
Zia menunggu dengan sabar di tempat yang Elka sebutkan. Ia sudah berada disana satu jam namun Elka tidak kunjung datang. Lelaki itu benar-benar minta dihajar. Zia komat kamit dengan kesal, seolah tersadar mungkin saja ia hanya dikerjai oleh Elka. Dengan marah Zia beranjak dari sofa dan hendak berlalu namun satu sosok berdiri di belakangnya menatap dengan mata sendu...
Suara Zia sampai tercekat, hingga tubuhnya mundur satu langkah, apa ia sedang berhalusinasi karena terlalu merindukan sosok itu.
"Zia." panggil Ariel dengan napas memburu.
Suara nya terdengar jelas di telinga Zia dan itu artinya ia sedang tidak berhalusinasi.
"Apa, apa kau ini nyata?" tanya nya dengan gugup.
Ariel terkekeh dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kau pikir aku sebuah kloning?" sambil merentangkan kedua tangannya dan Zia segera berhambur kepelukan Ariel sambil menangis. Ia tidak peduli jika akan menjadi pusat perhatian. Lagi pula siapa yang peduli.
"Ssttt jangan menangis." Ariel mengusap rambut lembut Zia sambil menitikkan air mata. Ia pikir sudah terlambat.
"Kau juga menangis." ejek Zia yang masih mengusap air matanya.
"Aku menangis karena bahagia bisa kembali bertemu denganmu."
"Ayo kita ke tempat yang lebih tenang." ajak Ariel karena di sana mereka sudah menjadi pusat perhatian.
Ariel menggandeng tangan Zia dengan mesra dan membawanya ke sebuah Taman Hermitage, sudut romantis terbaik di pusat kota Moscow.
__ADS_1
Ariel dan Zia berjalan menelusuri taman tersebut sambil bwrga dengan tangan. Banyak cerita mengamir dari keduanya. Tentang keri duan masing-masing dan mengenai cinta mereka.
Ariel membawa Zia kepelukannya. Saat ini hanya satu hak yang ia takutkan dalam hidupnya, bagaimana jika saatnya tiba Zia akan membencinya. Ia sungguh tidak sanggup jika harus kembali berpisah dengan Zia, wanita yang selama ini menduduki hatinya.
"Kenapa malah melamun?" tanya Zia saat keduanya sudah duduk di sebuah kursi taman yang tersedia disana.
"Aku hanya sangat merindukanmu Zi, dan itu semua membuatku gila." ujar Ariel dengan mata sendu.
"Kau tau, bahkan kau akan tetap menjadi lelaki satu-satunya yang akan aku jadikan suami kelak." kekeh Zia yang disambut tawa bahagia Ariel.
"Kalau begitu kita sepakat."
""'''""""""
Ting ting
Suara notifikasi ponsel keduanya berbunyi.
Di sana tertera nama Elka, Zia dan Ariel segera membuka pesan tersebut dan tersenyum setelah melihat isinya.
"Ah pria tua itu ada gunanya juga." kekeh Zia terkikik geli sedangkan Ariel menganguk setuju mengenai ucapan Zia.
"Kau benar Zi, terkadang dia berbakat menyatukan orang-orang seperti kita ini."
__ADS_1
"Terima kasih Elka." bisik keduanya pelan.
Elka menghela napasnya dengan lega dan sekarang tinggal satu masalah. Kapan dia akan melepas gelar kehormatan yang sudah ia sandang selama tiga tahun. Jomblo, salah satu kata terlucknut dalam hidupnya.
Ia melangkah pergi meninggalkan taman tempat kedua insan sedang memadu kasih atau mengenang masa kejayaan mereka berdua.
Bruk
Elka menabrak seorang gadis bertubuh kecil yang menatapnya dengan garang. Jika diperhatikan dari penampilannya, wanita itu bukan penduduk asli Rusia. Mungkin mereka sama-sama dari Indonesia. Namun satu yang luput dari perhatian Elka, jantungnya berdetak dengan menggila seolah berkata bahwa gadis itulah yang akan mencopot gelar kehormatannya.
"Jalan yang benar dong." bentak gadis itu dengan kesal.
"Kau juga jalan yang benar." cicit Elka.
Gadis itu segera pergi meninggalkan Ariel yang sedang kebingungan.
"Ahhhh ada apa dengan jantungku, apa aku mengidap penyakit mematikan." panik Elka dan segera pergi dari sana sambil memegang dadanya dengan erat.
❤❤❤❤
Siapakah wanita yang akan melengserkan gelar kehormatan Elka???
Jomblo, wajah tampan.
__ADS_1
Dasar Elka.