
Auxillia menatap kosong taman mini yang ada di rumahnya, taman mini tersebut adalah taman yang khusus dibuatkan oleh neneknya untuk dirinya, mengingat ia sangat menyukai bunga.
"Nak." tegur sebuah suara dari ngan lembut.
Auxillia pun tersadar lalu menatap sosok yang kini tidak lagi terlihat muda namun masih terlihat cantik.
"Oma." ujar Auxillia dengan pelan sambil mempersilahkan neneknya duduk.
Wanita yang biasa disapa Anne pun menatap Auxillia lembut.
"Nak, kamu tau kan kalau Oma, Opa, Mama, Papa, sangat menyayangi kamu melebihi apapun di dunia ini," ia menjeda kalimatnya sejenak.
"Apapun yang membuat kamu tidak nyaman katakan dengan kami, mungkin kamu belum terbiasa akibat kecelakaan dua tahun lalu namun kami ini keluargamu, jadi jangan pernah sungkan nak."
Auxillia melihat wajah tua itu tampak tulus dan meyakinkan, ia tersenyum dengan lebar. Senyuman yang untuk pertama kalinya terlihat lepas.
Anne senang saat melihat senyuman tersebut.
"Terima kasih Oma." bisik Auxillia dengan lembut.
"Sama-sama nak, Oma rindu dengan cucu Oma yang dulu selalu bawel dan cerewet. Oma merindukannya, tapi tidak apa-apa karena kamu yang seperti ini pun sudah membuat Oma bahagia.
__ADS_1
Auxillia bangkit dari kursinya lalu segera merapat ke arah Anne sambil memeluknya dengan sayang.
"Terima kasih Oma, Xia beruntung memiliki keluarga seperti yang sekarang." bisiknya dengan pelan.
Anne mengusap tangan Auxillia yang masih bertengger di leher keriputnya dengan pelan.
"Kami juga bersyukur karena memiliki permata seperti dirimu nak."
Seseorang tersenyum dari balik sebuah pintu besar yang menjadi penghubung menuju taman mini tersebut.
"""""""
Seperti hari-hari biasanya, tidak ada yang spesial bagi Zia dalam melaksanakan tugasnya, ia sering tidak fokus sampai banyak pasien yang mengeluh padanya seperti yang terjadi dengan pagi ini.
Hendra selaku ayahnya menatap Zia dengan heran dan meminta penjelasan namun sebuah kertas keluhan sudah menjawab pertanyaannya.
"Maaf pa, bisakah Zia mengajukan surat cuti untuk menenangkan pikiran." desah Zia dengan wajah lesunya. Hendra yang melihatnya pun tidak tega. Ia tau banyak hal yang sudah menimpa putrinya semenjak mereka kehilangan sosok wanita hebat yang memiliki dua peran yakni seorang istri dan seorang ibu.
Hendra menarik napasnya dengan panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan.
"Baiklah, tapi kamu harus berjanji dengan papa, apapun yang terjadi jangan pernah merasa tersakiti lagi. Paham." Hendra mewanti-wanti putrinya agar tidak kembali terpuruk seperti saat ini.
__ADS_1
Zia menganguk dengan tidak yakin namun demi mendapatkan liburan ia mencoba meyakinkan semuanya.
"Terima kasih pa," ia memeluk tubuh tua Hendra dengan sayang.
"Sama-sama nak." ujar Hendra dengan lembut.
Seumur hidupnya baru kali ini mereka menjadi sebuah keluarga yang sesungguhnya.
Jika dulu keluarga hanya sebagai formalitas semata namun semenjak dua setahun belakangan ini hubungan mereka kembali membaik.
"Tapi ingat, harus bisa menjaga diri ya nak." ujar Hendra yang langsung di angguki oleh Zia. Zia bum tau akan kemana tujuannya namun sebuah negara terlintas di benaknya.
"Kamu akan berlibur kemana nak?" tanya Hendra ingin memastikan.
"Rusia pa. Zia ingin ke Rusia." ucapnya dengan yakin. Ia tidak tau sama sekali mengapa dari sekian banyaknya negara, Rusia yang menarik minatnya.
❤❤❤❤❤
**Cie Zia ikut-ikutan ke Rusia.
Apa kalian sudah siap bertemu kembali dengan Syeilla?
__ADS_1
Kalau sudah tunjukkan melalui komentar dan vote hahahhaa...
Sampai bertemu dengan Syeilla di next capt nya**...