
Mohon istigfar sejenak sebelum membacanya.
*****
Hari ini Jeslyn akan menemui Syeilla untuk meminta maaf. Ia sudah tau bahwa selama ini Aiden sudah menikah hanya saja ia mencoba menutup matanya dari semua itu namun lambat laun ketakutan kerap menghantuinya. Ia takut tidak sempat meminta maaf mengingat umurnya yang tidak lagi panjang.
"Bisa kita bertemu di cafe SSN pukul 11:20" sebuah pesan dari nomor yang tak di kenal masuk ke handphone Syeilla. Ia membukanya dan mengernyitkan keningnya dengan bingung.
"Ini dengan siapa?" tanya nya.
"Saya Jeslyn. Ada yang mau saya bicarakan sama kamu" balas Jeslyn dari seberang sana.
Syeilla pun melihat jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul 09:30 artinya sebentar lagi waktunya. Ia pun melangkah menuju kamarnya untuk sekadar bersiap-siap mengingat kehamilannya yang sudah besar membuatnya tidak leluasa beraktivitas.
Sesampainya di cafe yang dimaksud oleh Jeslyn, Syeilla segera mengambil tempat untuk duduk sembari menunggu kedatangan Jeslyn.
"Hai, maaf sudah membuatmu menunggu lama" sapa sebuah suara sembari tersenyum. Syeilla pun balas tersenyum dan menatapnya dengan lekat.
"Ada keperluan apa sampai meminta saya kemari?" tanya Syeilla dengan kaku.
"Tidak perlu kaku begitu, aku mengajakmu bertemu hanya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya karena sudah banyak melakukan dosa" lirih Jeslyn yang sontak membuat Syeilla bingung.
"Kenapa bisa begitu. Aku tidak merasa kamu pernah berbuat salah padaku" seru Syeilla dengan ramah.
Jeslyn pun menggeleng dan sebulir air matanya jatuh mengenai pipinya yang putih. Syeilla yang melihatnya pun sontak memyodorkan sebuah tisu ke arah Jeslyn yang diterima oleh Jeslyn sembari tersenyum.
"Aku sangat bersalah padamu, aku.. Aku sudah bermain dibelakangmu bersama Aiden. Aku berdosa Syeilla. Aku.. mohon maafkan aku" isak Jeslyn dengan bahu bergetar.
Syeilla meraih tangan Jeslyn dan menggenggamnya dengan erat. Lalu matanya tersenyum menatap mata sembab Jeslyn dengan lembut.
"Aku tidak pernah marah padamu karena disini akulah yang merusak hubungan kalian. Aku si pendatang baru yang kebetulan menyandang status sebagai istrinya sedangkan kau walau hanya sebatas pacar untuk suamiku tapi dirimu sangat spesial baginya. Disini akulah yang meminta maaf karena sudah menghancurkan kebahagiaanmu dan Aiden" ia pun ikut meneteskan air mata saat kilasan masa lalu tergambar jelas di benaknya bagaikan kaset rusak. Ia tau bahwa selama menjadi seorang istri untuk Aiden, tidak pernah ada kata cinta yang keluar dari mulut suaminya karena dalam hati Aiden hanya ada nama Jeslyn seorang.
"Tidak Syeilla. Akulah yang bersalah karena walau bagaimana pun aku tetap sebagai wanita perusak hubungan kalian. Untuk itu aku minta maaf dengan sebesar-besarnya" pinta Jeslyn dengan berlinang air mata.
"Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau memintanya Jeslyn. Aku juga sebagai perempuan meminta maaf padamu karena pernah merenggut kebahagiaanmu" seru Syeilla dan mereka pun saling berpelukan sebelum memutiskan untuk berpisah.
"Terima kasih banyak Syeilla, kamu wanita yang baik. Semoga Tuhan selalu menyertai setiap langkahmu" Jeslyn melambaikan tangannya dan berjalan dengan mundur namun naas tubuhnya terpental ke depan dengan keras saat sebuah mobil yang sedang melaju dengan kencang menabraknya.
