LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Episode 14


__ADS_3

Tolong sebelum membaca capter yang ini...


Silahkan beristigfar terlebih dahulu 😜😂


*****


Kaki panjang Aiden melangkah masuk ke rumah mewahnya dengan wajah yang sangat menyeramkan. Mata elangnya menatap tajam semua penghuni yang kini sedang menunggunya untuk makan malam. Disana sudah ada Syeilla dan sisanya adalah asisten rumah tangganya.


Aiden menatap tajam mata Syeilla yang kini tengah menatapnya dengan datar. Rasa amarah tiba-tiba menyeruak ke luar saat melihat wajah Syeilla. Ia mendekati meja makan dan dalam hitungan detik semua makanan yang sudah tertata dengan rapi di meja makan kini sudah berhamburan di lantai. Sangat mengenaskan, membuat mereka yang disana terkejut dan ketakutan saat melihat aura kegelapan sedang menguasai jiwa tuan mereka sedangkan Syeilla hanya diam membisu di kursinya.


"Apa kau senang sekarang? Apa kau senang hah!" teriaknya dengan kencang tepat di depan wajah Syeilla.


"Apa maksudmu?" tanya Syeilla dengan datar.


Aiden berdecih muak saat lagi-lagi wajah itu yang Syeilla tunjukkan padanya. Wajah tak bersalahnya.


"Apa kau sungguh sesial itu hingga semua orang yang aku cintai harus berakhir seperti ini! Kenapa bukan kau saja yang mati. Kenapa??" teriak Aiden kemudian menarik mencengkram  rahang Syeilla dengan erat.


Air mata Syeilla mengalir dengan deras tanpa bisa ia cengah saat kata-kata itu meluncur bebas dari mulut suami yang sangat ia cintai. Matanya menatap dalam mata penuh kemarahan Aiden kemudian tangannya terulur mengelus rahang Aiden dengan lembut sembari tersenyum.


"Aku akan pergi dari hidupmu jika waktunya sudah tiba. Kamu hanya harus bersabar sedikit lagi!!" ujar Syeilla sembari mengelus rahangnya yang sakit akibat cengkeraman Aiden.


"Bersabar kau bilang? Aku bukan seorang penyabar!"


"Maka belajarlah sabar dari sekarang?" ujar Syeilla kemudian bangkit dari kursinya dan melangkah pergi menuju kamarnya. Ia menaiki tangga dengan susah payah dan sesekali pinggangnya terasa nyeri. Namun tidak ada belas kasihan di mata Aiden saat melihat Syeilla berjalan dengan kesusahan.


"Ah kembali lagi" desah Syeilla saat cairan kental kembali mengalir dari hidungnya. Ia berhenti di pertengahan tangga untuk membersihkan darah di hidungnya dan sesekali tampak menarik napas dengan dalam. Setelah merasa lebih baik ia kembali melangkah sedikit demi sedikit hingga ia sampai di tangga teratas dan menghela napasnya dengan lega.


Sedang Aiden menatap Syeilla dan kandungannya dengan muak. Ia pun menyusul Syeilla naik dan masuk ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Syeilla.

__ADS_1


"Kemana aku harus mencari pendonor jantung untuk Jeslyn" ia menjambak rambutnya dengan frustrasi. Ia kesal dan marah saat melihat Syeilla baik-baik saja. Andai permintaan bisa di kirimkan ke Tuhan maka ia akan meminta agar Syeilla saja yang menggantikan Jeslyn.


Ah mengingat nama Syeilla saja berhasil membuat moodnya menjadi buruk. Perempuan itu benar-benar pembawa petaka dalam hidupnya. Sudah cukup ia kehilangan mamanya iatidak mau lagi kehilangan kekasih yang sangat ia cintai untuk itu ia akan melakukan apa saja demi kesembuhan cinta nya.


****


Syeilla menatap nanar wajah pucatnya di depan cermin hiasnya.


Wajah ini sudah memberi banyak luka untuk orang-orang yang ia cintai, wajah ini juga sudah membawa masalah untuk orang-orang yang ia cintai dan wajah ini juga sangat dibenci oleh orang-orang yang ia cintai untuk itu ia sangat membenci wajahnya. Bahkan Tuhan pun ikut membenci wajahnya.


"Kau sungguh wanita sialan" ujarnya pada bayangannya di depan cermin. "Gara-gara kau semua orang yang aku cintai harus menderita. Semua gara-gara kau Syeilla. Semuanya!!" ia mengambil vas bunganya dan melemparnya ke arah kaca hingga serpihan kacanya berhamburan di lantai.


Aiden yang kebetulan akan keluar untuk bertemu dengan Jealyn menghentikan langkahnya saat mendengar suara pecahan sesuatu dari kamar Syeilla. Ia dengan cepat melangkah memasuki kamar Syeilla yang ternyata di kunci dari dalam.


