LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Season 4 (Bab 15)


__ADS_3

HARI, minggu, dan bulan kini silih berganti. Tak terasa usia pernikahan Elena dan Altaf sudah memasuki bulan ke empat dan mereka juga sudah pisah rumah dengan keluarganya. Sifat Altaf yang dulu sempat berubah telah kembali pada semula. Ia bersikap manis dan lembut pada Elena. Elena yang dulu sempat meragukan Altaf pun kini mulai terbuai dengan sandiwara yang dimainkan oleh suaminya. Jujur ia katakan bahwa sekarang rasanya untuk berpisah bukan dalam artian cerai, ia sangat takut kehilangan suaminya padahal Altaf hanya pergi karena urusan pekerjaan.


"Selamat pagi Mas." Elena mengecup kening suaminya dengan lembut.


"Pagi juga El." balas Altaf sedikit malas.


"Hari ini mas masuk jam berapa biar aku siapkan pakainnya?" tanya Elena pelan sambil membuka lemari pakaian mereka. "Tidak usah, biar aku sendiri saja." Altaf membalas dingin.


Elena yang dengan hormon kehamilannya sangat mudah tersinggung dan tertekan. Ia pun segera keluar tanpa melihat suaminya. Ia bertanya selama tiga bulan lebih ini suaminya sangat perhatian lantas mengapa sekarang malah berubah dingin. Ia pun menangis dibalik pintu kamar mandi yang ada di dapurnya. Ia meluapkan segala yang mendongkol di hatinya.


"Kenapa kamu mas, kemaren kita baik-baik saja. Apa aku ada berbuat kesalahan." ucapnya parau.


Sedangkan di kamar Altaf sudah muak berpura-pura baik pada Elena. Ia akan mendeklarasikan ketidaksukaannya secara terang-terangan kepada Elena.


"Aku sungguh muak dengan wanita itu. Ternyata bersandiwara itu sulit juga." Altaf berlalu ke kamar mandi untuk segera bersiap menuju kantornya.


Elena sudah selesai memasak pagi ini dan kebetulan tanpa ia harus menaiki tangg, suaminya sudah terlihat menuruni anak tangga. Ia menghampiri suaminya dan mengajaknya untuk makan.


"Mas aku sudah selesai masak. Ayo makan dulu." tutur Elena dengan lembut namun diluar dugaan respon Altaf sangat melukai hatinya.


"Aku makan di kantor saja dan untuk nanti malam kau tidak usah memasak. Aku akan makan malam dengan klien ku." Altaf berucap dengan datar dan dingin. Ia bahkan tidak ingin repot-repot memandang wajah sedih Elena.


"Tapi aku sudah memasak untukmu mas." ucap Elena dengan bibir gemetar menahan sesuatu yang sebentar lagi akan keluar dari sudut matanya.


"Kan sudah kubilang, aku makan di kantor saja. Apa kau tuli hah!!" teriaknya kencang hingga tubuh Elena menggigil ketakutan.


Tanpa menghiraukan Elena Altaf segera menuju mobilnya dan berangkat.


"Apa yang kamu maksud dengan semua ini mas, apa ini sifat kamu yang sesungguhnya. Aku sangat mencintaimu." tangis Elena pun pecah.


Ia sudah merancang masa depannya sedemikian rapinya dengan suami dan calon anak mereka yang usianya baru menginjak dua bulan. Namun ia terlalu bahagia hingga melupakan kesedihan yang kapan saja mengintainya. Walau bagaimanapun ia akan terus bertahan disisi suaminya karena untuk berpisah ia tidak akan mampu. Di kantornya Altaf sedang tertawa ria bersama sahabatnya. Ia tertawa melihat bagaimana ekspresi Elena tadi pagi.


"Jadi maksudmu Elena menangis." ucap sahabatnya tertawa geli.