__ADS_1
"Jeslyn...." teriak Syeilla dan berlalu kesana. Ia menangis saat tubuh lemah Jeslyn kini terbaring dengan darah yang sudah mulai merembes keluar dari kepanya dan mulutnya. Syeilla bersimpuh dengan susah payah dan meraih kepala Jeslyn ke pangkuannya.
"Tidak Jeslyn. Buka mata mu, ambulan akan segera datang" isak Syeilla saat mata Jeslyn mulai tertutup.
Jeslyn tersenyum menatap wajah cantik Syeilla lalu membisikkan kalimat terakhirnya sebelum menghembuskan napas terakhir.
"Kau harus bahagia bersama Aiden" itulah kalimat terakhir yang dibisikkan olehnya.
"Jeslyn....hik.. Hik.. Jeslyn" tangis Syeilla kian pecah saat Jeslyn dinyatakan meninggal di tempat karena mengalami trauma kepala yang parah hingga nyawanya tidak bisa tertolong.
Pyar...
Aiden tanpa sengaja menyenggol bingkai fotonya bersama Jeslyn hingga kaca bingkainya pecah berserakan di lantai. Ia pun memanggil sekretarisnya melalui interkom dan beberapa detik kemudian datanglah sekretarisnya beserta OB.
"Jangan sampai ada yang tersisa" ujar Aiden pada OB tersebut. Ia kembali berjalan ke kursi kebesarannya dan sebuah panggilan masuk menghentikan langkahnya. Ia melihat nama Syeilla yang tertera disana. Ia malas mengangkatnya dan mematikan panggilan tersebut dengan sepihak.
Ia pun duduk dan lagi-lagi panggilan dari orang yang sama kembali memanggilnya. dengan enggan ia menganggkatnya lalu sedetik kemudian ia berteriak dengan nyaring.
"Apa" teriaknya lalu berlari keluar dari ruangannya dan tidak lupa membawa serta kunci mobil yang ia taruh di mejanya. Ia segera memasuki lift yang diperuntukkan khusus untuknya lalu keluar dengan tergesa-gesa menuju parkiran.
Dengan tangan gemetar ia membuka mobilnya dan setelah masuk ia segera menjalankannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dua puluh menit kemudian ia pun sudah sampai di rumah sakit tempat Jeslyn kini berada. Ia melihat Syeilla yang sedang terduduk dengan penampilan yang kacau di depan kamar mayat. Aiden berjalan dengan perlahan hingga kini ia sudah berdiri tepat dihadapan Syeilla.
"APA YANG TERJADI!!!" teriak Aiden dengan marah. Ia mencengkram bahu Syeilla dengan kuat hingga Syeilla kesakitan.
"Kami... Kami tadi bertemu di cafe SSN lalu membicarakan beberapa hal tapi saat kami akan pulang ia berjalan dengan mundur sambil melambai padaku lalu... Lalu sebuah mobil menabraknya" tangis Syeilla kembali pecah saat mengingat kejadian naas itu.
Aiden menatap wajah Syeilla dengan benci yang membara.
"Kau! Selalu membawa petaka untuk orang yang aku sayangi. Kau! Kenapa aku harus bertemu dengan wanita pembawa sial sepertimu hahaha KENAPA?? kau sudah membuatku kehilangan dua orang yang sangat aku cintai dalam hidupku. Kau! Semua karena kau!! Kenapa bukan kau saja yang mati!! KENAPA HARUS JESLYN!" teriak Aiden dengan bengis. Syeilla yang mendapat serangan sedemikian kejinya hanya mampu terdiam dengan kaku. Lalu ingatannya berputar ke masa lalunya. Mungkin Aiden benar bahwa ia pembawa sial buktinya kedua orang tuanya bahkan meninggalkannya sendirian di dunia ini. Bahkan orang yang dulu ia sebut sebagai keluarga pun kini menjauhinya.
"Pergi dari hadapanku. PERGI!" hardik Aiden dengan penuh kebencian.
