LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Season 4 (Bab 12)


__ADS_3

Bab 7


Makin Dekat


HARI ini rencananya Elena akan pergi ke panti asuhan bersama teman-temannya namun tidak jadi karena temannya ada urusan mendadak sehingga ia memutuskan akan pergi sendiri. Elena sudah selesai bersiap-siap dan akan segera berangkat namun langkahnya seketika terhenti. Ia tidak bisa menggerakkan kakinya seolah ada yang mengendalikan dirinya. Ia tetap mencoba namun tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan hingga terjatuh dan naas kepalanya langsung terbentur dengan lantai hingga berdarah. Namun karena tekanaannya tidak terlalu kuat lukanya tidak berakibat fatal.


"Lagi-lagi seperti ini." desahnya sambil berdiri dan membersihkan lukanya. Karena rasa pening yang luar biasa Elena mengurungkan niatnya untuk ke panti. Ia segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur hingga ia terlelap.


Kalian bertanya mengapa ia tidak menangis, bukan tidak tapi air matanya telah lama habis hingga untuk menangis pun ia kesulitan. Cobaanlah yang mengajarkan ia menjadi sosok wanita yang kuat. Malam ini Altafian akan datang ke apartemen Elena seperti yang sudah mereka janjikan beberapa hari yang lalu.


Tet.. tet... tet....


Suara bunyi bel terdengar tanpa menunggu lama Elena segera membuka pintu dan tersenyum. "Kau sudah dating." ucapnya antusias.


"Seperti yang kau lihat sweetheart." Altaf mengacak gemas rambut panjang Elena yang tergerai dengan indah.


"Ayo silahkan masuk, maaf ya Al agak sempit sedikit." ucapnya merendah.


"Kalau ini kau bilang sempit lalu ruanganmu di kantor apa namanya? Kau ini ada-ada saja sweetheart." ucapnya sambil melihat-lihat sekeliling.


"Hmm rapi sekali sweetheart."


"Oh iya terima kasih Al. Nyamankan dirimu, anggap saja rumah sendiri." Elena berlalu menuju kamar untuk mengganti bajunya.


Mereka telah berada di apartemen Elena selama tiga jam yang mereka habiskan untuk berbagi cerita. Kadang-kadang tingkah usil Altafian mampu membuat pipi Elena merona bak kepiting rebus seperti sekarang ini.


"Sudahlah Al jangan menggodaku terus. Ya Tuhan aku sangat malu." ucapnya sambil menyerukkan wajahnya ke dada Altaf.


Mendengar itu Altaf menertawakan Elena. "Baiklah aku akan berhenti menggodamu asal beri aku sebuah ciuman." ucapnya frontal pada Elena. Mendengar itu bukannya berhenti pipi Elena tambah merona dan seketika dia mencubit perut Altaf.


"Kau jangan mengusiliku, kau tidak lihat mukaku sudah seperti kepiting rebus." ucapnya sambil membingkai wajahnya dengan kedua tangannya.


Altaf memandang wajah Elena dengan serius "aku serius sweetheart" dia membawa wajah Elena lebih dekat dengan wajahnya ia memandangi Elena dengan penuh kelembutan. Percayalah saat kau dipandang sedemikian kau akan jatuh cinta berkali-kali padanya. Sedangkan yang dipandanginya sudah seperti cacing kepanasan. Jantungnya tak henti hentinya bertalu dengan kencang. Puas memandangi Elena Altaf mendekatkan bibirnya pada bibir Elena dan segera menciumnya dengan penuh kelembuatan. Tak ada paksaan dan nafsu di dalam ciuman mereka. Kegiatan itu berlangsung lama hingga salah satu dari mereka menarik diri karena kehabisan oksigen. Elena menarik napasnya kasar mencari oksigen dengan napas terengah-engah. Sedangkan Altafian hanya menarik napasnya pelan.

__ADS_1


"Bibirmu sangat manis sweetheart." ucapnya dan memandangi Elena dengan intens.


Elena menunduk malu tanpa menjawab ucapan Altaf mengenai bibirnya. Altaf terkekeh melihat respon Elena.


"Apa tadi itu ciuman pertamamu sweetheart." Elena masih terdiam mukanya sangat merah.


"Kau diam artinya iya, wah betapa beruntungnya aku sweetheart." ucapnya dan


mengangkat wajah Elena yang masih setia menunduk.


"Diamlah Al, aku malu." akhirnya suara Elena keluar juga.


