
Tolong sediakan tissu jadi kalau kalian mau menangis sudah ada yang menampung air mata kalian 😂😂
Maaf ya semalam kk nggak up karena jaringan nggak bagus..
Semoga kalian suka...
******
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, kini usia kandungan Syeilla sudah menginjak usia delapan bulan dan itu artinya apa yang ditakutkan oleh dokter bisa saja terjadi kapan saja dan seperti akhir-akhir ini kondisi kesehatan Syeilla kian menurun, ia sering kejang-kejang dan terkadang tidak sadarkan diri secara tiba-tiba. Setelah mempertimbangkan segala hal dan sudah berkonsultasi dengan dokternya langsung. Mereka bertiga memutuskan untuk membawa Syeilla kembali pulang ke Indonesia dan akan melanjutkan pengobatannya disana.
Setelah menyiapkan semuanya mereka pun akan berangkat hari ini juga.
"Syei apa kamu sudah siap?" tanya Zia dengan lembut.
"Sudah Zi tapi badanku sangat lemas" ujar Syeilla dengan pelan. "Aku akan menggendongnya menuju mobil dan Zia jangan lupa untuk perlengkapan yang akan kita perlukan nanti saat di pesawat" peringat Ariel dan menggendong Syeilla dengan hati-hati menuju mobil yang akan membawa mereka ke bandara.
Sedangkan Zia kembali memeriksa apa saja yang akan mereka butuhkan nantinya, setelah memastikan semuanya lengkap ia pun segera menyusul Ariel dan Elka yang sudah berada di mobil.
"Sudah siap. Ayo" ujar Zia pada keduanya dan Elka pun segera mengemudikan mobil nya menuju bandara yang akan membawa mereka kembali ke Indonesia.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam akhirnya mereka pun sampai di bandara Ljubjana dan segera melakukan chek in setelahnya mereka segera menuju waithing room hingga menunggu pesawat mereka berangkat.
"Selamat tinggal Slovenia. Terima kasih sudah banyak memberiku kenangan indah dan arti sebuah kehidupan dan untuk pertama kalinya aku bahagia karena masih ada orang yang benar-benar menyayangiku meski ikatan darah sangat jauh antara aku dengan mereka" bisik Syeilla dengan pelan hingga hanya ia sendiri yang mendengarnya.
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 16 jam tentu saja dengan transit satu kali dan jangan lupakan mereka mengambil kelas bisnis demi kenyamanan Syeilla sendiri.
Akhirnya mereka sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta dan syukurnya Tuhan melindungi Syeilla dan bayinya karena selama penerbangan tidak ada terjadi apa-apa pada mereka.
"Selamat datang Indonesia kuharap luka tidak ikut serta disini" bisik Syeilla.
Ariel kembali menggendong Syeilla ke mobil yang sudah menjemput mereka. Sopir pribadi Ariel lah yang menjemput mereka ke bandara.
"Terima kasih Ariel, Elka dan kau Zia karena sudah menemani aku sampai saat ini" ujar Syeilla dengan lemah pada ketiganya.
"Sudah aku bilang tidak ada kata terima kasih di antara kita Syei. Sudah mari kita pulang" teriak Zia dengan ceria yang ia buat-buat. Sungguh hatinya menangis melihat kondisi Syeilla saat ini namun sebagai teman ia harus kuat demi Syeilla.
Mereka kini sudah sampai di apartemen mewah Zia dan mulai hari ini Syeilla akan tinggal bersama dengan Zia, bahkan Ariel dan Elka pun yang sudah membeli apartemen di tempat Zia tinggal dengan lantai yang sama dan bersebelahan. Ini semua mereka lakukan untuk memantau sekaligus menjaga Syeilla kalau Zia sedang pergi atau ada urusan mendadak.
Jika dipikir lagi mereka bukanlah siapa-siapa bahkan hanya orang asing yang kebetulan merawat Syeilla namun entah mengapa seolah ikatan persaudaraan mereka sangat kuat sehingga sudah menjadi kewajiban ketiganya untuk tetap menjaga dan melindungi Syeilla.
