LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 9 (S2)


__ADS_3

Dua minggu kemudian....


Syeilla sudah bisa menggerakkan kakinya yang sempat terasa kaku akibat sudah lama tidak beraktivitas akibat ia koma,


Ia sekarang sudah bisa berjalan dengan baik meskipun terkadang sesekali masih tersandung.


Ariel tersenyum senang melihatnya, tekad dan semangat Syeilla tak pernah pudar, masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Jika kalian berpikir ada maksud di balik kebaikan Aiden, ya kalian benar. Ariel mencintai Syeilla sebagaimana ia mencintai adik perempuannya.


Di usia yang memasuki 20 an adik perempuannya meninggal dunia karena kecelakaan beruntun saat ia pulang kuliah. Dan berita tersebut sekaligus menjadi peristiwa paling menyakitkan baginya. Untuk itu, ia sungguh tidak mau lagi kehilangan sosok yang sudah ia anggap seperti adiknua sendiri.


"Bagaimana rasanya?" tanya Ariel lembut.


"Sudah lebih baik dari terakhir kali kak." ujar Syeilla, ya sesuai permintaan Ariel tempo lalu, ia menyuruh Syeilla memanggilnya kakak dan Syeilla pun menyetujuinya. Toh Ariel sangat berjasa dalam hidupnya yang mungkin sampai ia mati sekali pun tidak akan bisa membalasnya.


"Terima kasih banyak atas semuanya kak." unar Syeilla dengan tulus.


"Tidak ada kata terima kasih di antara kita. Apa sudah siap bertemu dengan Aiden?" goda Ariel yang langsung di angguki antusias olehnya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo. Kakak akan mengantarmu ke apartemen baru mu" Ariel menggiring Syeilla untuk mengikuti langkahnya kekuar dari rumah sakit karena hari ini merupakan hari ia di perbolehkan pulang oleh Mark.


"""""""


Aiden berjalan menuju apartemennya dengan tampilan kacau, matanya sudah memerah akibat terlalu banyak menangis. Rambutnya yang biasa tampak rapi kini sudah kusut tak berbentuk, begitu juga dengan pakaian yang ia kenakan.


Ia memasukkan kata sandi nya, setelah terbuka ia segera masuk dengan sempoyongan dan bau alkohol juga menguar dari tubuhnya. Ia menangis di sebuah club sambil menghabiskan waktu nya disana untuk minum seorang diri.


"Kenapa harus kehiduoan seperti ini yang aku lalui? Kenapa harus semenyakitkan ini." kekehnya namun air matanya kembali menetes diselingi tawa kacaunya.


"Kenapa? Kenapa? KENAPA????" teriak nya dengan kencang sambil membanting sebuah gelas kaca. Ia mengambilnya hendak mengarahkan ke sisi tangannya. Ia akan memotong urat nadinya agar bisa segera berjumpa dengan anak dan istrinya.


Keadaannya dua tahun yang lalu kembali mendominasi pikirannya. Ia berteriak kencang lalu mengacungkan pecahan tersebut tinggi-tinggi hendak mengarahkan pada nadinya. Namun tertahan saat seseorang memeluk tubuhnya dari belakang sambil mebisikkan kalimat yang mampu membuatnya terperanjat antara ia berhalusinasi atau ia sudah gila.


"Kalau kamu mati, lalu aku akan hidup bersama siapa?" tanya suara tersebut dengan pelan.


Pecahan kaca itu pun jatuh dari genggamannya. Ia mencoba menampar pipinya agar ia tau apakah ia sudah pada tahap yang serius.

__ADS_1


Belum sempat ia melakukan aksinya, Syeilla melepas pelukannya dan beralih ke arah depan. Mata mereka bertatapan dengan sempurna.


"Aiden memejamkan matanya dengan erat, jika ini mimpi ia tidak ingin terbangum lagi dari tidurnya.


"Sayang..." bisik Syeilla dengan lembut disela usapan kecilnya.


Aiden segera membuka matanya dan sosok yang sempat ia pikir sebagai halusinasinya masih beridiri tegak di depannya.


"Ini, aku, apa bermimpi? Tanya nya kembali seolah belum puas.


"Sayang.. Ini aku, istrimu." bisik Syeilla dengan lembut.


❤❤❤❤❤


**Cieee yang senyam senyum...


Di komen aja kali senyum nya...

__ADS_1


Kenapa pertemuannya nggak dramatis???


Karena ini bukan kisah dramatis. Capek buat cerita dramatis wkkwkw**


__ADS_2