LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 38


__ADS_3

Dua minggu kemudian...


Syeilla sudah diperbolehkan pulang dengan catatan harus sering kontrol ke rumah sakit untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Aiden adalah orang yang paling bahagia dengan kabar baik tersebut. Ia menatap penuh cinta Syeilla yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tamu rumah mereka.


"Ada apa?" tanya Syeilla saat melihat suaminya menatapnya dengan tatapan yang mampu membuai siapa saja yang melihatnya.


"Kau sangat cantik sayang." pujinya lalu mencium kening Syeilla dengan lembut.


"Ya Tuhan mas, bisa aja kalau menggombal ya." kekeh Syeilla dengan pelan.


"Ini bukan gombalan sayang tapi ini seriusan. I love you so much."


"I love you too hubby."


Syeilla tersenyum melihat betapa manisnya sosok Aiden saat ini. Ia sangat bersyukur pada sang pemilik kehidupan karena sudah memberinya kesempatan untuk dicintai oleh suaminya sendiri.


"Mas sudah jam sembilan malam ayo kita tidur." Syeilla menatap jam dan mengajak suaminya untuk tidur.


"Baiklah, ayo." Aiden segera menggendong istrinya menuju kamar mereka.


"Kenapa harus digendong sih mas. Aku kan berat." ucap Syeilla tidak enak hati.


"Siapa bilang kamu berat. Mas mu ini bahkan sanggup menggendongmu menaiki 100 tangga sekalipun." Aiden menatap sendu wajah bersih istrinya lalu membaringkannya di ranjang mereka dan menarik selimut agar istrinya tidak kedinginan.


Ia juga menjadikan tangannya menjadi bantal untuk istri tercintanya.


Sedangkan Syeilla terkekeh pelan mendengarnya.


"Sayang, apa kau mau berjanji padaku." Aiden membuka suaranya setelah beberapa menit berlalu.


"Kalau bisa pasti aku penuhi mas. Memangnya mas mau apa?" tanya Syeilla dengan lembut.


Aiden membawa tubuh Syeilla ke dalam pelukannya.


"Berjanjilah dulu."


"Ia ia aku berjanji mas."


"Jangan pernah meninggalkanku." Aiden menenggelamkan wajah Syeilla ke lehernya. Sedangkan Syeilla yang mendengarnya pun hanya mampu menghela napasnya dengan pelan. Ia melepaskan pelukan suaminya dan menatap wajah sedih Aiden.


"Mas, aku tidak bisa berjanji untuk terus mendampingimu selamanya tapi selagi raga ini masih bernapas aku akan selalu berada di sisimu." Syeilla mengusap lembut wajah tampan suaminya dan mengecup sekilas bibirnya yang masih bergetar menahan tangis.


"Aku tidak akan sanggup menghadapinya sayang." Aiden memeluk erat tubuh Syeilla seolah tidak ingin lagi melepasnya.


"Mas kepala ku pusing." ujar Syeilla dan Aiden langsung siaga dan menatap Syeilla dengan khawatir.

__ADS_1


"Mananya yang pusing sayang, apa kita perlu ke dokter."


"Kepala ku pusing kalau mas terlalu memeluknya dengan erat." kekeh Syeilla dan mengecup sayang wajah lelah suaminya.


"maafkan mas sayang. Mas tidak sengaja." lirih Aiden pelan. Sungguh ia tidak mau membuat kesalahan sekecil apa pun yang bisa mengakibatkan istrinya kenapa-kenapa.


"Mas aku sudah mengantuk." Syeilla sudah menguap beberapa kali padahal jam masih menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Aiden mengelus lembut rambut sebahu iatrinya dengan lembut. Ia sampai teringat saat dulu ia memotong asal rambut istrinya yang panjang dan tergerai indah saat tertiup angin namun sekarang hanya tinggal sebahunya saja.


"Maaf." bisiknya dengan serak namun Syeilla sudah memasuki alam mimpinya. Aiden menatapnya dengan lembut. Ia bahkan tidak bisa memejamkan matanya barang sedetik karena takut bahwa ini semua hanya mimpi belaka.


Jam sudah menunjukkan pukul 03:57 wib, tapi ia masih menatap lekat wajah lelap Syeilla yang bahkan tidak pernah mengubah arah tidurnya. Ia jadi berpikir apakah memang Syeilla tidur selelap ini sampai tidak mengubah posisinya sama sekali. Perasaan takut sudah menghantuinya. Ia pun mencoba membangunkan Syeilla dengan ngan mengguncang bahunya dengan pelan. Ia juga menepuk-nepuk pipi Syeilla namun tidak kunjung ada respon.


"Sayang... Sayang." panggil Aiden ia memeriksa denyut nadi istrinya namun tidak menemukan denyutnya sama sekali. Jantungnya bahkan sudah ketar-ketir tak karuan air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.


"Sayang, hei." ia masih mencoba berpikir dengan tanang disela kekalutan hatinya. Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Ia bahkan tidak bisa menekan nomor apapun.


"Sayang..." isaknya perlahan keluar saat tubuh itu sudah kaku dengan bibir pucatnya bahkan kini tubuh itu sudah terasa dingin.


"Tidak... Tidak... Sayang, hei buka matamu. Tolong jangan membuatku seperti ini. Sayang... Sayang kembalilah hei.. Aaarrrrrrggggg." teriaknya dengan kencang.


Syeilla yang lelap pun kini terbangun akibat teriakan kencang suaminya yang sudah bermandikan keringat.


"Mas,, hei." Syeilla menepuk pelan wajah suaminya, ia bahkan menangis dalam tidurnya.