Di kantornya Aiden kembali mengamuk pasalnya ia kehilangan tender yang seharusnya mereka menangkan tapi saingannya dengan begitu licik mencuri idenya. Ia yakin bahwa ada penghianat di dalam perusahaannya.
"Siapa yang sudah berkhianat disini?" teriak Aiden dengan nyalang.
"Baik, kalau tidak ada yang mau mengaku maka bersiap-siapkan untuk saya tendang dari perusahaan ini dan nama kalian akan saya blacklist agar tidak ada datupun yang mau menerima kalian" ancam Aideng dengan dingin dan sontak membuat mereka yang ada disana gemetar ketakutan.
"Pak kami tidak ada terlibat dengan ini semua" ujar salah satu karyawan sambil gemetar menahan tangis.
"Saya bertanya siapa pelakunya? Atau kalian mau saya membawa hal ini ke jalur hukum?"
"Pak saya melihat Ardi memasuki perusahaan MCS Holding beberapa hari yang lalu dan saat itu alasannya karena ingin menjenguk adiknya yang sedang sakit" beritahu seorang karyawan laki-laki sambil menunduk.
"Dimana dia sekarang?" tanya Aiden pada karyawan tersebut.
"Dia tidak masuk pak dengan alasan menjenguk adiknya di rumah sakit" jawabnya.
"Apa nama rumah sakitnya?" tanya Aiden dngan datar sembari mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menghubungi seseorang.
"Rumah Sakit Bakti Jaya pak"
"Cari seseorang bernama Ardi di rumah sakit Bakti Jaya. Foto nya sudah saya kirim" kemudian ia mematikan panggilannya dan menatap semua yang ada disana dengan tajam.
"Aku tidak suka dikhianati maka ambil ini sebagai pembelajaran untuk kalian" seru Aiden dengan dingin yang langsung di angguki oleh semuanya.
"Keluar" perintahnya dan semuanya berhamburan keluar dari ruang rapat tersebut.
Selang beberapa menit telponnya berdering, ia segera mengangkatnya.
"Pria yang bernama Ardi tidak ada di rumah sakit bos" lapor si penelpon dan Aiden segera mematikan panggilannya. Tanganya sudah mengepal dengan erat.
"Kau mencoba bermain-main denganku?" sinis Aiden sambil menyeringai kejam.
Saat ia akan beranjak terdengar suara handphone nya kembali berbunyi.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya nya dengan datar.
"Nona Syeilla sudah tiba di Indonesia pagi tadi bos dan beliau berada di apartemen dokter Zia" lapor orang suruhan Aiden.
"Terima kasih" ucapnya yang ammpu membuat si penelpon tercengang.
Dalam sejarah kehidupannya seorang Aiden tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada orang suruhannya. Apakah ini sebuah keajaiban? Entahlah.
"Sayang akhirnya kamu kembali" ujarnya dengan bahagia.
"Aku akan menjemputmu nanti malam"
Malam pun telah menjelang dengan langkah cepat Aiden segera keluar dari ruangannya dan memberitahu pada sekretarisnya untuk membatalkan semua meetingnya dan segera masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
Dia segera menuju ke arah mobilnya dan mengemudikannya dengan cepat menuju apartemen Zia. Jangan tanya ia dapat alamatnya dari mana.
Dengan hati berdebar ia berjalan dengan cepat menuju sebuah lift namun pemandangan menyakitkan kembali tersaji di depan matanya. Disana Syeilla sedang di gendong mesra oleh lelaki yang ia ketahui sebagai dokter.
"Brengsek" gumamnya dengan rahang yang sudah mengeras dan wajah memerah padam. Tangannya sudah terkepal erat lalu menghampiri keduanya dengan kemarahan.
"Oh jadi ini kelakuanmu selama ini dan alasanmu menghilang adalah pria ini?" tunjuk Aiden dengan marah sedangkan Syeilla sudah pucat pasi di gendongan Ariel lalu ia menyuruh Ariel menurunkannya meski tubuhnya sangat lelah.