"Syeilla, Syeilla" teriak Aiden. Ia mencoba mendobrak pintunya namun tak kunjung terbuka. Aiden berlari dan memanggil Linda untuk mengambil kunci serapnya..


Syeilla yang mendengar teriakan Aiden hanya tersenyum samar dan melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju pecahan kaya yang kini berhamburan di lantai. Tidak ada kesakitan disana saat kaki telanjangnya melewati pecahan kaca tersebut. Tatapan matanya yang kosong mennyaratkan betapa rapuhnya ia.


"Linda cepat bawa kunci serap kamar Syeilla sekarang!!" teriak Aiden kemudian ia berlari ke kamar Syeilla dengan membawa kunci serap tersebut dan membukanya. Matanya bahkan melotot dwngan sempurna saat melihat darah sudah mewarnai lantai disana.


"Hai Aiden" ucap Syeilla sembari tersenyum. Senyum yang menyaratkan seribu luka yang tak mampu diobati oleh siapapun.


"Apa kau sudah gila?" teriak Aiden dengan marah saat melihat kaki telanjang Syeilla melangkah dengan bebas di atas pecahan kaca yang mampu membuat mata siapa pun yang melihatnya ngilu berat.


"Kau benar! Sepertinya aku mulai gila. Kakiku bahkan  tidak merasa kesakitan. Apa ini mimpi?" kekeh Syeilla yang mampu membuat amarah Aiden semakin memuncak.


"Keluar dari sana Syeilla. Keluar!!" teriak Aiden saat Syeilla masih melangkah disaat kakinya sudah terluka dengan parah.


Syeilla menghentikan langkah kakinya dan menatap Aiden dengan datar.

__ADS_1


"Apa pedulimu?"


"Aku sedang tidak mempedulikanmu Syeilla tapi tindakanmu sungguh membuatku jijik. Kau lihat sekelilingmu. Darah mu sudah mengotori lantai kamarnya" teriak Aiden dengan murka namun kembali sepuluh anak panah beracun menancap di jantung Syeilla saat kata-kata menyakitkan kembali terlontar dari mulut suaminya.


"Maaf sayang aku akan sedikit terlambat datangnya. Ia ia aku segera kesana. I love you" Aiden mematikan panggilannya dan menatap tajam mata Syeilla yang kini sedang menatapnya dengan kosong.


"Linda urus dia dan kalian bersihkan kekacauan yang disebabkan wanita itu" ujar Aiden kemudian berlalu dari sana dengan kesal.


"Ah sepertinya aku terlalu berharap" gumamnya dalam kesedihannya.


"Ia bahkan tidak terenyuh saat melihat ku seperti sekarang. Hah memangnya apa yang aku harapkan darinya" Linda mendekati Syeilla yang kini sudah duduk manis di ranjangnya. Kakinya sudah terluka parah dan ada beberapa serpihan yang menancap disana. Asisten yang bernama Sarah membawa kotak P3K ke hadapan Linda untuk membersihkan dan mengobati luka di kaki Syeilla.


"Tahan ya non ini akan sangat menyakitkan" ujar Linda saat akan mencabut dua beling yang menancap disana.


"Sakitnya bahkan tidak seberapa Linda. Cabut saja" ujar Syeilla dengan datar. Sedangkan Linda yang melihatnya saja sudah ngilu dan kesakitan setengah mati.


"Aw" ucap Linda saat satu pecahan kaca berhasil ia cabut sedangkan Syeilla wajahnya masih saja sedatar tembok China.


"Aw" kembali Linda meringis saat pecahan kedua berhasil ia cabut.


"Sshh" kembali Linda meringis ngilu saat membersihkan luka Syeilla yang ia masukkan ke dalam sebuah ember besar yang tadi dibawa oleh Sarah. Setelah darahnya tidak terlihat lagi ia kemudian mengoleskan salep antibiotik ke semua permukaan kaki Syeilla dan membalutnya dengan perban.


Selesai" ujar Linda dan Syeilla hanya menatapnya dengan kosong.


"Terima kasih" ucap Syeilla. "Bisa tinggalkan aku sendiri" pinta nya dan mereka berdua pergi meninggalkan Syeilla dalam kesedihannya.


"Kenapa sangat sulit untuk menggapaimu" bisiknya dengan serak. Air matanya kembali mengalir deras saat mengingat semua cacian dan makian dari Aiden. Suaminya. Ia sungguh plin plan menelaah perasaannya. Ada kalanya ia tidak ingin Aiden membalas cintanya karena tidak ingin membuat Aiden bersedih saat ia pergi nantinya namun ia juga ingin merasakan dicintai untuk yang terakhir kalinya.


"Hati, mengapa kau terlalu banyak meminta jika pada akhirnya hanya luka yang menjawabnya"

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2