
Alya segera pulang tanpa menunggu Cally selesai membeli buku. Ia menyetop taksi yang lewat di depan toko tersebut yang dekat dengan jalan raya. Dirga hendak mengejarnya. Namun, Cally sudah selesai memilih buku dan menanyakan keberadaan Alya padanya.
"Aku udah selesai, kamu lihat Alya nggak sayang?" tanya Cally sambil celingak celinguk.
Dirga merasakan sudut bibirnya sedikit mengering. Ia menjawab dengan sedikit ragu.
"Alya tadi izin pulang duluan, katanya ada keperluan," ucap Dirga.
Cally menganguk paham, mereka berdua segera kembali ke rumah. Diperjalanan, Dirga tidak berhenti memikirkan Alya. Gadis itu sudah membuatnya merasakan hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kamu kenapa?" tanya Cally saat Dirga hanya diam di mobil. Sepatah kata pun tidak terucap dari mulutnya.
"Ah, nggak kenapa-napa kok, cuma lagi nggak enak badan kayaknya."
"Kamu nanti jangan lupa istirahat, ya." Cally mengingatkan kekasihnya. Cowok itu menganguk patuh sambil tersenyum kecil.
Syeilla dan Aiden yang sedang bersantai di kursi taman halaman rumahnya pun tersenyum melihat keduanya.
"Kenapa pulang terburu-buru?" tanya Aiden.
__ADS_1
Dirga dan Cally mendekati keduanya. Ia menyalami keduanya.
"Dirga lagi nggak enak badan Pa," jawab gadis itu membuat Syeilla menganguk. Wajahnya sedikit khawatir.
"Tante, tidak perlu khawatir, Diega cuma nggak enak badan aja."
"Alya mana?" tanya Aiden saat sosok putrinya tidak kunjung terlihat.
"Loh, bukannya udah pulang duluan, Pa." tanya Cally heran.
Dirga mulai khawatir tapi tidak menunjukkan rautnya pada mereka bertiga. Syeilla sendiri hampir menangis mengetahui putrinya belum kembali. Seharusnya ia minum obat di jam seperti ini.
"Mas, ayo cari Alya." ajak Syeilla dengan wajah khawatir.
"Mas, kalau kamu nggak mau, biar aku yang mencarinya." kesal wanita itu membuat Aiden menghela napas.
Dirga mencoba menenangkan Syeilla dengan mengatakan akan mencari keberadaan gadis itu.
"Ma, biar Dirga yang mencari Alya, Mama tetap di rumah," ucap Cally menenangkan Syeilla.
__ADS_1
Wanita itu menganguk sembari menunggu dengan cemas. Aiden melihat wajah istrinya yang seperti takut akan sesuatu. Tapi ia tidak tahu apa yang ditakuti istrinya.
Di lain tempas, Dirga menyusuri ruas jalan untuk mencari Alya. Ia mengambil ponselnya dan memanggil Alya. Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Ia memukul setir mobilnya kasar.
"Lo di mana sih? Jangan buat gie khawatir begini." gumamnya. Matanya terus menatap ke jalan. Hingga ia berhenti di sebuah taman kota. Awalnya dia hanya ingin berhenti sejenak. Lalu sosok yang ia cari sedang berada di taman bersama pria lain. Tangan Dirga mengepal erat mengetahui hal tersebut. Ia segera keluar dari mobil dan membanting kasar pintunya. Dengan langkah lebar, ia menghampiri Alya dan Nevan yang sedang bercanda.
"Lo masih bisa ketawa di sini sama dia!" tunjuk cowok itu tepat di muka Nevan. Cowok yang diketahui memiliki selera humor itu mendadak merasakan tangannya ikutan mengepal.
"Apa, sih? Bukan urusanmu." dengkus Alya membuat amarah Dirga semakin memuncak.
"Lo tahu, orang tua lo khawatir setengah mati karena lo belum pulang!" teriak Dirga tepat di wajah Alya.
Nevan hendak memukul wajah Dirga yang menurut ya sangat kurang ajar. Namun, ditahan oleh Alya.
"Nevan, kita pulang ya." Alya hendak mengenggam tangan Nevan sebelum jemari kokoh itu lebih dulu mengenggamnya.
"Lo! Pulang sama gue," ucapnya tanpa bantahan.
πΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Guys aku sedih ππ ratingku menurun jadi 4,6 hikkkk...
Aku jadi bete up ππ mohon kasih aku rating ya. Cukup dukung aku supaya makin berkarya banyak. Kalau lapar butuh makan. Maka aku butuh rating wkwkwkwkw... Makasih ππ