
Orang terbodoh adalah mereka yang selalu bertindak tanpa menyelidikinya terlebih dahulu.
Poor Dion 😆😆
Guys mungkin setelah part 35 autor tidak akan up selama beberapa hari karena harus mengedit naskah Lost My Heart untuk proses penerbitan mengingat novelnya juga belum selesai jadi autor harus menyelesaikan itu terlebih dahulu. Terima kasih untuk pembaca setia Lelah
****
Syeilla sudah terbangun dari komanya seminggu yang lalu dan keadaannya pun sudah mulai membaik namun satu yang Syeilla bingingkan adalah kenapa dari semua yang ada di ruangannya tidak ada yang membahas mengenai bayinya.
"Sayang" ujar Aiden sambil sembari membawa sekuntum bunga lily dan meletakkannya di ranjang Syeilla yang disambut bahagia olehnya.
"Terima kasih" ujar Syeilla sembari tersenyum.
Wajah Aiden sudah kembali berseri seperti semula bahkan antara percaya atau tidak ia terlihat lebih tampan setiap harinya. Ia sangat bahagia melihat senyuman indah terpatri di bibir ranum istrinya dan membuatnya takut jika senyuman itu bisa hilang akapan saja saat kebenarannya diketahui oleh istrinya.
"Selamat siang pasien ku yang cantik" ujar Ariel sembari membawa parsel buah-buahan untuk Syeilla dan mendapat delikan tajam dari Aiden.
"Selamat siang dokter Ariel yang tampan" kekeh Syeilla dan langsung mendapat pelototan dari Aiden. Ariel kemudian menggenggam tangan Syeilla dengan lembut.
"Sayang, apa kamu lapar?" tanya Aiden dengan lembut sambil mengelus rambut pendek istrinya.
"Tidak, aku bahkan sudah kenyang melihat suamiku yang tampan ini" canda Syeilla dengan tersenyum dan dibalas senyuman hangat oleh Aiden.
Sedangkan Ariel hanya mampu memutar bola matanya dengan kesal melihat drama romantis keduanya lalu sedetik kemudian sebuah senyuman kecil terbit di bibir Ariel saat melihat raut kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Syeilla.
Zia pun masuk dengan semangat 45 nya sembari membawa sesuatu untuk Syeilla yakni sebuah tanaman yang sangat cantik.
"Wah cantik sekali" ujar Syeilla dengan wajah berserinya"
"Apa kau menyukainya?" tanya Zia dengan lembut.
"Tentu saja aku sangat menyukainya Zi, terima kasih banyak" ujar Syeilla dengan tulus yang dibalas senyuman hangat dari Zia.
"Anggrek hijau dikenal melambangkan kesehatan, kehidupan, dan umur panjang serta mewakili keberuntungan dan berkah kebahagiaan" ujar Ariel dengan senyuman yang diangguki oleh Zia.
"Karena itulah aku sangat menyukainya. Aku hanya berharap Tuhan memberiku umur yang panjang meskipun rasanya semua mustahil" ucapnya dengan sendu.
"Sayang, jangan berbicara seperti itu" ujar Aiden tidak suka.
"Syei, tentang umur seseorang tidak ada siapapun yang tau, bisa saja aku atau Ariel yang duluan bahkan bisa saja besok Aiden yang meninggal duluan" ujar Zia sembari menekankan kata Meninggal di akhir kalimatnya yang langsung mendapat pelototan dari Aiden.
Melihat itu membuat Syeilla kembari tertawa lalu menatap mereka semua dengan serius.
"Aku sudah lama sadar tapi tidak pernah melihat kedua bayiku. Dimana mereka, aku sudah sangat merindukannya" ujar Syeilla dengan wajah cerianya.
Ketiganya langsung pucat di tempatnya bahkan Aiden pun sudah berkeringat dingin.
"Kenapa kalian malah diam. Dimana mereka?" ujar Syeilla masih dengan wajah senangnya.
"Sayang, itu anu..." ujar Aiden dengan lidah membeku. Ketakutannya mengenai hal ini sudah di depan matanya. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya tapi bagaimana caranya. Pikir Aiden dengan wajah nelangsa.
Sedangkan Zia dan Ariel tidak tau harus mengatakan apa lagi dan hanya terdiam di tempatnya. Syeilla menatap wajah ketiganya dengan wajah bingungnya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Syeilla dengan wajah seriusnya.
"Sayang ini.. "
"Katakan sesuatu Zia, Ariel" ucapnya memotong pembicaraan Aiden.
__ADS_1
"Syei kamu harus sembuh dulu ya baru bisa bertemu dengan mereka. Mereka baik-baik saja jadi kamu tidak perlu khawatir" ucap Zia dengan lembut.
