
Mendengar Itu kaki Elena terasa lemas. Air matanya mengalir deras bak anak sungai. Ia belum percaya ini semua. Bagaimana bisa ini terjadi padanya. Apa takdir begitu kejamnya sampai mempermainkan dia seperti ini. Tanpa ia sadari hidungnya mengeluarkan darah dengan lancarnya hingga ia pun tersadar saat darah mengenai tangannya. Ia segera menuju toilet untuk membersihkan hidungnya.
"Padahal keberadaan kamu akan mommy beritahu pada daddy sayang. Tapi sepertinya kamu harus menunggu lebih lama lagi untuk diketahui oleh daddy atau tidak sama sekali." Elena mengelus perutnya setelah selesai membersihkan darah di hidungnya.
Ia kembali ke ruang tamu dan berencana untuk menggambil keperluannya tapi langkahnya terhenti oleh pembicaraan suaminya dengan seseorang di seberang sana.
"Aku akan membuatnya sangat menderita Ren. Aku akan membalaskan dendam untuk kematian kekasihku. Kau pikir aku menikahinya tanpa sebab huh. Yang benar saja dude. Bahkan kematian pun tidak pantas untuknya.”
Elena yang mendengar itu dibalik pintu tak kuasa menahan tangisannya. Apa lagi ini pikirnya. Apa ini alasan Altaf menikahinya untuk sebuah dendam yang bahkan ia sendiri adalah korban. Ia mengurungkan niatnya dan kembali ke bawah lalu memasuki kamar tamu. Ia meluapkan kesedihannya dengan menangis pilu.
"Aku merasa selama empat bulan ini sudah benar-benar percaya bahwa aku juga bisa meraih sebuah kebahagiaan semenjak pristiwa itu. Rupanya aku hanya terlalu terbuai menikmati mimpi semu ini karena pada kenyataannya ia masih menyalahkan aku atas kematian kak Syeilla." gumamnya dengan pilu.
Seminggu kemudian...
Elena mendapat kabar bahwa hasil pemeriksaannya sudah keluar dan Anna akan datang ke rumahnya. Elena hanya berharap bahwa itu bukan masalah yang serius. Ia sudah sangat tertekan dengan masalah rumah tangga ditambah penyakitnya yang sudah sering bereaksi. Pintu suara bel pun berbunyi dan Elena segera membuka pintu untuk menyambut Anna. Terlihat penampilan Anna yang berantakan dengan mata merahnya dan langaung memeluk Elena dengan erat.
"El andai bisa digantikan, aku rela menggantikan posisimu." ucapan Anna terdengar ambigu di telinga Elena hingga ia bertanya-tanya dengan bingung.
__ADS_1
Elena segera mempersilahkan Anna untuk duduk dan membawakan segelas air putih untuk menenangkan Anna. Setelah sedikit tenang Elena pun bertanya pada Anna.
"Sekarang coba ceritakan apa yang membuatmu berantakan sampai menangis begini ditambah kamu mengucapkan kalimat yang ambigu." selidik Elena dengan mata memicing.
Anna segera menyerahkan hasil pemeriksaan Elena. Dengan pelan Elena membuka amplop itu dan membacanya kata demi kata hingga matanya membeku pada sebuah tulisan yang mampu menghentikan fungsi syaraf pada tubuhnya.
Kertas itupun terlepas bebas begitu saja. Air matanya sudah mengalir dengan derasnya.
"Apa ini maksudmu barusan." tanya Elena dengan suaranya yang bergetar hebat.
Anna yang tak mampu membendung tangisnya pun segera memeluk Elena dengan eratnya.
Elena sempat berpikir betapa kejam Tuhan padanya namun mendengar langsung dari mulut Anna. Ia merasa mungkin inilah takdirnya ia tak ingin menyalahkan yang maha kuasa. Ia juga tidak akan sembuh. Ini sudah menjadi takdirnya. Ia menenangkan Anna yang masih terisak pilu. Harusnya Elena yang ditenangkan bukan sebaliknya.
"Ann, semua dari kita pasti akan merasakan yang namanya kematian meski pun jalan kita kesana berbeda. Mungkin ini sudah menjadi takdirku, dan beginilah jalanku kembali pada Nya" ucapnya menenangkan Anna.
Sejujurnya ia juga butuh penyemangat namun kondisi Anna sangat menyedihkan saat mengetahui penyakit Elena.
__ADS_1
"Ann seberapa parah penyakit itu." tanya Elena setelah melihat Anna sudah kembali tenang.
"Sudah memasuki stadium dua dan kabar buruknya lagi penyakitnya sulit bahkan mustahil untuk disembuhkan El, dan penyakit kamu termasuk penyakit yang bersifat agresif ditambah dengan kondisimu yang sekarang akan memperparah keadaanmu El. " isak Anna parau.
Elena mendengar dengan teliti penjelasan dari Anna. Ia hanya bisa terdiam seribu bahasa.
"Mungkin beginilah takdir yang harus ia jalani." pikir Elena pasrah.
"Dengan kondisimu yang sekarang resiko nya semakin besar El, kau tidak bisa mempertahankan bayi mu El." Anna mencoba membujuk Elena agar mengurungkan niatnya.
"Ann kita sudah pernah membicarakan ini." Elena mengakhiri pembicaraan mereka karena walau bagaimana pun bayi nya tidak bersalah. Takdir saja yang tidaj bersahabat dengannya.
Anna hanya mampu menghela napasnya dengan berat.
"Mama akan berjuang melalui semua cobaan ini sayang. Mama janji akan mempertahankan kamu meski pun nyawa mama yang jadi taruhannya." Elena berbicara pada bayinya.
"Tuhan jika kebahagiaan sangat sulit untuk ku jangkau di dunia ini maka berikanlah kebahagiaan itu ketika aku sudah kembali padaMu." pinta nya dengan tulus.
__ADS_1