LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Spin Off - 01


__ADS_3

Dirga sangat patah hati setelah ia ditolak oleh Alya dan Cally. Kekecewaan membawanya pada kehiduoan yang hancur. Untuk mengobati luka, Dirga memutuskan untuk pergi ke luar negeri menempuh pendidikannya. Di sana ia bertemu dengan Permata. Ia ingat, terakhir mereka berdua bertemu adalah saat keluarga Permata berlibur ke Jakarta.


Meski sudah pergi jauh dari kenangannya bersama Alya, tetap saja ia masih terpuruk. Suatu ketika, ia memutuskan hendak mengakhiri hidupnya sendiri. Permata yang saat itu pulang sehabis mencari sesuatu untuk bahan kuliahnya, ia melewati sebuah jembatan yang dirumorkan sebagai jembatan bunuh diri. Banyak pemuda yang putus asa mengakhiri hidupnya di jembatan tersebut.


"Hei, hei, apa yang kau lakukan?" tanya Permata dengan mendekati Dirga yang saat itu sudah tidak mendengarkan apa pun lagi. Ia sengaja memakai sebuah headshet agar tidak ragu menjatuhkan tubuhnya ke dalam aliran sungai yang terlihat sangat dalam.


Permata yang saat itu sedang kesal, memutuskan menarik kasar tubuh dirga dan menamparnya dengan kasar agar segera sadar.


"Apa yang kau lakukan, hah?" teriaknya dengan napas tak beraturan.


"Apa pedulimu, pergi sana!" teriak Dirga tidak kalah kerasnya.


"Apa peduliku? Kau menanyakan hal tersebut, hah? Aku tidak mempermasalahkan jika kau ingin mati, tapi jangan saat aku melihatmu."


Permata sangat dibuat kesal oleh Dirga. Tidak tahukan pria itu, bahwa seberat apa pun masalah, akan selalu ada solusinya. Untuk apa mengakhiri hidup, saat ada orang lain yang berjuang mati-matian demi hidupnya. Ia sungguh sangat kesal.


"Kenapa juga kau harus lewat jalan ini, menyusahkan!"

__ADS_1


"Beruntunglah kau karena bertemu orang sepertiku, aku tahu kalau kamu belum siap menghadap Tuhan."


"Dasar sok tau, minggir!"


Dirga bangkit dari duduknya dan menjauhi Permata. Namun, Dirga bisa saja tetap nekat melakukan upaya bunuh diri. Ia mengikuti pria itu sampai ke apartemennya. Setelah Dirga dirasa selamat sampai tujuannya. Ia kembali ke apartemennya dengan tersenyum. Dalam bulan ini sudah ada sekitar 10 pemuda yang dia selamatkan. Dia sudah seperti pakar cinta saja.


"Kamu dari mana aja?" tanya salah satu temannya yang menatap khawatir.


"Kalau Ata sedang tersenyum, pasti dia habis menyelamatkan pemuda yang ingin mengakhiri hidupnya." celoteh salah satu temannya.


Permata tersenyum dan mengangguk. "Yang kali ini agak berbeda, jika yang biasanya kuselamatkan, mereka tampak samgat bawel dan ngamuk nggak jelas. Kalau yang ini terlihat tidak bemar-benar serius ingin mengakhiri hidupnya."


"Kalau begitu, dia akan menjadi jodohmu." ledek salah satu temannya dengan cengiran khas.


"Kalau benar begitu, bukankah bagus." celetuk temannya yang rambut kehitaman.


"Sudah, kalian ini suka ngawur kalau ngomong, aku ke kamar dulu." pamit Permata pada ketiga temannya. di sana tersedia tiga kamar dan mereka menempatinya secara bersamaan.

__ADS_1


"Aku yakin, pria itu akan menjadi jodohnya."


Mereka tertawa dan kembali melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.


Di dalam kamar, Ata teringat perkataan para sahabatnya yang mengatakan bahwa pria yang ia selamatkan akan menjadi jodohnya. Entahlah, ia jadi mengingat perkataan temannya. Sebuah panggilan masuk menggangu atensinya.


"Halo, Ma. Tumben nelponnya malem banget."


"Ini loh, Papamu nggak bisa tidur katanya karena kepikiran kamu terus. Kapan kamu mau pulang sayang?" tanya Auxillia terdengar khawatir.


"Mama, kita sudah membicarakan hal ino bukan? Aku akan kembali kalau sudah menyembuhkan lukaku. Untuk saat ini aku belum tertarik untuk kembali ke rumah."


"Ya idah nggak Papa, tapi apa pun itu, Mama berharap kamu segera kembali ke rumah. Mama sayang kamu sayang," ucap Auxi dan mengakhiri panggilannya.


"Maafkan Ata Ma, ata pasti akan pulang, tapi belum saatnya."


---------------

__ADS_1


__ADS_2