"Iya sayang, benar kata Zia, kamu harus sembuh dulu" ucap Aiden memberi pengertian dan di angguki oleh Syeilla. Namun meskipun semuanya mengatakan bahwa bayinya baik-baik saja tapi entah kenapa ia merasakan hal yang sebaliknya.
*****
Di tempat lain seorang lelaki sedang menyeringai dengan puas karena targetnya kini sudah sadar dan ia akan memberikan sebiah kejutan kecil untuknya.
"Syeilla, aku akan memberikan kejutan kecil untukmu dan aku yakin kau akan menyukainya" ujarnya dengan wajah sinis.
Ia lalu menelpon salah satu anak buah yang ia tempatkan di rumah sakit untuk memantau perkembangan Syeilla.
"Bos nona Syeilla sedang sendirian di ruangannya. dokter Zia dan dokter Ariel sudah pergi menghadiri seminar yang diadakan di hotel Grand Mulia sedangkan tuan Aiden sendiri sudah kembali ke kantornya untuk menghadiri rapat penting" lapor seseorang dari seberang sana.
"Bagaimana dengan Elka?"
"dokter Elka sedang berada di luar kota bos"
"Bagus. Saya akan segera kesana" jawabnya dan langsung mematikan panggilan tersebut.
Dion pun segera mengambil kunci mobilnya lalu segera mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit tempat Syeilla dirawat.
Dua puluh menit kemudian ia pun sudah sampai di depan gedung rumah sakit tersebut lalu segera menuju ruangan tempat Syeilla berada. Setelah sampai disana ia segera mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Syeilla.
"Hai maaf menganggu waktu istirahatmu" ujar Dion setelah ia masuk ke ruangan Syeilla. Sedangkan Syeilla masih menatap bingung lelaki yang kini berdiri di depannya. Wajahnya seolah familiar untuknya namun ia tidak ingat dimana pernah melihatnya.
"Ada apa?" tanya Syeilla dengan raut bingungnya.
"Tidak ada hanya saja ada sedikit kejutan untukmu" ujar Dion dengan wajah tersenyum penuh keculasan.
"Oh ya. Apa itu?" tanya Syeilla dengan wajah tersenyum menatap Dion yang kini sedang mengernyitkan keningnya dengan bingung.
"Aku yakin kau akan menyukainya" ujar Dion sambil menyeringai lebar. Syeilla segera membuka amplop tersebut lalu sedetik kemudian amplop itu pun jatuh dari tangannya.
"Apa ini semua" ujarnya dengan gagap dan tangan gemetar.
"Itu adalah foto bayimu dan dibawahnya adalah alamat tempat pemakaman putra dan putrimu" ujar Dion dengan wajah sedihnya namun sedetik kemudian ia tersenyum.
"Tidak mungkin. Suamiku bilang mereka berdua baik-baik saja. Kau pasti berbohong" ujar Syeilla dengan air mata sudah membanjiri wajah pucatnya.
"Mereka membohongimu sayang" ujar Dion sembari memutar posisinya yang kini berada di sisi kanan Syeilla.
"Tidak.. Kau pasti membohongiku"
"Mana mungkin aku membohongimu karena akulah yang menabrakmu waktu itu hahaha aku bahkan melihat jasad bayimu saat dokter membawanya keluar dari ruang operasi. Ah bayi yang malang" desah Dion dengan wajah sedihnya yang penuh akan kebohongan.
"Kau! Kau pembunuh. Aku tidak akan memaafkanmu" teriak Syeilla dengan air mata bercucuran.
"Aku tidak perlu maaf darimu. Aku bahkan senang karena sudah membuatmu merasa kehilangan hahaha" tawa Dion dengan wajah jahatnya.
"Kenapa kau melakukan ini pada kedua bayiku. Apa salahku" ujar Syeilla dengan lemah. Hidungnya kembali mimisan.
"Salahmu banyak perempuan sialan. Karena kau aku harus kehilangan kekasihku di depan mata ku sendiri dan karena kau juga aku kehilangan mamaku. Semua karena kau sialan!" teriak Dion dengan napas memburu.
"Aku bahkan tidak mengenal siapa kau? Bagaimana mungkin aku mmyang membunuh kekasih dan mamamu" ucap Syeilla dengan menangis.
"Bulshit! Alisa. Apa kau mengenalnya?" desis Dion dengan marah.
"Aku mengenalnya karena dia dulu satu profesi denganku sebagai model. Tapi apa hubngan kematiannya denganku" jawab Syeilla bingung.
