LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 42


__ADS_3

Syeilla sedang duduk santai di kursi taman dekat rumahnya. Ia menatap langit dengan tatapan sayunya dan memejamkan matanya sejenak. Berbagai macam cuplikan kehidupannya muncul seperti bioskop dan saat masa-masa terpahit hidupnya. Air matanya tanpa sadar menetes secara perlahan.


Ia kembali teringat mengenai ucapan Zia tempo hari mengenai kondisinya saat ini, ia harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi padanya meski itu artinya harus meninggalkan suaminya untuk selamanya.


*Flashback


Zia segera menemui Syeilla di sebuah kantin rumah sakit. Ia bahkan meninggalkan meeting pentingnya demi Syeilla sampai Ariel kerepotan sendiri dibuatnya.


"Syeilla..." teriaknya sambil melambaikan tangannya yang dibalas senyuman hangat oleh Syeilla.


"Sudah lama." tanya Zia sambil memeluk Syeilla kemudian melepaskan pelukannya dan duduk di kursinya.


"Ada apa?" tanya Zia saat melihat raut gelisah Syeilla yang menatapnya dengan ragu.


"Kurasa tumornya kembali menunjukkan gejalanya."


"Bagaimana bisa. Apa kau banyak pikiran selama ini.?


"Tidak Zia aku bahkan lupa bagaimana caranya berpikir keras." kekeh Syeilla menyelipkan candaannya namun Zia tetaplah Zia.


"Kita akan kembali melakukan pemeriksaan." ujar Zia dan meyeret Syeilla ke sebuah ruangan.


"Hai istri orang sedang apa disini?" tanya Elka dengan jahil.


"Elka kita harus memeriksa Syeilla sepertinya ada yang tidak beres." bisik Zia namun masih bisa didengar oleh Syeilla. Wajah Elka yang tadi jahil kini langsung berubah serius.


"Ayo masuk Syei." Syeilla mengikuti langkah keduanya dari belakang hingga sampai di ruangan ct scan.


"Zia langsung menyuruh Syeilla untuk berbaring pada sebuah meja yang diletakkan pada CT scanner, alat yang berbentuk seperti donat raksasa. Kepala Syeilla pun di posisikan di dalam scanner. Setelahnya ia keluar dan bergabung bersama Elka. sedangkan Elka segera menyiapkan peralatannya. Setelah Syeilla berbaring Elka segera menekan tombol yang akan membawa Syeilla masuk ke dalam tabung besar atau sejenisnya dan melakukan scanning wajah dan seterusnya hingga selesai.


Proses rontgen sendiri dilakukan selama 30 menit.


Setelah selesai Elka dan Zia menghampiri Syeilla dan membantunya turun dari meja dan segera memberitahu hasilnya.


"Hasilnya masih positive Syei dan sudah memasuki stadium empat." desah Elka dengan mata berairnya. Jangan ditanya bagaimana Zia.


Syeilla dulu pernah syok mendengar ia mengidap penyakit mematikan namun sekarang bahkan peradaan itu sudah menguap jauh entah kemana. Ia menepuk pelan punggung Zia yang sudah bergetar. Sungguh ia tidak ingin lagi menangis atas semua yang menimpa kehidupannya karena ia tau menangis pun keadaannya akan sama saja.


"Sudahlah, aku yang berpenyakitan kenapa malah kalian berdua yang bersedih." kekeh Syeilla dengan suara lembutnya.


Zia dan Ariel tidak mampu lagi berkata-kata, tenggorokan mereka bahkan sampai tercekat melihat betapa tabahnya hati seorang Syeilla yang sudah banyak disakiti oleh orang-orang terdekatnya*.


""""


Altaf berjalan dengan pelan lalu duduk disamping Syeilla yang sedang memejamkan matanya sambil menangis karena ia melihat air matanya jatuh membasahi pipinya meski tanpa isakan.


"Kenapa menangis dalam kesendirian." tegur Altaf sambil menyodorkan sebuah sapu tangan pada Syeilla. Syeilla kaget dan segera membuka matanya dan menghapus air matanya dengan kedua tangannya tanpa menerima ukuran sapu tangan dari Altaf. Ia lalu tersenyum menatap Altaf yang sudah tampak dewasa di usianya yang memang sudah menginjak seusia dirinya.