"Dia bahkan sampai gemetar bro. Ah aku senang sekali pagi ini. Kau tau aku sangat muak padanya dan kabar bahagianya dia sangat mencintaiku Ren." senyuman licik pun terpatri nyaman di bibir seksinya.


"Haha selamat kalau begitu Al." ucap Rendi sambil memberi selamat pada Altaf.


"Kau tau itu baru permulaan Ren, ia akan merasakan yang lebih sakit lagi dari pagi ini." ucapnya sambil menerawang jauh.


"Ok ok rileks dude. Untuk sekarang kuta lupakan dulu istrimu karena sebentar lagi kita akan meeting dengan klien yang dari Singapura."


Altaf pun menganguk mengerti dan kembali fokus. Di tempat lain Merisa sedang uring-uringan karena sudah lama tidak bertemu dengan menantunya.


"Sayang aku kangen sama Elena, nanti kamu suruh tu Altaf makan malam di rumah" ucap Merisa pada suaminya.


"Malam ini Altaf tidak bisa sayang. Ia sibuk untuk beberapa hari ke depan." ucap suaminya memberi penjelasan.


Merisa pun merajuk pada suaminya. Charli yang melihat itupun tak tega. Ia tahu bahwa istrinya sangat menyayangi Elena karena sejujurnya ia juga sangat menyukai menantunya itu.


"Begini saja, kita yang akan mendatangi rumah mereka minggu depan. Bagaimana?" tanya suaminya dan mendapat anggukan antusias ala istri tercintanya.


Di rumah lainnya Elena sedang menahan kesakitan pada kepala nya. Sudah beberapa hari ini ia mengalami sakit kepala yang luar biasa sakitnya.

__ADS_1


Ia mengambil handphone nya dan segera memanggil nomor Anna.


"Iya ada apa El?" tanya sebuah suara di seberang sana.


"Ann akhir-akhir tubuhku sering bereaksi tapi hanya sebatas susah menggerakkan anggota badan ku saja. Tapi kepala ku juga sangat sakit akhir-akhir ini Ann." jelas Elena pada Anna.


"Kalau begitu aku akan menjemputmu kesana ya El. Kita periksa saja hari ini." putus Anna setelah mendengar keluhan Elena.


"Baiklah Ann, terima kasih." ucapnya pelan


"Sayang semoga kamu akan baik-baik saja ya. Mama akan berjuang agar kamu tidak terluka dengan penyakut mama." setetes air mata Elena jatuh membasahi pipinya. Tangannya berhenti mengelus perut ratanya karena ia mendengar bel rumahnya berbunyi.


"Apa sudah siap?" tanya Anna.


"Sudah, ayo."


Mereka pun menuju rumah sakit tempat Anna bekerja. Kalian pasti bertanya kenapa Anna bisa keluar masuk rumah sakit sesuka hatinya. Sebenarnya rumah sakit itu milik papanya. Mereka pun sudah sampai di rumah sakit dan segera melakukan serangkaian pemeriksaan lebih lanjut mengenai perkembangan penyakit Elena. Dokter yang memeriksa Elena pun terkejut saat mengetahui kondisi Elena saat ini. "Maaf buk Elena apa anda sedang mengandung?" tanya dokter tersebut pelan.


"Ia dokter." ucap Elena pelan. Anna yang mendengar itupun kaget bukan main.


"Bagaimana bisa El, kamu tau kan resikonya kamu mengandung sangat besar. Kamu bisa kehilangan bayi dan nyawa kamu. Kamu harus menggugurkannya." ucap Anna khawatir.


"Ann semuanya sudah ditentukan oleh yang kuasa. Kita hanya mampu menerimanya dengan ikhlas maka semuanya akan berjalan dengan lancar." ucap Elena menenangkan Anna.


"Anakku tidak bersalah. Terlalu kejam untuk membunuhnya bahkan ia belum melihat dunia ini." Elena merasa terlalu kejam bila untuk menyelamatkan nyawanya ia harus kehilangan bayi nya.