"Ariel tinggalkan kami berdua" ujar Syeilla meminta pengertian. Sejujurnya Ariel tidak ingin meninggalkan Syeilla bersama lelaki bajingan ini tapi melihat tatapan memohon dari Syeilla akhirnya ia pun memutuskan pergi.
"Bisa kita berbicara di tempat lain" ujar Syeilla dengan lembut karena ia tidak ingin menjadi bahan pertontonan. dan Aiden segera menuju mobilnya dan diikuti oleh Syeilla di belakangnya yang berjalan dengan susah payah. Dan sesampainya di suatu tempat Syeilla segera meralat apa yang barusan Aiden lihat.
"Aiden ini tidak seperti yang kamu bayangkan" ujar Syeilla dengan lemah dan berusaha meraih jemari Aiden namun segera di tepis kasar olehnya.
"Kenapa kamu tega Syeilla"
"Aku tidak pernah menghianatimu Aiden"
"Mau mengelak apa lagi Syeilla, semuanya sudah jelas dan kau perempuan murahan" teriak Aiden dengan marah dan mendapat tamparan keras dari Syeilla yang sudah menatapnya dengan marah.
"Aku tidak sepicik itu" bela Syeilla dengan berurai air mata.
"Ini? Apa benar mereka anak-anakku?" tunjuk Aiden dengan sinis ke arah perut buncit Syeilla. Kembali Syeilla menamparnya.
"Apa kamu pikir aku wanita seperti itu?" tanya Syeilla dengan wajah terluka.
Syeilla memejamkan matanya lalu membukanya dengan perlahan.
"Apa kau pernah mencintaiku walau hanya sekali?" tanya Syeilla dengan lemah.
"Alasan ku datang adalah untuk menjemputmu karena rinduku yang sangat menyesakkan dada tapi ini yang aku dapatkan. Aku sudah mulai membuka hatiku untukmu tapi kau kembali mematahkannya dengan kejam. Aku sangat membenci perempuan kotor sepertimu!!!" teriak Aiden dengan marah.
Syeilla tersenyum mendengar jawaban Aiden.
"Apa kau masih mencintaiku?" tanya Syeilla.
"Cih aku bahkan bersyukur karena rasa cintaku belum benar-benar dalam untukmu hingga aku bisa segera menghapusnya, aku bahkan menyesal karena pernah mencintai wanita menjijikkan sepertimu" selesai mengatakan kalimatnya Aiden pergi meninggalkan Syeilla dengan kemarahan. Namun di tahan oleh tangan Syeilla.
"Apa aku boleh memelukmu?" tanya Syeilla dengan berlinang air mata. Ia tidak tau mengapa tapi firasatnya mengatakan inilah pertemuan terakhir mereka.
"Lepaskan dan jangan pernah bermimpi untuk memelukku karena aku tidak akan pernah sudi." tepis Aiden dengan dingin dan berlalu dari sana. Saat Syeilla akan mengejar Aiden ada seseorang di ujung jalan sedang tersenyum licik dan siap untuk menabrak tubuh Syeilla, tanpa menunggu lama lagi ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi lalu...
Brakkkkkk.......
Tubuh Syeilla melayang di udara sebelum jatuh menyentuh kasarnya permukaan aspal dan darah mulai keluar dari kepala, mulut dan kedua pahanya. Aiden yang mendengar suara dentuman itu pun membalikkan badannya dan melihat tubuh Syeilla sudah terkapar di jalanan. Ia segera berlalu kesana dengan jantung berdegup kencang.
"Syeilla, Syeilla" teriaknya sambil memangku kepala Syeilla yang sudah banyak mengeluarkan darah.
"Seseorang panggilkan ambulan" teriak Aiden sambil menangis.
"Sayang hei bangunlah aku.. Aku mencintaimu bukankah itu yang tadi ingin kau dengar. Aku mencintaimu sayang. Kau juga ingin aku memelukmu kan, aku akan memelukmu kapan pun kau inginkan, hei buka matamu" ucap Aiden sambil menangis.
