh sesuai keinginan Papa. Kalau Papa kangen, Papa bisa mendatangi tempat peristirahatan terakhirku nantinya. I love you Papa."


Air matanya jatuh setelah mengirimkan pesan tersebut. Ia melempar ponselnya asal dan mental di jalan jembatan. Ia bersiap menjatuhkan tubuhnya dalam hitungan ketiga.


"Aku lelah dan kuakui itu," ucapnya.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2