Anna tidak tahu harus berkata apa lagi kalau Elena sudah memutuskan.


"Mengapa orang sebaik kamu harus mengalami ini semua." batin Anna monolog.


Siang pun sudah berganti malam. Elena masih setia menunggu suaminya pulang yang sampai pukul 23:00 pun belum ada tanda-tanda kepulangan suaminya.


Elena terbangun pukul 23:30 Terdengar suara mobil suaminya memasuki garasi. Elena segera membuka pintu dan tersenyum hangat menyambut suaminya. Altaf yang disambut pun merasa geram dan muak melihat Elena di depannya.


"Aku sudah bilang tidak usah menunggu ku pulang. Apa kau sekarang menjadi tuli hah!!" hardik Altaf dengan marah.


"Malam ini dan seterusnya kau tidur di kamar tamu." ucapnya dingin dan berlalu namun langkah terhenti sejenak.


"Mas. Apa aku ada berbuat salah sama kamu? Kenapa kamu berubah sama aku. Kita tidak ada masalah selama ini. Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tangis Elena pun pecah.


Altaf berdecak sinis.


"Tch dengar baik-baik Elena Aurora Calysta wanita yang aku cintai hanya Syeilla Aretha Zayna bukan dirimu." ucapnya dingin dan kembali melanjutkan langkahnya dan kembali terhenti.


"Jadi selama ini kamu tidak pernah mencintaiku? lalu apa semuanya yang sudah kita lalui bersama selama ini semuanya hanya sandiwara?" tanya Elena parau.


"Apa kau pikir aku sudah gila. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintai wanita sepertimu." ucap Altaf lebih tajam dari mata pedang.


Mendengar Itu kaki Elena terasa lemas. Air matanya mengalir deras bak anak sungai. Ia belum percaya ini semua. Bagaimana bisa ini terjadi padanya. Apa takdir begitu kejamnya sampai mempermainkan dia seperti ini. Tanpa ia sadari hidungnya mengeluarkan darah dengan lancarnya hingga ia pun tersadar saat darah mengenai tangannya. Ia segera menuju toilet untuk membersihkan hidungnya.


"Padahal keberadaan kamu akan mommy beritahu pada daddy sayang. Tapi sepertinya kamu harus menunggu lebih lama lagi untuk diketahui oleh daddy atau tidak sama sekali." Elena mengelus perutnya setelah selesai membersihkan darah di hidungnya.


Ia kembali ke ruang tamu dan berencana untuk menggambil keperluannya tapi langkahnya terhenti oleh pembicaraan suaminya dengan seseorang di seberang sana.

__ADS_1


"Aku akan membuatnya sangat menderita Ren. Aku akan membalaskan dendam untuk kematian kekasihku. Kau pikir aku menikahinya tanpa sebab huh. Yang benar saja dude. Bahkan kematian pun tidak pantas untuknya.”


Elena yang mendengar itu dibalik pintu tak kuasa menahan tangisannya. Apa lagi ini pikirnya. Apa ini alasan Altaf menikahinya untuk sebuah dendam yang bahkan ia sendiri adalah korban. Ia mengurungkan niatnya dan kembali ke bawah lalu memasuki kamar tamu. Ia meluapkan kesedihannya dengan menangis pilu.


"Aku merasa selama empat bulan ini sudah benar-benar percaya bahwa aku juga bisa meraih sebuah kebahagiaan semenjak pristiwa itu. Rupanya aku hanya terlalu terbuai menikmati mimpi semu ini karena pada kenyataannya ia masih menyalahkan aku atas kematian kak Syeilla." gumamnya dengan pilu.


Seminggu kemudian...


Elena mendapat kabar bahwa hasil pemeriksaannya sudah keluar dan Anna akan datang ke rumahnya. Elena hanya berharap bahwa itu bukan masalah yang serius. Ia sudah sangat tertekan dengan masalah rumah tangga ditambah penyakitnya yang sudah sering bereaksi. Pintu suara bel pun berbunyi dan Elena segera membuka pintu untuk menyambut Anna. Terlihat penampilan Anna yang berantakan dengan mata merahnya dan langaung memeluk Elena dengan erat.


