LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 54


__ADS_3

Satu minggu kemudian


Keadaan Syeilla tidak mengalami perubahan sama sekali, dan hari ini Aiden akan membawa Syeilla ke Rusia tempat dokter yang dikatakan oleh kakeknya. Tim medis sudah banyak yang bersiaga disana untuk membantu prosesnya. Baru saja akan dipindahkan suara mesin pendeteksi detak jantungnya berbunyi nyaring.


Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit


Semua dokter bergegas memeriksa dan memberikan pertolongan sebisa mungkin namun Tuhan berkehendak lain saat garis lurus tersebut tidak menunjukkan perubahan...


"Pukul 09:08, waktu meninggalnya pasien." ujar seorang dokter dengan lesu. Aiden pun terkesiap seolah nyawanya ditarik paksa lalu.


"Sayang.. Sayang" ujar Aiden terjatuh lemas ke lantai.


Beberapa dokter tampak merasa prihatin atas apa yang menimpa Aiden, mereka tau betul bagaimana rasanya kehilangan karena untuk mereka sendiri ada duka mendalam saat tidak berhasil menolong pasiennya.


"Tolong jangan seperti ini sayang, jangan tinggalkan aku" teriak Aiden dengan pilu. Ia bangun dan memeluk erat tubuh Syeilla yang sudah dingin. Wajahnya sepucat kapas, bibir yang tidak akan pernah lagi tersenyum dan melempar candaan padanya, mata yang selalu membuat hatinya berbunga, wajah yang selalu membuat jantungnya berdebar, kini sudah tertutup rapat.


"Sayang.. Hik hik... Sayang........!" teriak Aiden dengan kencang. Ia semakin menatap pilu sosok yang selama ini mampu membuatnya bahagia, sosok yang selalu sabar padanya, sosok yang selama ini selalu memberi ruang maaf untuknya.


"Jangan tinggalkan aku, bagaimana bisa aku hidup tanpamu. Aku bisa mati Syeilla." tangisnya kian menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.


Elka baru saja sampai ke ruangan Syeilla namun ia disambut dengan kabar duka, air matanya jatuh berderai. Seumur hidupnya ia tidak pernah menjatuhkan air matanya sekalipun tapi kini ia menangis untuk Syeilla. Wanita yang sangat baik di matanya kini telah menutup mata indahnya untuk selamanya. Niat hati ingin mengantar kepergian Syeilla namun ia harus benar-benar menyaksikan kepergiannya untuk selamanya.


""""


Di Belanda


Tring.... Tring.....


Zia segera mengangkat panggilan video via wattsapp, sambil berjalan tergesa-gesa karena ia akan menghadiri rapat penting mengingat ia akan mengambil alih perusahaan yang ditinggalkan oleh ayahnya sebagai satu-satunya pewaris keluarganya.


"Halo, ada apa Elka aku ada urusan penting dengan klien." ujar Zia sambil menekan lift apartemennya.


Elka menghela napasnya dengan pelan, sebisa mungkin ia menampilkan wajah cerianya seperti biasa namun nyatanya ia tidak mampu saat nama Syeilla kembali terbayang di benaknya.


"Bisakah kau kembali ke Indonesia sekarang" ujar Elka dengan bibir bergetar.


"Apa kau gila! Aku harus segera rapat Elka. Jangan main-main." marah Zia saat mendengar permintaan tidak masuk akalnya.


"Apa yang akan kau lakukan jika orang yang selama ini kau anggap penting sedang sekarat sedangkan di lain kesempatan kau juga harus menghadiri rapat yang menentukan karir masa depanmu?" tanya Elka dengan serius.


"Bagaimana aku bisa memilihnya." gerutu Zia saat sudah di basemant.


"Jawab saja."

__ADS_1


"Keduanya sangat penting tapi orang yang aku sayangi lebih penting."


"Bisakah kamu kembali ke Indonesia?" kembali Elka melontarkan pertanyaan.


"Sebenarnya apa maumu?" teriak Zia dengan kesal.


"Besok seseorang yang sangat penting dalam hidup kita bertiga akan di makamkan."


"Tolong Elka jangan berbelit-belit. Katakan terus terang." pinta Zia kesal karena Elka yang terlalu berbelit. Mana bisa ia berpikir jernih di saat ia harus menghadiri rapat yang sebentar lagi akan ia menentukan kelanjutan dari perusahaannya.