__ADS_1
"Karena kau ia memutuskan bunuh diri. Kau sudah merebut mimpi yang ia bangun selama bertahun-tahun tapi kau merebut posisinya" teriak Dion.
"Semua itu kesalahpahaman, aku tidak pernah merebut mimpinya" bela Syeilla dengan kukuh.
"Jangan berbohong padaku" teriak Dion dengan marah.
"Ternyata kau lelaki yang gampang dibodohi" kekeh Syeilla dengan sinis.
"Beraninya kau"
"Dia hamil dengan pria lain dan pria itu tidak mau bertanggung jawab sedangkan kau lelaki yang bisa dibodohi. Kalau kau tidak percaya kau bisa mengkonfirmasinya langsung dengan mantan agensinya" terang Syeilla panjang lebar.
"Tidak? Itu tidak mungkin. Kau pasti berbohong karena merasa dendam atas kematian kedua bayimu lalu menjelek-jelekkan kekasihku. Dasar perempuan jalang" teriak Dion dengan murka.
"Apa kau pikir aku seorang jalang?" tanya Syeilla dengan wajah terlukanya. Ia sudah mengingat siapa lelaki yang kini berteriak marah di depannya bahkan mengatainya sebagai jalang.
"Kau bahkan lebih buruk dari seorang jalang" maki Dion dengan sinis.
"Ah aku pikir kau masih sepolos dulu tapi nyatanya mulutmu lebih pedas dari yang aku kira. Kau bahkan sampai mencelakaiku hingga menghilangkan nyawa kedua bayiku dengan motif balas dendam. Apa matamu sangat buta sampai tidak bisa mengenaliku sama sekali?" tanya Syeilla dengan terluka. Hidungnya yang sudah ia bersihkan dari noda darah kini kembali dialiri oleh darah.
Syeilla teesenyum menatap mata tajam dion yang kebingungan.
"Terima kasih atas luka yang kau torehkan di awal pertemuan kita yang menyakitkan ini Dion Angkasa Putra. Janjimu yang akan menjadi pelindungku kini berbalik menusukku dengan sebuah dendam yang bahkan kau sendiri tidak tau kebenarannya. Lelaki memang suka berkalimah manis namun tidak pernah menepati janjinya" seru Syeilla dengan napas terputus-putus.
Ia menatap dion dengan senyuman tulusnya dan memberikan sebuah foto yang selalu ia simpan di sebuah tempat yang selalu ia bawa kemana-mana.
Dion menatap poto tersebut dengan wajah menahan air matanya.
"Apa kau gadis kecil yang selama ini aku cari" ujarnya dengan masih menatap poto tersebut namun tidak mendapat jawaban dari Syeilla. Ia segera mengalihkan tatapannya namun alangkah kagetnya ia saat melihat Syeilla sudah tidak bergerak di tempatnya.
"Syeilla... Syeilla... Syeilla.." teriaknya dengan menangis lalu suara elektrokardiogram berbunyi dengan nyaring.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit
"Dokter" teriak Dion dengan menggila. Ia berlari dan memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Syeilla.
Dokter pun segera menuju kesana dan langsung memberikan penanganan dengan menggunakan kejut jantung untuk mengembalikan detak jantung pasiennya.
"150 joule" ujar dokter tersebut dan langsung mengarahkan alat tersebut ke dada Syeilla namun tidak ada reapon sama sekali.
"Naikkan ke 200 joule" ujar dokter tersebut dan kembali meletakkan alat tersebut ke jantung Syeilla dan usaha yang ke empat akhirnya membuahkan hasil karena detak jantung Syeilla kembali berdetak.
Dokter dan suster pun menghela napas dengan lega lalu segera keluar dari sana.
"Apa yang aku lakukan" isak Dion sembari memukul kepalanya dengan kuat. Lalu ia mendengar suara pintu terbuka dan segera menghampirinya.
"Bagaimana dokter?" tanya nya dengan was-was.
"Pasien berhasil di selamatkan. Untuk sementara waktu pasien belum bisa di besuk dan saya belum pernah melihat anda sebelumnya"
"Saya temannya dok" ujar Dion dan dokter pun hanya ber oh ria lalu segera pergi dari sana.
"Aku memang bodoh karena tidak bisa mengenalinya sama sekali. Aku bodoh" makinya pada dirinya sendiri. Di luar ruangan tersebut ia mentaap Syeilla dengan tatapan sendunya.
"Maafkan aku Syei karena sudah menorehkan luka terdalam di hidupmu. Aku tidak pantas dimaafkan. Maafkan aku" isaknya dengan perih.
"Apa kau sudah puas?" tanya seseorang dengan tatapan membunuh.
❤❤❤❤
__ADS_1