Altaf menatap lama wajah pucat Syeilla yang kembali menatap langit dengan wajah hampanya.


Inikah wanita yang dulu sangat ia cintai dengan sepenuh hatinya namun takdir begitu kejam memisahkan keduanya namun ia juga bersyukur karena berkat takdir ia dipertemukan dengan istrinya.


"Ada apa kemari? Bagaimana kabar Elena?" tanya Syeilla masih dengan posisi yang sama. Bukan tanpa alasan ia berada di posisi yang sama, kepalanya kembali berdenyut dengan perih namun ia tidak ingin Altaf mengetahuinya.


"Aku ingin meminta maaf atas nama Elena dan karena keegoisanku. Mengenai Elena dia sedang dirawat di rumah sakit karena syok setelah mengetahui siapa nenek sebenarnya." ujar Altaf dengan sedih.

__ADS_1


"Dia sangat mencintai nenek bahkan saat masih kecil padahal aku sudah menyuruhnya untuk tidak terlalu dekat namun ia menangis saat aku melarangnya." kekeh Syeilla dengan suara pelan. Kepalanya serasa akan meledak saat ini ia bahkan tidak mampu hanya sekadar membuka matanya.


"Kau benar, ditambah kondisinya memang kurang stabil akhir-akhir ini. Ia sebenarnya tidak diperbolehkan dokter untuk berpikir terlalu keras karena bisa mempengaruhi kesehatannya.


Syeilla hanya diam mendengarkan Altaf yang berceloteh panjang lebar.


"Apa kau akan seperti itu? Sebaiknya kau pulang Syei." ujar Altaf saat ia tidak lagi mendengar suara Syeilla. ia pikir mungkin Syeilla tertidur mengingat angin sepoinya membelai dengai sangat menggoda.


Aiden hendak bangkit dan berjalan pulang dan bertepatan juga tangan Syeilla jatuh dari pangkuannya. Altaf segera mendekati Syeilla dan sesaat darah keluar dari hidungnya dengan perlahan bahkan warnanya sangat kental. Sontak Altaf dibuat panik.


"Syeilla.... Syeilla... Hei." Altaf mencoba menepuk pipi Syeilla yang terasa sangat dingin. Tanpa pikir panjang ia segera menggendong Syeilla dan membawanya menuju rumah sakit.


"Dokter..." teriak Altaf di lobi rumah sakit. Ia berteriak dan beberapa suster tampak berlari mendekati aktaf sambik membawa medorong brangkar menuju kesana.


"Tolong.. Tolong teman saya." ujar Altaf dengan cemas.


Suster segera membawa Syeilla ke ruang UGD untuk mendapat penanganan serius.


"Tampak sekali pria itu sangat mencintai kekasihnya." ujar seorang dokter yang kebetulan ada Ariel disana sedang membawa sesuatu di tangannya.


"Bukankah dia pasien dokter Zia" Tanpa sengaja ia mendengar nama Syeilla di sebut-sebut.


"Apa bisa kalian ulangi apa maksudnya?" tanya Ariel penasaran.


"Itu dokter pasien dokter Zia kembali masuk UGD dan sudah di tangani oleh dokter Sifa." terangnya yang membuat jantung Ariel berdegup tak nyaman.


Ia segera berlari menuju ruangan Zia yang sedang menerima pasien.


"Apa kau sibuk?" tanya Ariel dengan napas ngos-ngosan.


"Kau seperti habis dikejar hantu. Ada apa?"


"Syeilla masuk UGD." terang Ariel dan pulpen yang ia pegang lepas begitu saja dari tangannya.


"Bagaimana bisa?" tanya Zia dan segera menghubungi dokter Riska untuk menggantikannya.


"Ibu saya mohon maaf karena harus mengganti dokternya, dokter Ariel akan mengantar ibu ke ruangan dokter Riska." terang Zia yang langsung di maklumi oleh pasiennya.


"Terima kasih." ucap Zia tanpa suara dan berlaku menuju ruang UGD.


"Ia segera masuk kesana dan melihat Syeilla sedang di pasangi alat bantu pernapasan.


