
Setelah dibujuk sedemikian rumitnya akhirnya Aiden mau keluar dari zona nyamannya.
Ia melakukan semua demi Oma nya yang dilarikan ke rumah sakit. Berkat bujukan dari Opa nya akhirnya ia pun mengalah. Ia tidak ingin egonya membawa ia Kembali kehilangan orang yang ia sayangi untuk kesekian kalinya.
Setelah dua hari dirawat Lisa sudah kembalinpulang ke rumahnya namun masih butuh istirahat total mengingat tubuh tuanya sudah lemah di makan usia.
Ia berjalan menuju lorong menuju kamar tempat oma nya berada. Ia menarik napas dengan pelan lalu menghembuskannya. Tatapannya tampak kosong meskipun ia menampilkan wajah tersenyum.
"Oma." ujarnya pada wanita tua yang kini sedang terbaring lemah diranjang king size nya. Ia menatap wajah tua yang kini sedang menatapnya dengan lembut.
"Cucu Oma, akhirnya kamu datang juga." lirihnya dengan pelan.
Aiden mendekat sambil menggenggam lembut tangan Lisa lalu membawanya ke pipinya.
"Maaf karena tidak menjenguk nenek selama ini." ujarnya dengan rasa bersalah. Walau bagaimana pun wanita tua inilah yang sekarang ia miliki bersama lelaki tua yang ia sebut Opa.
"Sssttt, kamu tidak salah nak, semuanya wajar." ujar Lisa lembut dambil mengelus wajah Aiden dengan lembut saat genggaman tangannya sudah dilepas.
Aiden meresapi semua usapan Lisa, ia ingin tidur panjang karena selama dua tahun belakangan ia hanya menghabiskan waktunya memandangi pigura istrinya dan sesekali ia berbicara seolah Syeilla berada di sana.
"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Lisa pelan.
"Aku baik nek." jawabnya tanpa emosi meskipun wajahnya menampakkan senyuman namun Lisa tau segalanya..
__ADS_1
"Lepaskan nak,"
"Apa maksud Oma?"
"Lepaskan semuanya dan mulailah dari awal."
"Maaf Oma, Aiden harus segera pergi." Aiden mencium kening Lisa lama lalu pergi dari sana dengan tatapan lemahnya..
Sampai kapanpun ia tidak akan bisa melupakan wajah yang selalu membuatnya merasa tenang saat ia sekacau apapun.
"Maaf sayang,, namamu masih terukir jelas di hatiku." gumamnya sambil menghalau agar air matanya tidak jatuh.
"Apa sudah mau pergi?" tanya sebuah suara dengan berat.
"Bagaimana kabar Opa?" tanya nya dengan datar.
"Apa kau niat bertanya?" kekeh Wira namun tataoannya kembali serius saat tidak ada mata yang ia kenal lagi di sana.
"Sudah lama kamu vakum dari dunia luar." ujar Wira memulai pembicaraan.
Aiden hanya menganguk singkat mendengar penuturan Wira karena ia tau kemana arah pembicaraannya.
"Kalau Opa hanya menyuruhku untuk bangkit, maaf Aiden belum mampu." ujarnya dengan cepat sebelum Wira membuka mulutnya.
__ADS_1
"Kau ini!" decih Wira kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Buka itu yang akan Oca bicarakan denganmu."
Aiden menatap wajah Wira dengan serius.
"Kamu akan mengurus salah satu perusahaan yang ada di Rusia, kau juga boleh memilih sekretaris yang kau mau." tawar Wira, ia ingin melihat bagaimana reaksi cucu laki-laki satunya tersebut saat mendengar kabar ini.
"Kapan Opa?" tanya nya dengan dengan singkat dan sukses membuat Wira menghembuskan napasnya dengan lelah
"Apa kau menerimanya begitu saja?" tanya Wira ingin meyakinkan penglihatannya.
"Apa menurut Opa tidak sesuai?"
"Tentu saja sesuai. Baiklah kamu akan berangkat besok lusa." beritahu Wira yang langsung diangguki olehnya tanpa bantahan sedikit pun. Benar-benar bukan Aiden yang ia kenal dua tahun belakangan.
"Apa pembicaraannya sudah selesai?" tanya Aiden sambil melihat arlojinya mewahnya dengan merk Expedition yang diketahu sebagai jam yang hanya di produksi sebanyak sepuluh buah saja di dunia.
"Tentu." ujar Wira sambil menatap kepergian Aiden dengan mata sendunya..
Ia sangat tau apa yang sudah cucunya alami selama dua tahun belakangan ini.
"Semoga saatnya tiba senyummu akan kembali seperti beberapa tahun seperti dulu, maka bersabarlah nak." gumam Wira pelan saat tubuh Aiden tidak terlihat lagi.
__ADS_1
❤❤❤❤