Syeilla pun pergi dari sana dengan tatapan kosong. Kakinya terus melangkah tanpa arah hingga ia sampai atap rumah sakit. Dengan perlahan ia melangkah ke depan seolah ada yang memanggilnya agar terus melangkah. Ia juga tidak tau bagaimana bisa ia sampai ke tempat ini namun hanya satu yang ia tau bahwa ia si pembawa sial.
Air matanya jatuh membasahi wajah mulusnya saat kata sial kembali tergiang di telinganya. Saat kakinya tinggal dua langkah lagi tidak mencapai ke sisi pembatas terdengar suara orang kaget.
"Hei hei apa yang kau lakukan?" teriaknya dengan hati-hati.
__ADS_1
"Jika kau ada masalah bukan ini solusinya" ujar lelaki tersebut sembari mendekati Syeilla dengan hati-hati.
Syeilla menatap wajah lelaki tersebut dengan pandangan kosongnya.
"Kau lagi" Syeilla kembali menatap ke depan.
"Hei nona kalau kau ada masalah kau boleh menceritakannya padaku. Aku pasti akan membantumu" ujar pria tersebut dengan lembut.
"Apa kau sungguh bisa membantuku?" tanya Syeilla dengan sinis.
"Tentu saja. Aku adalah dokter disini aku pasti bisa membantumu"
"Bawakan aku kebahagiaan. Apa kau mampu?" seru Syeilla dengan datar. Seketika dokter itu pun diam di tempatnya. Bagaimana mungkin ia bisa membawa kebahagiaan karena sejatinya kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa ia genggam di tangannya.
Syeilla memutar badannya hingga kini ia berhadapan dengan mata lelaki tersebut yang menatapnya dengan khawatir. "Aku hanya ingin bahagia tapi sangat sulit untuk kuraih" Syeilla kemudian tersenyum pahit menyadari semua kenyataan pahit dalam hidupnya.
Syeilla. Kemudian melangkah pergi meninggalkan lelaki yang bernama Alka sendirian disana dengan segala pikirannya.
"Kenapa wajahnya seperti tidak asing. Aku seperti pernah melihatnya beberapa tahun yang lalu tapi dimana?" tanya nya dengan bingung. Ia pun segera menyusul Syeilla namun sayang sosoknya sudah hilang dari pandangannya.
Di kediaman Aiden, ia sedang berduka atas kepergian kekasihnya. Berita mengenai Syeilla si pembawa sial pun sudah menyebar ke seluruh pembantu disana hingga mereka selalu menjaga jarak dengannya kecuali Linda yang memang tidak peduli tentang berita tersebut.
"Nona makan dulu. Nona sudah tidak makan sejak tadi siang" bujuk Linda saat hanya tatapan kosong yang ada di mata indah nonanya.
"Apa kau tidak takut padaku?" tanya Syeilla dengan pelan.
Linda pun mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti lalu sedetik kemudian ia pun paham apa maksud nona nya.
"Untuk apa takut. Nona kan bukan orang jahat" seru Linda dengan pelan.
"Tapi aku pembawa sial Linda. Semua orang akan mati jika bersamaku"
"Tidak ada yang namanya pembawa sial nona. Kepergian nona Jeslyn sudah menjadi takdirnya bukan karena nona.
"Andai semuanya sesimpel itu Linda" Syeilla pun memakan makannya sebanyak dua suap lalu memilih merebahkan tubuhnya dan tidur dalam keperihan. Ia tau bahwa hari ini penderitaannya akan kembali di mulai.
Sedangkan Aiden sudah seperti orang gila terkadang ia tertawa saat melihat fotonya bersama Jeslyn dan terkadang ia menangis. Orang yang bersalah atas semuanya adalah Syeilla dan Aiden tidak akan pernah memaafkannya sampai kapanpun.
__ADS_1
"Syeilla kau sudah membuatku kehilangan segalanya hahahhaha aku juga akan membuatmu kehilangan" ia tertawa seperti orang gila. Namun ia tidak pernah tau bahwa setiap perkataan yang ia katakan akan menjadi bumerang untuknya kelak.
❤❤❤❤