"Syeilla..." satu nama yang berhasil lolos dari mulut Elka.


"Ada apa dngan Syeilla?"


"Dia besok akan di makamkan kalau kau ingin melihatnya untuk yang terakhir kalinya, kembali lah ke Indonesia." Elka langsung mematikan panggilannya karena saat ini ia sedang menangis.


Plakkkkkk....


Ponsel yang tadi ia pegang jatuh berdenting dan mendarat dengan keras.


Tubuhnya jatuh merosot sampai menyentuh tanah.


Ia menangis dengan keras sambil memukul dadanya keras. Kenapa ia seolah melupakan kesehatan Syeilla sampai ia pergi dengan sangat lama.


"Hei nona ada apa?" tanya pria tersebut cemas. Zia tidak menjawabnya ia hanya menangis dengan lirih..


"Maafkan aku Syei,, maafkan aku." isaknya. Kembali, ia gagal melindungi orang-orang yang ia cintai. Ia gagal.


"Aku gagal, aku kembali gagal hik... hik... hik..."


Pria tersebut tampak kebingungan pasalnya ia hanya mendengar kata gagal yang diucapkan Zia dengan berulang.


"Nona jika kau gagal kau masih punya banyak kesempatan jadi jangan seperti ini." ujar pria tersebut lembut.


"Apa krmatian memiliki kesempatan?" tanya Zia dengan sinis disela tangisnya.


"Apa maksudmu nona."


Ia meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Pesankan saya tiket ke Indonesia. Sekarang!!" teriaknya dengan tangan gemetar.


"Hei nona..."

__ADS_1


"Bisakah kau diam. Jangan mencampuri urusanku." teriak Zia emosi.


"Apa aku terlihat sedang mencampuri urusanmu! Aku hanya mengatakan agar jangan teriak-teriak disini. Kau sudah menganggu orang." marah pria tersebut.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku hanya seorang wanita yang hanya mampu berteriak untuk menghilangkan sesak disini." tunjuk Zia tepat di dadanya.


"Aoa yang harus aku perbuat saat orang yang sudah ku anggap sebagai saudara, sahabat dan segalanya, akan di makamkan besok sedangkan aku terjebak disini." tubuhnya kembali luruh namun segera ditahan oleh pria tersebut.


"Aku akan mengantarmu ke Indonesia menggunakan jet pribadiku." ujar pria tersebut. Entahlah. Mereka baru saja bertemu namun hatinya tergerak ingin menolong wanita yang tampak rapuh di matanya.


Zia tidak menjawab karena bibirnya tidak lagi mampu berkata-kata.


""""


Elena, Altaf dan keluarganya sudah datang ke rumah Aiden saat mendengar kabar Sheilla...


Aiden menatap sengit kedatangan mereka.


"Untuk apa kemari? Pergi kalian. Pergi!" teriak Aiden murka.


"Jangan membentak keluarga istriku." desis Altaf bengis.


"Aaaahhh jadi kau lelaki yang dulu dicintai oleh istriku. Kua tau? Aku tidak ingin melihat kalian satu pun ada disini. Pergi!" teriak Aiden sampai urat-uratnya keluar.


"Jika tidak, aku akan menghancurkan kalian dengan sekali tepuk." desisnya dengan aura mengerikan.


Tidak ingin berdebat panjang, mereka pergi dari sana dan hanya mampu melihat Syeilla dari kejauhan.


"Maaf sayang, hatiku tidak se pemaaf dirimu. Setiap aku melihat mereka, perlakuan buruk selalu menghantuiku. Maaf karena aku egois." lirihnya.


Ia memutuskan pergi menjauh dari semua hal yang membuatnya akan mengakhiri hidup.


❤❤❤❤


Ampuni Hayati guyss... Aku nggak sanggup ngetik lebih panjang lagi huaaaaaaaa....


Karena aku ada janji malam ini.. Jadi segini aja dulu yahhhhhh....


Besok kita sambung lagi..


Btw selamat hari minggu semoga air mata kalian selamat yessss...


Kisss byeee 💕💕

__ADS_1


Guyssss plis bantu autor dengan memberi rating cerita Lelah 😳😳 saat ini Lelah masih stay di rating 4,7... Sayangilah autor 😭😭


__ADS_2