"Syeilla membuka matanya dengan perlahan dan tersenyum menatap wajah Aiden yang sedang menangis di depannya. Ia bahagia karena cinta yang selama ini membuatnya terluka akhirnya mendapatkan balasan meskipun ia tidak bisa merasakannya namun baginya itu sudah lebih dari cukup.
"Maaf dan terima kasih" bisiknya dengan susah payah darah kembali keluar dari hidung dan mulutnya. Syeilla tersenyum sebelum matanya tertutup dengan rapat.
"Sayang... Sayang.. Syeilla!!!!" teriak Aiden dengan histeris saat mata indah istrinya kini sudah tertutup rapat. Senyuman yang seolah menggambarkan bahwa ia bahagia.
Ambulan pun datang dan segera membawa tubuh lemah Syeilla dan Aiden ikut naik ke dalam ambulan tersebut..
__ADS_1
"Sayang bertahanlah" bisiknya sambil menggenggam tangan lemah istrinya dengan kuat.
Mobil ambulan pun sudah sampai di rumah sakit tempat Zia bekerja. Tampak Zia sedang bercanda di depan ruang informasi lalu sebuah mobil ambulan datang beberapa dari perawat berteriak untuk segera membawa tubuh lemah seorang pasien menuju ruang operasi. Zia pun segera mendekati brangkar yang kini membawa tubuh Syeilla dan jantungnya hampir lepas saat melihat Syeilla lah yang berada disana.
"Apa yang terjadi" tanya Zia dengan suara gemetar.
"Pasien korban tabrak lari" ujar seorang suster yang sempat mencuri dengar pembicaraan saat mereka sampai di tempat kejadian.
Tubuh Zia sudah lemas dan menunggu Syeilla di depan ruang operasi dengan tampilan kacaunya. Dari kejauhan tampak Aiden melangkah dengan lesu dan menghampiri Zia.
"Maafkan aku" ujar Aiden dan Zia pun mengangkat kepalanya tanpa menghiraukan permintaan maaf Aiden.
Zia segera menghubungi Ariel dan Elka dan lima belas menit kemudian mereka pun sudah tiba disana.
"Apa yang kau lakukan disini hah!!" teriak Aiden dengan marah saat melihat kedatangan Ariel.
"Seharusnya aku yang bertanya untuk apa kau kemari" tanya Zia dengan dingin.
"Aku suaminya kalau kau lupa" ujar Aiden dengan kesal.
"Hah kau mengakuinya juga sebagai istrimu" kekeh Zia dengan sinis.
"Karena dia memang istriku" tekan Aiden dengan marah.
"Oh ya, memangnya apa yang kau ketahui tentang Syeilla" pancing Zia dengan sengit yang mampu membuat Aiden terdiam.
"Kau bahkan tidak tau apapun tentang dirinya bahkan hal-hal kecil sekalipun"
"Hal yang terakhir aku ketahui adalah ia selingkuh dengan pria ini" teriak Aiden tak kalah sengitnya. Lalu Ariel maju dan meninju wajah Aiden dengan geram.
"Syeilla tidak serendah itu bajingan" marah Ariel dengan bengis.
"Hah lalu yang apa yang kulihat di lobi apartemen kalau bukan tentang perselingkuhan kalian. Untuk apa seorang pria menggendong istri orang lain"
Kini Elka yang sudah habis kesabarannya.
"Karena istrimu sakit brengsek. Kau laki-laki paling hina yang ada di muka bumi ini. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Syeilla kau orang pertama yang akan aku habisi" tunjuk Elka dengan marah.
"Apa maks.. "
"Tumor ganas, glioma cerebri stadium empat" jawab Zia dengan angkuh lalu memandang wajah pucat pasi Aiden dengan senyuman mengejek.
"Kau tidak tau apapun tentangnya, yang kau tau hanya menyiksanya" bisik Zia dengan senyum mengejeknya.