"El andai bisa digantikan, aku rela menggantikan posisimu." ucapan Anna terdengar ambigu di telinga Elena hingga ia bertanya-tanya dengan bingung.


Elena segera mempersilahkan Anna untuk duduk dan membawakan segelas air putih untuk menenangkan Anna. Setelah sedikit tenang Elena pun bertanya pada Anna.


"Sekarang coba ceritakan apa yang membuatmu berantakan sampai menangis begini ditambah kamu mengucapkan kalimat yang ambigu." selidik Elena dengan mata memicing.


Anna segera menyerahkan hasil pemeriksaan Elena. Dengan pelan Elena membuka amplop itu dan membacanya kata demi kata hingga matanya membeku pada sebuah tulisan yang mampu menghentikan fungsi syaraf pada tubuhnya.


Kertas itupun terlepas bebas begitu saja. Air matanya sudah mengalir dengan derasnya.


"Apa ini maksudmu barusan." tanya Elena dengan suaranya yang bergetar hebat.


Anna yang tak mampu membendung tangisnya pun segera memeluk Elena dengan eratnya.


"Mengapa El orang sebaik kamu harus mengalami ini semua. Kenapa Tuhan sangat kejam padamu. Kenapa aku yang biasa ini bisa sehat. Harusnya aku yang berada diposisi sepertimu. Tuhan sangat kejam padamu El." isaknya dengan pilu.


Elena sempat berpikir betapa kejam Tuhan padanya namun mendengar langsung dari mulut Anna. Ia merasa mungkin inilah takdirnya ia tak ingin menyalahkan yang maha kuasa. Ia juga tidak akan sembuh. Ini sudah menjadi takdirnya. Ia menenangkan Anna yang masih terisak pilu. Harusnya Elena yang ditenangkan bukan sebaliknya.


"Ann, semua dari kita pasti akan merasakan yang namanya kematian meski pun jalan kita kesana berbeda. Mungkin ini sudah menjadi takdirku, dan beginilah jalanku kembali pada Nya" ucapnya menenangkan Anna.


Sejujurnya ia juga butuh penyemangat namun kondisi Anna sangat menyedihkan saat mengetahui penyakit Elena.


"Ann seberapa parah penyakit itu." tanya Elena setelah melihat Anna sudah kembali tenang.


"Sudah memasuki stadium dua dan kabar buruknya lagi penyakitnya sulit bahkan mustahil untuk disembuhkan El, dan penyakit kamu termasuk penyakit yang bersifat agresif ditambah dengan kondisimu yang sekarang akan memperparah keadaanmu El. " isak Anna parau.


Elena mendengar dengan teliti penjelasan dari Anna. Ia hanya bisa terdiam seribu bahasa.


"Mungkin beginilah takdir yang harus ia jalani." pikir Elena pasrah.


"Dengan kondisimu yang sekarang resiko nya semakin besar El, kau tidak bisa mempertahankan bayi mu El." Anna mencoba membujuk Elena agar mengurungkan niatnya.


"Ann kita sudah pernah membicarakan ini." Elena mengakhiri pembicaraan mereka karena walau bagaimana pun bayi nya tidak bersalah. Takdir saja yang tidaj bersahabat dengannya.


Anna hanya mampu menghela napasnya dengan berat.


"Mama akan berjuang melalui semua cobaan ini sayang. Mama janji akan mempertahankan kamu meski pun nyawa mama yang jadi taruhannya." Elena berbicara pada bayinya.


"Tuhan jika kebahagiaan sangat sulit untuk ku jangkau di dunia ini maka berikanlah kebahagiaan itu ketika aku sudah kembali padaMu." pinta nya dengan tulus.



 

__ADS_1


__ADS_2