
Alya menatap figura saudarinya yang sudah lama tidak ia lihat. Terakhir ia melihatnya saat sekolah dasar.
"Apa kabar lo di sana? Gue kangen tau nggak. Kenapa dulu gue nggak ikut sekalian sama lo."
Syeilla datang dari belakang sambil membawa gelas beserta sebuah obat. Langkahnya terhenti sejenak lalu kembali mendekati Alya.
"Sayang," ucapnya sambil tersenyum lembut.
Alya mengalihkan tatapannya pada Syeilla. "Iya, Ma. Alya kangen sama Celly."
Syeilla mengelus kepala putrinya dengan sayang. Dirinya juga sangat merindukan Cally. Namun, demi kebaikan putrinya ia harus merelakan berpisah jauh seperti ini.
"Kita doakan saja semoga Cally bisa cepat kembali dan berkumpul bersama kita." Alya mengangguk pelan. Setitik air mata lolos dari pipinya.
"Sayang, kamu jangan sedih lagi ya, nanti kamu tambah sakit. Ini minum obatnya dulu."
Syeilla menyodorkan pil dan gelas ke arah putrinya.
"Makasih, Ma."
Syeilla tersenyum lembut. Ingatannya kembali pada saat kedua putrinya masih kecil. Cally didiagnosis penyakit jantung bawaan. Hal tersebut mengakibatkan ia harus sering bolak balik ke rumah sakit senjak bayi. Paling parah saat usianya sepuluh tahun. Putrinya hampir meninggal dunia kalau saja tidak di tangani dengan baik.
__ADS_1
"Ma, sudah selesai." beritahu Alya. Syeilla tersadar dari lamunannya dan tersenyum.
"Kamu langsung tidur ya nak, jangan tidur telat."
Alya menganguk. "Baik, Ma."
Setelah kepergian Syeilla. Alya memuntahkan obatnya. Ia menangis menatap wajah ibunya yang sudah ia bohongi. Selama ini ia tidak pernah meminum obatnya. Terhitung semenjak satu bulan yang lalu.
"Maaf, Ma. Tapi Alya tidak mau lagi bergantung pada obat. Alya ingin merasakan dunia bebas tanpa perlu khawatir." bisiknya.
Ia merebahkan tubuhnya ke ranjang dan segera. Ada sebuah rahasia besar yang tidak diketahui oleh siapa pun termasuk kedua orang tuanya.
๐ ๐ ๐
Di sekolah, Alya hanya berdiam diri di kelas. Wajahnya terlihat sangat murung bahkan Aluka tidak tahu apa penyebabnya.
"Ada apa?" tanya Aluka penasaran. Ia tidak menyukai sifat Alya yang sangat tertutup.
"Tidak ada apa-apa Kak, aku hanya lelah sedikit."
Aluka melihat Alya saksama. Ia merasa ada yang sedang Alya sembunyikan dari dirinya.
__ADS_1
Dirga masuk ke kelas bersamaan dengan Bella. Kemesraan keduanya semakin menjadi seiring berjalannya waktu. Alya yang melihatnya semakin merasa remuk. Tidak bisa ia pungkiri bahwa hatinya masih terpaut dengan Dirga.
Alya menenggelamkan kepala ke lingkaran kedua tangannya. Aluka berpikir mungkin Alya hanya sekadar menenggelamkan kepalanya. Sampai guru masuk ke kelas dan melihat Alya tertidur.
"Alya!" teriak Sita, nama guru yang akan mengajar Matematika.
Alya mengangkat kepalanya dengan pelan. Bella terlihat sedang mengejek.
"Iya, Bu." jawabnya lemah.
"Kalau cuma untuk tidur lebih baik kamu keluar dari kelas saya!"
"Maaf, Bu."
"Keluar!"
Alya bangun dari kursinya, ia berjalan pelan keluar kelas. Pandangan Alya mulai berkunang-kunang.
Bruk
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
__ADS_1