Tubuh Aiden meluruh ke lantai, jadi inikah penyebabnya mengapa dulu Syeilla sering keluar masuk rumah sakit tapi dengan bodohnya dia tidak merasa curiga sedikitpun. Bahkan ia pernah beberapa kali memergoki Syeilla saat mimisan namun kembali ia bersikap tidak peduli. Air matanya semakin membanjiri kedua pipinya.
"Bagaimana rasanya saat kau terlempar dari ketinggian 30000 kaki?" ejek Zia dengan telak.
Ruangan operasi terbuka dan tampak seorang dokter keluar dari sana dan segera menjumpai keempatnya sambil menghela napasnya dengan lesu.
"Maaf kedua bayinya tidak bisa diselamatkan akibat benturan yang sangat kuat sehingga menyebabkan cidera kepala serius dan trauma pada otak si kembar" bagai tersambar petir mendengar kabar tersebut tubuh Zia sudah lunglai di lantai. Sedangkan Aiden bahkan untuk bernapas pun rasanya amat menyakitkan.
"Bagaimana dengan istri saya dok" tanya Aiden dengan lemah.
"Saat ini kondisi pasien koma. Selain benturan yang kuat pada kepala pasien, tumor ganas yang dideritanya juga ikut andil dalam mempengaruhi kondisinya dan hanya sedikit kemungkinan pasien akan sadar kecuali terjadi keajaiban" mendengar penuturan dokter barusan tubuh Aiden luruh ke lantai dengan air mata membanjiri kedua pipinya. Sedangkan Zia sudah pingsan di tempatnya. Ariel segera membawa tubuh Zia ke ruangannya sedangkan Elka masih setia berdiri di tempatnya.
"Syeilla itu wanita yang kuat dan hebat, ia mampu melawan penyakitnya disela berbagai tekanan yang menghampirinya. Kami melarangnya untuk mempertahankan kandungannya saat pertama kali divonis namun ia membantahnya dengan tegas dan berkata akan mengorbankan nyawanya demi anaknya agar bisa lahir ke dunia ini tapi ternyata Tuhan berkehendak lain" Elka menghapus air matanya dengan pelan.
"Syeilla itu lambang wanita pemberani yang siap melawan kuatnya arus kehidupan demi lelaki yang bahkan tidak pernah menganggapnya ada namun demi cintanya ia mampu bertahan sampai sekarang dan kau lelaki beruntung yang pernah dicintai oleh wanita hebat seperti dia"
Jantung Aiden berderit nyeri, dadanya juga kian sesak bahkan seribu jarum tidak bisa mendeskripsikan betapa hatinya sangat sakit saat mengetahui tentang penyakit istrinya di tambah kenyataan kedua malaikat yang tidak pernah ia inginkan kehadirannya kini telah pergi meninggalkannya.
Sejuta anak panah menancap di ulu hatinya saat gambaran prilaku buruknya pada Syeilla dan kedua buah hatinya kembali terpampang nyata di hadapannya seperti tayangan bioskop. Ia menangis dan meraung sambil mengucapkan beribu kata maaf.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku. Maafkan papa sayang" tangisnya dengan menderu.
Elka menepuk pundaknya dengan pelan dan berkata.
"Hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah saat kita baru menyadari bahwa orang yang selama ini kita anggap sampah nyatanya adalah orang yang sangat kita cintai namun saat kita menyadarinya semua sudah terlambat dan kau tau kata pepatah bahwa setiap perkataan itu adalah doa dan yah inilah jawaban atas doamu selama ini Aiden" selesai mengatakan kalimatnya Elka pergi meninggalkan Aiden dan segera mengurus pemakaman untuk kedua bayi Syeilla namun sebelum itu ia akan mengabadikan foto terakhir si kembar untuk Syeilla meskipun harapan untuknya sadar sangat tipis.
"Benarkah ini yang aku inginkan selama ini? Tapi kenapa rasanya sangat menyakitkan" ia kembali menangis dengan tampilan yang sangat kacau.
"Tuhan bolehkan aku menarik kembali perkataanku" lirihnya sambil *** kuat dadanya yang berdenyut nyeri.
__ADS_1
❤❤❤❤❤