"Syukurlah dokter Zia segera datang." ujar dokter Sifa dengan lega.


"Ada apa dengan pasien saya dok."


"Sepertinya penyakitnya semakin parah dok kami hampir saja kehilangannya kalau kami tidak segera bertindak tadi."


"Terima kasih." ujar Zia dengan tulus.


Ia keluar dan menemukan Altaf sedang menunggu Syeilla di depan ruang UGD. Altaf yang melihat Zia keluar segera menghampirinya.


"Dokter bagaimana kondisinya."


Zia menatap Altaf dengan datar namun tetap menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Harapannya bertahan tidak banyak, kalau kau dan keluargamu merasa pernah berbuat kesalahan segeralah meminta maaf sebelum terlambat." Zia segera pergi menuju toilet wanita dan menangis sejadi-jadinya. Ia sampai menepuk-nepuk dadanya yang sangat sesak dan menyakitkan.


Altaf terdiam cukup lama, sudut hatinya berdenyut sakit meski tidak seberapa namun saat mendengar langsung penuturan Zia ia seolah kehilangan Syeilla untuk kedua kalinya. Setidaknya ia ingin melihat Syeilla bahagia meski bukan bersama dirinya namun Aiden bukan kandidat buruk.


"Aku tidak berguna... Aku sungguh tidak berguna... Aku seorang dokter tapi nyatanya tidak bisa menolongnya.. Aku tidak berguna. " tangisnya dengan pilu. Ia tenggelam dengan kesedihannya.


"Kuharap Zia baik-baik saja." ujar Elka pada Ariel yang diangguki olehnya.


"Dia bahkan belum kembali sejak tadi padahal ini sudah lebih satu jam ia pergi.


"Coba kamu cek ke ruang UGD mungkin dia masih disana." suruh Elka pada Ariel.


Sedangkan ia sendiri akan mencarinya di taman rumah sakit siapa tau dia berada disana.


"""""


"Dimana nyonya? Tanya Aiden sesampainya di kediamannya.


"Maaf tuan tapi nyonya belum kembali dari taman sejak pagi." penuturan pembantunya membuatnya kalut.


"Ia hendak marah namun percuma yang penting baginya sekarang adalah mencari keberadaan istrinya.


Ia baru saja akan memasuki mobilnya namun sebuah panggilan menghentikan gerakannya. Ia rogoh sakunya dan melihat nama si pemanggil.


"Syeilla di rumah sakit di ruang UGD." beritahu Elka.


"Terima kasih aku segera kesana."


Aiden segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit ia kembali membatalkan meeting pentingnya dengan investor asing dari Singapura.


"Kuharap kamu baik-baik saja sayang." ucapnya menenangkan hatinya yang tak berhenti merasa cemas.


"Dimana pasien atas nama Syeilla." tanya Aiden sesampainya disana karena Elka memang tidak memberitahu ruangannya.


"Bapak naik ke lantai tiga kemudian lurus saja dan belok kanan dua kali. Ruangannya nomor 312"


"Terima kasih."


Ia segera pergi dari sana menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh dokter tersebut.


Ia membuka pintu ruangan tersebut dengan jantung berdetak tak karuan.


"Sayang." bisiknya sesampainya ia disana.


"Apa yang terjadi padamu." Aiden mengelus lembut wajah pucat istrinya yang dipasangi alat bantuan pernapasan serta infus.


Aiden menunduk dengan dalam tanpa terasa air matanya kembali menetes dari penampungannya dan jatuh ke tangan Syeilla. Setiap ia melihat Syeilla terbaring kemah seperti ini ingatannya akan perbuatannya dimasa lalu kembali muncul dan ia merasa pria paling brengsek di muka bumi ini.


"Jangan pernah sesali masa lalu karena tanpa masa lalu kita tidak akan pandai menatap masa depan. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran hidup untuk masa depan."


❤❤❤❤


Hayo yang masih suka malu-malu buat vote... Udah nggak udah malu autor kan baik pakek banget wkwkwk


Jangan lupa tinggalkan komentar kalian kalau ada saran dipersilahkan asal yang membangun...

__ADS_1


__ADS_2