LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Bab 10 (Season 3)


__ADS_3

Satu minggu kemudian


Alya sudah mempersiapkan hadiah paling istimewa untuk menyambut kedatangan Cally. Sebuah liontin dengan bandul hati. Senyumnya tak pernah pudar.


"Anak Mama bahagia sekali." Syeilla datang sembari membawa nampan berisi obat.


"Ya dong Ma, kan mau menyambut saudari Alya. Bahagia banget rasanya bisa kumpul lagi."


Syeilla tersenyum bahagia meliahat keantusiasan putrinya. Sebentar lagi keluarga mereka akan diisi canda tawa oleh kedua putrinya. Aiden datang dan mencium kening Alya dan istrinya. Mereka berangkat menuju Bandara Sotta untuk menjemput Cally.


"Ma, aku sedikit gugup," ucap Alya. Syeilla mengenggam tangan putrinya.


"Dia pasti sangat cantik sepertiku, ya kan Ma."


"Tentu saja sayang." Aiden menimpali.


Mereka sudah berada di ruang tunggu. Jantung Alya berdegup kencang menanti kehadiran kembaran yang sudah lama terpisah darinya.


Dering ponsel membuyarkan pikirannya. Ia segera mengangkat panggilan dari sahabatnya. Tidak jauh dari tempat mereka berada, Cally baru saja keluar dan melambaikan tangan pada mereka. Tatapannya tertuju pada seorang gadis yang seumuran dengannya.


Hatinya kecewa saat melihat tidak ada sambutan apa pun dari saudarinya. Terlihat dari bagaimana cara ia menelpon dan tidak mengetahui kehadirannya.

__ADS_1


"Iya, aku senang sekali, aku sedikit gugup," ucap Alya pada seseorang di seberang telpon.


"Oke, sudah dulu sepertinya dia sudah sampai, bye!" teriaknya sedikit kencang saking bahagianya.


Ia membalikkan tubuhnya dan tersenyum lebar menghadap Cally. Namun, wajah kembarannya terlihat dingin. Tidak ada raut bahagia sama sekali terpancar di sana. Mereka menatap dalam kekakuan.


"Sayang ayo!" Syeilla dan Aiden menggandeng Cally sedangkan Alya berjalan di belakang mereka. Sudut bibir Cally terangkat sedikit.


Mereka berempat segera menaiki mobil Daihatsun. Cally dan Alya sama-sama duduk di kursi belakang. Syeilla berada di depan menemani suaminya yang mengemudi.


Keduanya terlihat diam membuat kedua orang tuanya heran. Tapi berusaha memaklumi karena wajar keduanya sedikit kaku, mengingat tidak pernah bertemu dalam jangka waktu panjang.


Mereka sudah sampai di rumah, Cally segera turun dan menatap kagum rumah kedua orang tuanya. Kemewahan yang tersaji dihadapannya memang tidak kalah dengan kemewahan selama tinggal bersama neneknya.


Alya memerhatikan Cally dengan saksama. Aiden dan Syeilla segera membawanya masuk dan menunjukkan kamar yang sudah didesain oleh mereka. Nuansa gold menambah kemewahan dengan ranjang berukuran besar. Dua almari dengan kaca panjang berjejer di sisi kanan dan kirinya. Meja rias lengkap dengan make up yang tersusun rapi. Sebuah sofa kebiruan menyatu dengan ranjang.


Cally sangat puas melihat kamarnya. Ia menatap Alya dengan datar lalu tersenyum.


"Sayang, bagaimana, kamu suka dengan kamarnya?" tanya Syeilla lembut.


"Aku suka banget, Ma. Makasih ya." Cally memeluk tubuh Syeilla.

__ADS_1


Alya tersenyum melihat kebahagiaan saudarinya, meski ada sesuatu yang mengganjal. Ia tidak tahu mengenai apa.


Alya kembali merasa dadanya sedikit sesak, ia lupa meminum obatnya. Perlahan ia menghilang dari sana dan segera meminum obat. Cally menyadari kepergian Alya.


"Ma, apa nggak suka sama aku," ucapnya dengan pelan.


"Sayang, Alya sangat antusias menyambut kedatanganmu. Mana mungkin dia tidak menyumaimu, hm." Syeilla mengelus lembut surai kehitaman putrinya.


"Apa yang Mama bilang itu benar sayang," ucap Aiden membenarkan.


"Nyonya!" teriak sebuah suara.


"Ada apa Bi?"


"Nona Alya pingsan!" lapornya. Syeilla dan Aiden segera berlari ke kamar putrinya. Meninggalkan Cally yang merasa Alya sedang bersandiwara.


"Gue rasa lo nggak butuh lagi perhatian dan kasih sayang Alya. Gue mau perhatian Mama dan Papa sepenuhnya buat gue."


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Maaf ya baru nongol wkwkwkw. Hari ini aku nulis 3 cerita ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

__ADS_1


__ADS_2