LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Season 4 (Bab 11)


__ADS_3

ELENA berjalan mondar mandir seperti setrikaan, ia masih bingung apa yang harus ia katakan pada Altaf. Apa dia harus menjawab pernyataan Altaf kemarin malam. Namun ia takut melabuhkan hatinya pada orang yang salah namun anehnya mengapa jantungnya berdetak begitu kencang saat bersama Altaf.


“Apa yang harus aku lakukan ya, apa aku tolak saja ya." Elena sibuk berperang dengan pemikirannya sendiri.


Di lain tempat Altaf sedang tertawa kencang mengingat bagaimana semalam ia menyatakan perasaannya pada Elena dan yang membuat Altaf tertawa bukan dirinya melain Elena yang bagai cacing kepanasan.


"Hahaha Elena Elena kau pikir aku sudi menyatakan perasaanku jika bukan karena balas dendam ini." ucapnya sarkastik.


"Meskipun langit jadi bumi aku tidak akan pernah mencintaimu karena hanya ada dua hal yang aku inginkan darimu yaitu penderitaan dan kematianmu Elena hahahahaha." ucap Altaf dan tertawa nyaring.


Ketika kebahagiaan Altaf adalah penderitaan Elena, ia melupakan bahwa sang pencipta adalah sang maha membolak balikkan hati setiap manusia. Hari ini merupakan hari minggu yang artinya Elena bebas dari pekerjaan kantor. Ia akan berjalan-jalan mengingat banyak kejadian tak terduga yang menimpanya akhir-akhir ini dan ia butuh menyegarkan otaknya yang telah terkontaminasi oleh cinta sang atasan.


Dua hari yang lalu setelah kejadian penyataan dari Altaf Elena mencoba sebiasa mungkin saat bertemu dengan atasannya itu, meskipun terkadang saat berpapasan langsung jantung elena langsung berdetak kencang seperti habis lari maraton.


"Selamat pagi pak." ucapnya se profesional mungkin.


"Pagi Elena, bagaimana apa aku sudah bisa mendapatkan jawaban." ucap Altaf sambil tersenyum tampan.


"Ehem itu pak saya hanya ingin menyerahkan beberapa dokumen penting ini." ucap Elena gugup ia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ckck tidak usah mengalihkan pembicaraan El, jadi bagaimana jawabanmu? Atau kau tidak ingin menjawabnya disini. Kau mau kita pergi lagi." ucap Altaf menggoda Elena sambil menaikkan alisnya.


"Eh tidak pak, bukan begitu hanya saja ini di kantor." ucap Elena gugup.


"Ah kau ini baiklah nanti malam kita akan dinner, saya jemput jam 7 malam dan tidak ada penolakan." putus Altaf sepihak sambil mengerlingkan matanya.

__ADS_1


Elena hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat betapa gembiranya Altaf menggodanya.


"Sial, apa tadi aku harus segugup itu bikin malu saja." gerutunya kesal pada diri sendiri.


Pukul 07:10 wib Altaf sudah berdiri dengan gagahnya di depan pintu apartemen Elena dengan segera ia membunyikan bel. Elena segera membuka pintu dan keluar karena malam ini mereka berdua akan makan malam. Sejujurnya Elena sangat deg deg kan terlebih jantungnya selalu berdetak berlebihan saat bersama Altaf.


"Ayo." ucap Altaf dan meraih tangan Elena dan membawanya memasuki mobil mewahnya.


Mendapat perlakuan manis itu Elena sangat gugup luar biasa, tangannya juga menjadi sangat dingin padahal cuacanya tidaklah sedingin di korea. Mereka telahsampai di sebuah restoran mewah milik teman Altaf. Begitu mereka memasuki restiran berpuluh pasang mata melihat mereka takjub hingga beberapa gadis tak berkedip memandang Altaf. Mereka terlihat sangat serasi. Dan ada juga beberapa dari mereka mencibir Elena.


"Tuan Altaf, mari ikut saya." ucap seorang pelayan pria disana sambil berjalan keruangan VIV yang sudah di sediakan oleh temannya.


"Ya Tuhan tempat ini bagus sekali." ucap Elena dengan kagum.


"Kau menyukai tempat seperti ini." tanya Altaf memandang Elena sambil


"Ia saya sangat menyukai desainnya. Saya pernah bermimpi memiliki desain seperti ini ketika sudah berkeluarga nanti." ucapnya antusias.


"Kita akan memilikinya nanti." ucap Altaf dan berhasil membuat mata Elena melotot.


"Mak.. Maksud bapak apa?"tanya Elena gugup.


"Ckck aku bahkan sudah menyatakan perasaanku padamu tapi kau masih memanggilku dengan 'pak' kau ini benar-benar. Panggil saja aku Altaf." decak Altaf kesal.


"Hehe maafkan saya El, hanya belum terbiasa saja." ucap Elena dengan cengiran khas nya.

__ADS_1


"Mulai sekarang kau harus terbiasa memanggil namaku Elena apalagi jika nanti kau menjadi istriku." ucap Altaf asal sehingga membuat Elena tersedak dengan air ludahnya sendiri.


"Al jangan bercanda, kau membuatku sampai tersedak begini tau!" dengus Elena.


Melihat itu Altaf jadi gemas sendiri dibuatnya dan mencubit kedua pipi Elena.


"aw hentikan El, sakit." Elena melindungi wajahnya dari tangan jahil Altaf.


"Habis kau sangat menggemaskan jika sedang kesal seperti itu. Jangan pernah merajuk dengan lelaki lain, mengerti!" tegas Altaf sambil menyelipkan anak rambut Elena.


Hati Elena terasa begitu bahagia dan hangat mendapat perhatian sedemikian dari Altaf, ia sudah lama tak pernah mendapatkan perhatian dari siapapun termasuk keluarganya sendiri. Kini ia sudah memantapkan jawabannya. Setelah selesai makan malam Elena memberanikan diri untuk memberikan jawaban pada Altaf.


"Terima kasih karena sudah membawaku ke tempat seperti ini." ujar Elena memulai pembicaraan.


"Kau tau El, ini belum seberapa dibandingkan dengan keindahan hatimu." ucap Altaf dengan culas.


"Aku akan menjawabnya dan jawabanku adalah iya." ucap Elena dengan sekali tarikan napas. Mendengar itu Altaf segera menghampiri Elena dan memeluknya.


"Terima kasih karena sudah mempercayakan hatimu padaku." Altaf tersenyum tepatnya senyuman sinis.


Elena hanya menganguk dan membalas pelukan Altaf dan kini mereka sudah resmi pacaran. Mereka berdua sangat bahagia namun dalam konteks yang berbeda. Elena bahagia karena sekarang ia mempunyai seseorang seperti Altaf yang begitu perhatian padanya meskipun terlihat cuek dan dingin.


Berbeda dengan Elena, Altaf bahagia karena rencananya akan segera terlaksana.


"Kena kau." ucapnya hampir seperti bisikan dan menyeringai misterius.

__ADS_1



-------


__ADS_2