
Syeilla dan Aiden dibantu oleh beberapa temannya. Bahkan Dion sampai turun tangan untuk membantu menemukan Cally. Mereka terlambat sampai ke apartemen Marten karena pria itu sudah tidak ada lagi di apartemen. Kecemasan Alya semakin menjadi, ia tahu senekat apa Marten jika mengetahui bahwa gadia yang bersamanya bukan dia.
"Mas, bagaimana ini. Aku nggak mau kehilangan Cally." Syeilla menangis memohon pada mereka semuanya agar bisa menemukan Cally.
Nevan sendiri sangat bahagia setelah mengetahui Alya sudah kembali. Ia lega tidak ada cidera sedikit pun yergores di tubuh gadia yang sangat ia cintai. Namun, ia ikut sedih dengan apa yang menimpa Cally. Meski ia tidak kenal dekat dengan kembaran Alya. Setidaknya Nevan tahu bahw Cally gadis yang baik dan menyenangkan.
Dirga sendiri sangat kesal melihat kedekatan Nevan dan Alya. Cowok itu saat ini sangat cemburu melihat keduanya sangat akrab. Dulu posisi itu pernah dirasakan oleh Dirga. Alya selalu menjadikannya sebagai sandaran saat menemui masalah yang membuat kepala Alya melepuh.
"Ma, tenang dulu ya. Kita pasti akan menemukan Cally." Alya berusaha menguatkan ibunya yang masih menangis. Ia tidak ingin kejadian ini kembali mwmbuat kesehatan ibunya menurun.
__ADS_1
"Sayang, Cally akan baik-baik saja kan?" tanya Syeilla lemah.
"Mama tahu kan, Cally gadis yang kuat dan dia tidak akan mudah untuk ditindas oleh siapa pun." Alya tersenyum menenangkan ibunya.
"Iya Tante, Cally juga pintar. Dia pasti bisa mengulur waktu sampai kita bisa menemukan dia." Nevan ikut menimpali pembicaraan keduanya.
Syeilla tersenyum mendengar hal tersebut. Sedangkan Dirga membuang jauh kenangannya bersama Cally. Gadia itu tidak pernah menuntut hal apa pun selama mereka berpacaran. Berbeda dengan cewek lain yang pernah dia kencani dan berakhir menjadi kekasih. Mengingat hal itu, membuat Dirga menyesal karena pernah menyakiti perasaan Cally. Kini gadis itu hilang entah kemana.
Marten mengeram marah setelah mendengar pengakuan Alya palsu. Selama ini ia juga sudah menaruh curiga. Namun, mencoba menepis karena keduanya juga sama-sama anak dari Aiden. Baik Alya atau Cally, ia tetap masih bisa membalas dendamnya.
__ADS_1
Cally membuka matanya perlahan dan melihat kemarahan Marten perlahan mulai sirna. Cally sudah pasrah jika ia akan mati di tangan Marten. Setidaknya ia sudah melakukan hal yang benar dalam hidupnya.
"Marten, kalau kamu mau membunuhku, aku sudah siap," ucap Cally dengan sangat tenang. Tidak ada lagi keraguan dalam matanya.
Hal itu membuat Marten tidak suka. Mata itu seolah menunjukkan kepasrahan dan Marten tidak menyukainya. Ia menginginkan rasa takut menggerogoti jiwa Cally sampai gadis itu memohon padanya.
"Tidak semudah itu," ucap Marten dengan misterius. Ia kembali melajukan mobilnya menembus jalan raya menuju sebuah tempat yang tidak akan pernah ditemukan oleh siapa pun.
-------------------
__ADS_1
selamat malam gais. maaf updatenya agak malem. jaringanku suka minta dinikahi saking leletnya.