"Kau harus terbiasa sweetheart karena mulai hari ini kau akan sering mendapatkannya." Altaf mengerlingkan matanya pada Elena seketika Elena melototkan matanya dan memukul dada bidang Altaf sambil menggerutu kesal dan tersenyum.


Ia merasa begitu bahagia mendapat perlakuan manis dari Altaf. Apalagi saat mereka berciuman Altaf sangat lembut memperlakukannya bahkan tak ada nafsu disana ia makin jatuh pada pesona seorang Altaf. Elena merasa ia telah melakukan hal yang tepat yakni menjatuhkan hatinya pada Altaf. Menurutnya Altaf adalah sosok yang selama ini ia cari. Sosok yang akan terus mencintainya meski dunia menghujaninya dengan kebencian. Kabar bahagianya mereka juga sudah resmi pacaran semenjak seminggu yang lalu.


"Ya Tuhan apakah dia jawaban atas doa-doaku selama ini" ucapnya bahagia.


Di tempat lainnya. Altaf sedang bercengkrama dengan keluarganya."Jadi kapan lagi kamu akan membawa Elena kemari Al." ucap mommy nya kepo.


Bagaimana tidak bosan, yang ada dimulut mommy nya hanya Elena, Elena dan Elena. Ia saja sampai bosan mendengarnya. Sebenarnya siapa yang anak kandung mommy pikirnya.


"Kamu selalu bilangnya nanti. Nantinya itu kapan Al mommy kan kangen sama Elena. Oh my god entah ini kebetulan atau bukan kamu sadar gak sih Al nama kalian hampir sama." ucap mommy nya antusias.


Altaf memutar kedua bola matanya.


"Mom itu hanya awalan lagian aku A dia E apanya yang sama." ucapnya gemas.


"Susah ngomong sama kamu. Daddy lets go." ucapnya pada suaminya sambil berlalu dan meninggalkan Altaf yang masih bengong di tempatnya.


"Maaf son daddy tidak ingin tidur di luar." ucap daddy nya dengan menyebalkan dan berlalu pergi menyusul istri tercintanya.


"Cih wanita itu, belum apa-apa sudah mulai menggantikan posisi Seilla di hati mommy." ucapnya geram.

__ADS_1


Dengan kesal ia menaiki tangga demi tangga menuju kamarnya. Ia malas memikirkan gadis yang ia katakan sialan itu dan segera beranjak tidur karena besok ia harus bangun cepat.


Keesokan harinya...


"Pagi sweetheart." sapa Altaf dan mengecup kedua pipi Elena.


"Pagi juga bos." jawab Elena sembari tersenyum.


"Sudah siap bahan rapatnya?" tanya Altaf pada Elena yang sedang serius mengetik sesuatu pada komputernya.


"Semua sudah beres pak." ucapnya sambil melanjutkan aktifitasnya yang tadi sempat tertunda.


Mereka pun segera menuju ke ruangan rapat karena pagi ini mereka akan mengadakan rapat penting mengenai produk baru yang akan mereka keluarkan. Selain itu mereka juga membahas tentang pasar-pasar apa saja yang akan menjadi target mereka. Karena untuk produk yang akan mereka keluarkan cukup menguras uang perusahaan. Maka dari itu Altaf selaku CEO perusahaan tersebut harus bekerja ekstra untuk menunjang keberhasilannya.


"Elena siapkan semuanya sesempurna mungkin. Saya tunggu laporannya paling lambat jam lima sore hari nanti." ucapnya sambil berlalu ke ruangannya.


Elena pun segera menyusun dan menyiapkan laporan tersebut dengan sangat teliti. Mengingat ini sebuah proyek besar, sedikit kesalahan saja maka semua akan hancur. Karena setelah ini mereka akan mememui para investor untuk membahas proyek bernilai triliunan yang akan dilakukan dua bulan dari sekarang.


Tok


Tok


Setelah mendapat izin Elena segera masuk ke ruangan Altaf dan menyerahkan lapotan yang sudah ia susun sesempurna mungkin. Karena seorang Altaf tidak pernah menerima kesalahan dalam bentuk apapun.


"Pak ini laporan hasil rapat tadi pagi." ucap Elena sopan.


"Baiklah. Emm apa kau ada waktu nanti malam." tanya Altaf menatap serius manik Elena.


"Emm tidak ada pak, ada apa?" tanya Elena penasaran.


"Kalau begitu nanti malam ku jemput jam tujuh ya. Kita akan makan malam di rumah mommy." jelas Altaf dan Elena hanya menganguk ragu.


Setelah pembicaraan itu Elena keluar dari ruangan Altaf dan segera melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


------



__ADS_2