LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
SEASON 4 (Bab 21)


__ADS_3

HARI, minggu, dan bulan kini silih berganti. Tak terasa usia pernikahan Elena dan Altaf sudah memasuki bulan ke empat dan mereka juga sudah pisah rumah dengan keluarganya. Sifat Altaf yang dulu sempat berubah telah kembali pada semula. Ia bersikap manis dan lembut pada Elena. Elena yang dulu sempat meragukan Altaf pun kini mulai terbuai dengan sandiwara yang dimainkan oleh suaminya. Jujur ia katakan bahwa sekarang rasanya untuk berpisah bukan dalam artian cerai, ia sangat takut kehilangan suaminya padahal Altaf hanya pergi karena urusan pekerjaan.


"Selamat pagi Mas." Elena mengecup kening suaminya dengan lembut.


"Pagi juga El." balas Altaf sedikit malas.


"Hari ini mas masuk jam berapa biar aku siapkan pakainnya?" tanya Elena pelan sambil membuka lemari pakaian mereka. "Tidak usah, biar aku sendiri saja." Altaf membalas dingin.


Elena yang dengan hormon kehamilannya sangat mudah tersinggung dan tertekan. Ia pun segera keluar tanpa melihat suaminya. Ia bertanya selama tiga bulan lebih ini suaminya sangat perhatian lantas mengapa sekarang malah berubah dingin. Ia pun menangis dibalik pintu kamar mandi yang ada di dapurnya. Ia meluapkan segala yang mendongkol di hatinya.


"Kenapa kamu mas, kemaren kita baik-baik saja. Apa aku ada berbuat kesalahan." ucapnya parau.

__ADS_1


Sedangkan di kamar Altaf sudah muak berpura-pura baik pada Elena. Ia akan mendeklarasikan ketidaksukaannya secara terang-terangan kepada Elena.


"Aku sungguh muak dengan wanita itu. Ternyata bersandiwara itu sulit juga." Altaf berlalu ke kamar mandi untuk segera bersiap menuju kantornya.


Elena sudah selesai memasak pagi ini dan kebetulan tanpa ia harus menaiki tangg, suaminya sudah terlihat menuruni anak tangga. Ia menghampiri suaminya dan mengajaknya untuk makan.


"Mas aku sudah selesai masak. Ayo makan dulu." tutur Elena dengan lembut namun diluar dugaan respon Altaf sangat melukai hatinya.


"Aku makan di kantor saja dan untuk nanti malam kau tidak usah memasak. Aku akan makan malam dengan klien ku." Altaf berucap dengan datar dan dingin. Ia bahkan tidak ingin repot-repot memandang wajah sedih Elena.


"Kan sudah kubilang, aku makan di kantor saja. Apa kau tuli hah!!" teriaknya kencang hingga tubuh Elena menggigil ketakutan.

__ADS_1


Tanpa menghiraukan Elena Altaf segera menuju mobilnya dan berangkat.


"Apa yang kamu maksud dengan semua ini mas, apa ini sifat kamu yang sesungguhnya. Aku sangat mencintaimu." tangis Elena pun pecah.


Ia sudah merancang masa depannya sedemikian rapinya dengan suami dan calon anak mereka yang usianya baru menginjak dua bulan. Namun ia terlalu bahagia hingga melupakan kesedihan yang kapan saja mengintainya. Walau bagaimanapun ia akan terus bertahan disisi suaminya karena untuk berpisah ia tidak akan mampu. Di kantornya Altaf sedang tertawa ria bersama sahabatnya. Ia tertawa melihat bagaimana ekspresi Elena tadi pagi.


"Jadi maksudmu Elena menangis." ucap sahabatnya tertawa geli.


"Dia bahkan sampai gemetar bro. Ah aku senang sekali pagi ini. Kau tau aku sangat muak padanya dan kabar bahagianya dia sangat mencintaiku Ren." senyuman licik pun terpatri nyaman di bibir seksinya.


"Haha selamat kalau begitu Al." ucap Rendi sambil memberi selamat pada Altaf.

__ADS_1


 


Hai hai


__ADS_2