Tanpa menunggu lama tubuh Syeilla sudah masuk dalam dekapan hangat suaminya yang bahkan tidak mau melepaskannya barang sedetikpun.


"Mas ada apa hm? Kenapa menangis dengan wajah ketakutan seperti ini. Apa mas baru bermimpi buruk?" tanya Syeilla dengan lembut sambil mengusap peluh tersebut.


"Bahkan mimpi buruk lebih baik daripada harus mimpi kehilanganmu sayang. Aku tidak akan sanggup." lirih Aiden dengan lemah.


Syeilla menepuk pelan punggung tegap Aiden sambil membisikkan beberapa kalimat.


"Ssttt aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu. Sudah ya."


"Sayang kau berjanji kan." tuntut Aiden, Seilla menganggukkan kepalanya dengan cepat dan mengusap rambut lebat suaminya hingga mata itu pun tertutup rapat dan napasnya sudah kembali teratur.


Syeilla juga kembali memejamkan matanya namun matanya tak kunjung terpejam karena ia sudah tertidur dan sekarang matanya tidak bisa lagi terpejam karena sudah melek. Merasa bosan, ia melangkah ke arah ruang tamu dan menghidupkan tv namun tidak ada tayangan yang menarik baginya. Ia pun pergi Menuju perpustakaan mini milik suaminya untuk membaca beberapa novel yang menarik perhatiannya. Ia mengambil novel yang berjudul Aku Bukan Untukmu.


Ia membacanya sambil menangis, tertawa, sedih dan marah hingga matanya kelelahan dan tertidur di sofa empuk yang ada disana hingga pagi menjelang.


Aiden meraba-raba kearah sampingnya dengan mata tertutup.


"Sayang." panggilnya dengan suara serak. Ia tidak mendapati siapapun di sebelahnya. Matanya langsung terbuka dan mencari Syeilla ke seluruh penjuru ruangan namun sosoknya tidak ada dimana pun. Ia kembali merasa ketakutan. Apa semalam ia hanya bermimpi. Pikirnya namun terasa sangat nyata baginya.

__ADS_1


"Sayang...." teriaknya dengan kencang. Ia bahkan mengecek setiap sudut ruangan sampai lemari ia buka mana tau istrinya mengerjainya dengan bersembunyi disana tapi nihil.


Ia menelpon Zia karena hanya nama itu yang terlintas di kepalanya.


"Ada apa?" tanya suara serak diujung telpon.


"Apa menurutmu aku sudah gila?" tanya nya dengan kebingungan sedangkan Zia tak kalah bingungnya saat mendengar pertanyaan Aiden yang menurutnya sangat ngaur. Memangnya siapa yang bertanya pada seseorang mengenai apakah ia gila atau tidak. Lidah Zia bahkan sangat gatal ingin mengatakan bahwa Aiden sudah gila namun hati kecilnya melarangnya dengan tegas.


"Apa maksudmu?" tanya Zia dengan heran.


"Semalam aku masih bersama Syeilla bahkan semalam ia juga masih mengusao kepalaku tapi paginya aku tidak menemukan dia dimana pun. Apa aku hanya bermimpi." terdengar suara Aiden sangat frustrasi.


"Tenangkan dirimu. Apa kau sudah mencarinya ke segala ruangan?"


"Aku bahkan memeriksa semua lemari tapi nihil. Zia apa yang harus aku lakukan. Aku sepertinya sudah sangat gila."


"Bagaimana dengan ruang kerjamu? Atau ruangan lainnya misalnya seperti pustaka mini mungkin."


"Astaga aku belum memeriksanya. Baiklah aku matikan dulu." Zia hanya bisa mendengus kasar saat panggilan diakhiri secara sepihak.


Aiden beelari ke arah ruang kerjanya namun nihil, tidak ada siapa pun disana dan harapannya hanya satu. Pustaka mininya. Ia segera kesana dengan jantung berdetak kencang. Bagaimana jika istrinya tidak ada juga disana dan fiks dia memang benar-benar gila.


Ia membuka kenop pintu oustakanya dengan jantung dag dig dug dan ya ia menemukan tubuh istrinya sedang terbaring di sebuah sofa panjang dengan wajah nyenyak. Aiden menarik napas dengan lega bahkan air matanya kembali jatuh dengan sendirinya. Perasaan yang membuncah di hatinya yang sempat ketar ketir membuat matanya memompa dengan cepat hingga tak mampu ia bendung.


"Sayang aku pikir aku sudah gila tapi kau benar-benar ada bersama ku." bisiknya dengan lirih.


"Mas kenapa menangis hm?"


"Mas panik saat tidak menemukanmu dimana pun dan ternyata kau ketiduran disini."


"Ya Tuhan maafkan aku mas sudah membuatmu cemas. Semalam aku kebosanan makanya datang kemari tapi karena terlalu mengantuk jadinya aku tertidur disini. Maaf ya sayang." Syeilla menatap bersalah manik suaminya yang sudah berair.


"Ssttt... Mas senang sayang karena semua bukan mimpi belaka. Terima kasih banyak sayang. I love you so much."


Syeilla tersenyum mendengarnya.


"I love you too hubby."


Ia sekarang heran karena Aiden terkadang mengatakan puluhan kali bahwa ia sangat mencintai dirinya. Bahkan tanpa dikatakan oleh Aiden pun Syeilla tau bahwa Aiden sangat mencintainya sebagaimana Syeilla yang mencintai Aiden dengan sepenuh hatinya.


❤❤❤❤❤


Jangan tanya kapan Syeilla bahagia karena bahagianya Syeilla sedang dalam proses wkwkwk....


Jangan lupa voment nya guys

__ADS_1


Thank.


__ADS_2